
"Jangan membela anak bodoh itu Rea. Aunty tahu betul bagaimana sifat Adam. Dia sangat suka membuat keributan sejak kecil."
"Asal kau tahu, sejak ia menginjakkan kakinya di dunia sekolah, hampir setiap harinya aunty mendapatkan laporan dari gurunya. Bukan karena prestasinya, tadi kenakalannya, yang suka mengganggu teman-temannya." Patricia menggelengkan kepalanya ketika mengingat masa-masa itu.
"Pasti kau berpikir kami tidak menghukum Adam bukan?" Patricia menebak isi pikiran Rea yang memang benar begitu.
Rea mengangguk, mengiyakan tebakan wanita itu.
"Kamu salah sayang, entah sudah berapa kali Adam dihukum akan setiap kesalahannya. Tapi memang anaknya yang sudah keras kepala. Adam tidak pernah jera."
Rea mendengar cerita Patricia, tanpa harus menanggapi seperti apa. Karena Rea saja masih bingung, kenapa dia tiba-tiba ada di istana ini mendengar cerita pemilik sekolahnya tersebut.
"Karena ceritaku kau sampai berhenti makan. Lanjutkan makannya, nanti kita lanjut cerita lagi." ucap Patricia dengan senyum menawannya.
Rea mengangguk, meski sebenarnya dalam hati ia cukup terkejut. Saat pertama kali melihat Patricia, Rea menebak bahwa wanita paruh baya itu galak dan bersikap ketus padanya. Patricia memiliki mata yang sama seperti Adam, tajam dan menusuk. Tetapi ternyata, Rea salah menilai. Patricia adalah sosok wanita ramah dan keibuan.
Tidak lama kemudian, Adam mendatangi ruang makan. Anak muda itu sudah berganti baju menjadi lebih santai. Masih dengan sorot mata tajamnya pada Rea, Adam duduk di sebelah Patricia.
Pelayan khusus Adam entah muncul dari mana, segera menyiapkan piring dan makan siangnya.
"Kenapa anak miskin ini di sini Mom?" ucap Adam tiba-tiba, membuat Rea yang sedang makan tiba-tiba berhenti. Menatap Adam dan Patricia bergantian.
"Adam!" Patricia menyela.
"Anak miskin ini pantasnya di belakang, bukan di sini." ucap Adam tanpa perasaan lagi.
Makanan yang baru saja ke mulut Rea, terasa sulit ditelan setelah mendengar ucapan itu.
"Adam! Jangan sampai Mommy marah padamu!" ucap Patricia yang mulai marah.
Adam memutar bola matanya, tidak menghiraukan kemarahan sang ibu.
"Sayang, jangan dengarkan Adam. Dia memang sedikit bodoh." Patricia menenangkan Rea.
***
"Pakai ini!" Adam melemparkan sebuah paper bag hitam di hadapan Rea. Rea menatap Adam bingung.
"Jangan melihatku bodoh! Cepat ambil dan pakai!" perintah Adam.
Rea menggeleng, gadis itu ingin pulang sejak tadi karena hari sudah hampir menjelang malam. Setelah makan siang tadi, Rea berniat pulang tetapi Adam malah membawanya ke kamarnya dengan paksa.
"Adam, ibuku pasti mencariku. Biarkan aku pulang." bukannya menurut, Rea malah berdiri, ingin keluar dari kamar Adam.
"Ck. Mommy sudah menghubungi ibumu dan mengatakan kau di sini!" ucap Adam kesal.
Rea cukup terkejut, dari mana Adam tahu nomor telepon ibunya. "Jangan melamun, cepat pakai!" bentak Adam.
Rea akhirnya menurut, gadis itu mengambil paper bag itu lalu membawanya ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, Rea keluar dari kamar mandi. Cukup lama ia di dalam sana, dan mungkin tidak akan keluar jika saja Adam tidak menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Gadis itu keluar dengan sebuah dress yang cukup terbuka. Gaun hitam selutut, dengan model bahu terbuka, memamerkan bahu mulus nan putih gadis itu.
"Adam, gaun ini sangat tidak nyaman, kulepas saja ya." Rea menggunakan seragam sekolahnya menutupi bahunya. Sebenarnya gaun itu tidaklah terbilang seksi, tetapi karena Rea yang terbiasa memakai pakaian tertutup, membuatnya tidak nyaman dan terlihat berbeda dari biasanya.
"Adam?"
Yang dipanggil malah melamun di sana, memandangi ciptaan Tuhan yang paling indah.
"Adam!"
Adam tersadar, segera menetralkan wajahnya, "Awas saja kalau kau berani membukanya!" ancamnya, kemudian melemparkan sebuah sling bag mahal, "Pakai ini! Jangan membuatku malu nanti!"