The Mistress

The Mistress
Masih Sama



Patricia menatap putranya tidak senang, "Rea, masuklah ke mobil lebih dulu, Mommy akan menyusul." perintah Patricia.


Rea menurut, tidak ingin mengganggu pembicaraan mereka, meski hal itu tentang dirinya. Di koridor menuju garasi, dari jauh Rea melihat Camila yang baru saja keluar dari dalam rumah.


Rea memperlambat langkahnya, tidak berniat bertemu sapa dengan gadis yang memiliki paras bagai bidadari itu. Rea berbalik, memilih menunggu di sebuah kursi panjang yang tidak jauh dari sana.


Namun, langkah gadis itu terhenti karena seseorang tiba-tiba berdiri tepat di depannya, menghalangi langkahnya.


Rea mendongak, karena orang itu jangkung dan menjulang tinggi di depannya. Begitu melihat wajah orang itu, manik Rea membelalak. Jantungnya berdetak kencang, dan kilasan-kilasan masa lalu memenuhi pikirannya. Rea menundukkan wajahnya, tidak ingin menatap Adam berlama-lama.


Ya, pria itu adalah Adam, orang yang paling Rea takuti, namun juga merupakan orang yang ingin dia lihat sejak tadi pagi.


"Jangan menghalangi jalanku!"


Masih sama seperti dulu, cara Adam melihatnya masih tajam dan tidak bersahabat. Rea yang tidak ingin membuat Adam marah, segera menggeser tubuhnya, dan memberi jalan bagi Adam.


Namun, sepertinya itu tidak cukup. Adam tak kunjung pergi dan malah memindai gadis yang hanya setinggi dadanya. Wajah Rea yang tidak banyak berubah, wajah polos dan lugu itu masih melekat erat. Adam tersenyum sinis, masih memandang rendah gadis itu.


"Ternyata kau begitu hebat dalam bersandiwara. Bisa-bisanya kau membuat orang tuaku membiarkanmu tinggal di sini dan menikmati harta kekayaan kami!"


Ulu hati gadis itu terasa sakit ketika mendengar kalimat telak itu. Rea tidak tahu mengapa dirinya begitu sensitif, padahal sebelumnya Bi Molly sering mengatakan hal seperti ini, bahkan lebih parah lagi.


Mata Rea panas, di pelupuk matanya sudah menggenang air mata yang siap membasahi pipinya. Namun Rea menahannya, rasanya malu jika ia menangis di hadapan Adam. Yang ada pria itu akan semakin senang menindasnya.


"Aku tidak seperti itu!" ingin sekali Rea membantah Adam. Namun suaranya tercekat, terasa sulit untuk mengatakan sepatah kata pun sulit rasanya.


Adam masih sama seperti Adam yang dulu. Mungkin parasnya semakin mempesona, tetapi sikap pria itu bagaikan api yang siap membakar siapa pun.


"Kenapa? Kau tidak berani membantah ucapanku?" Adam terkekeh, "Tentu saja. Karena apa yang kukatakan benar bukan? Kau di sini karena mempunyai rencana busuk pada keluargaku. Dan dulu, kau memanfaatkan keadaanmu untuk menarik simpati Mommy-ku!" tuding Adam terang-terangan.


"Itu tidak benar!" Rea menggeleng.


"Ucapanku tidak pernah salah!" balas Adam.


Rea menggeleng, dia tidak tahan berada di sini lagi, atau Adam akan semakin menyakiti perasaannya merajalela.


Gadis itu akhirnya berlari, meninggalkan Adam. Rupanya dia bertemu Patricia yang sudah datang menyusul. "Rea, kenapa kau kembali?"


Sebelumnya Rea sudah menghapus air matanya dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


"Mom, kepalaku sedikit pusing. Aku ingin istirahat di kamar hari ini. Boleh?" ucapnya.


Patricia berubah menjadi cemas, "Kepalamu sakit? Mommy akan panggil Dokter Richard." ucapnya.


Rea segera menggeleng, "Tidak usah Mom. Rea hanya sakit kepala biasa. Istirahat sebentar, sakitnya akan hilang." Rea berdalih.


"Ya sudah, kalau begitu istirahatlah. Mommy akan pergi sendiri."


"Ya Mom. Hati-hati di jalan."


"Of course." Patricia mengecup kening Rea, sebelum pergi.


Setelahnya, Rea masuk ke dalam kamar, kemudian mengambil sebuah tas ransel kecil dan mengisi tas itu dengan beberapa pasang baju, serta barang-barang penting.


"Aku harus pergi, atau keluarga ini akan kacau karenaku." lirih Rea.