The Mistress

The Mistress
Episode 32



Bangun dari tidurnya, wajah Rea begitu cerah dan ceria. Sambil bersenandung ria, gadis itu memulai kegiatannya seperti biasa. Rea teringat tadi malam, momen dimana hubungan yang baik dimulai antara dirinya dengan Adam.


Gadis itu begitu senang, karena akhirnya Adam sudah menerimanya di keluarga ini. Entah apa yang merasuki Adam, Rea tidak peduli. Yang penting Rea sangat bersyukur akan hal itu.


"Pagi Mom." Rea mencium pipi Patricia begitu sampai di meja makan. Semua anggota kelurga sudah ada di sana, termasuk Adam yang terlihat gagah dengan setelan kemeja yang pas membungkus otot-otot tubuhnya.


"Rea, kau akan tetap bekerja hari ini? Tidak ingat kalau kita akan memilih gaun pengantin Kakak hari ini?" tanya Claudia.


"I'm so so sorry Kak Clau. Hari ini Rea harus menghadiri meeting dengan klien dari Jakarta. Kalau sempat, Rea pasti datang menyusul." ucap Rea penuh rasa bersalah.


Wanita dengan model rambut sebahu itu tersenyum lesu, "Baiklah. Tapi janji, kau harus datang."


"Siap Kak. Rea janji."


"Kak Adam mau kemana?" Rea tidak bisa mengabaikan kehadiran Adam di sini.


"Sayang, mulai sekarang Adam akan menjadi wakil presdir di perusahaan." ujar Abraham.


Rea tersenyum, "Benarkah?" gadis itu menatap Adam, layaknya anak kecil Rea begitu ceria.


Adam mengangguk samar disertai senyum manisnya.


Patricia menepuk pundak Adam, "Kenapa tidak dari dulu kau begini Adam? Asal kau tahu, Mommy sangat mendambakan suasana seperti ini di rumah ini. Tapi karena sifatmu yang terlalu egois dan semena-mena, semuanya hanyalah angan bagi Mommy." tutur Patricia.


"Tapi sekarang Adam tidak begitu lagi Mom." sanggah Adam.


"Yah, semoga ke depannya kau tetap seperti ini."


***


Kening Adam berkerut, "Kenapa kalian mengekang Rea Mom?" sanggahnya.


Patricia menggeleng, "Kami tidak mengekang Rea Nak. Tetapi Rea sangat berharga bagi kami. Rea sangat polos dan lugu, Mommy takut orang lain memanfaatkan keluguannya."


"Lebih berharga mana, Rea atau aku?" Adam menatap intens sang ibu.


Cukup lama mereka bertatapan, "Apa maksud pertanyaanmu? Jangan bilang kau cemburu pada Rea?"


"Aku rasa semua anak akan cemburu jika melihat ibu kandungnya lebih perhatian pada orang lain." ujar Adam.


Patricia geram, ia kemudian mengetuk kepala Adam, "Jadi kau mau Mommy perlakukan sebagaimana Mommy memperlakukan Rea?"


"Baiklah. Kalau begitu mulai besok kau harus ikut belanja dengan Mommy, ikut arisan sosialita dan menemani Mommy ke salon." cecar Patricia.


"Mom, aku bukan perempuan."


"Tapi kau bilang, ingin diperlakukan seperti Rea!"


"Tapi tidak begitu...."


Patricia memukul bahu putra bungsunya, "Sudah-sudah. Kau ini masih saja cemburu pada anak malang itu. Rea itu masih seperti anak kecil bagi kami, jangan coba-coba cemburu pada anak kecil. Ingat umurmu!"


Adam tidak tahu ternyata betapa terjaganya Rea oleh kedua orang tuanya. Rea bagaikan permata berharga yang pantang disentuh oleh sembarang orang.


Entah apa yang Rea lakukan, membuat kedua orang tuanya jatuh hati sedalam itu padanya. Dia saja yang anak kandung sangat jarang mendapat perlakuan seperti itu. Adam merasa dianaktirikan oleh orang tua kandungnya sendiri.