
Meski hidup Rea sudah menjadi lebih baik, tinggal di rumah megah serta semua kebutuhannya selalu terpenuhi. Namun, itu semua tidaklah mudah bagi Rea.
Sebagian dari keluarga Ainsley, masih belum menerima Rea sepenuhnya menjadi bagian dari keluarga ini. Terutama Bibi Molly, adik perempuan Abraham yang menolak keras Rea menjadi putri angkat Abraham dan Patricia.
Selama dua tahun ini, wanita itu selalu menyindir, bahkan mencaci Rea di setiap pertemuan. Rea tidak bisa melawan, karena dia terlalu takut pada wanita itu.
Seperti ucapan Patricia, Rea terus menempel padanya selama di pesta. Meski begitu, Rea tetap takut ketika Bi Molly menatapnya sengit sewaktu Abraham memperkenalkannya di depan para koleganya.
"Patricia, ternyata kau tidak salah memilih gadis manis ini menjadi putrimu." sanjung salah seorang teman Patricia.
Patricia terkekeh, "Tentu saja. Rea dibesarkan oleh ibu yang luar biasa."
Inilah yang membuat Rea tetap bertahan di keluarga Ainsley, meski banyak yang menentang kehadirannya. Patricia selalu menghargai dan tidak pernah berniat menggantikan mereka dari hati Rea.
Perbincangan itu rupanya didengar oleh Bi Molly. Dan disaat teman Patricia pergi, Bi Molly mengambil kesempatan itu untuk menyanggah Patricia.
"Aku harap semoga kau sadar kalau anak ini tidak sepolos yang kau kira." ucap Bi Molly pada Patricia terang-terangan, di hadapan Rea.
"Apa maksudmu Molly?" Patricia jelas tidak suka ucapan itu.
"Kau tahu apa maksudku. Dibalik wajah polosnya itu, dia memiliki rencana busuk untuk keluarga ini!" tuding Bi Molly.
Patricia mengangkat dagunya, "Molly, aku menghargaimu sebagai saudari suamiku, tetapi untuk hal ini kau terlalu ikut campur. Rea adalah putri kami, sekali pun dia bukan darah daging kami. Aku dan saudaramu membuat keputusan besar ini matang-matang. Dan kau!" Patricia menunjuk wajah Bi Molly, "Kau tidak berhak menentang keputusan kami!"
"Rea adalah putriku, jangan coba-coba menganggunya atau kau akan menerima akibatnya." cetus Patricia.
Bi Molly menatap Rea dengan marah, "Hanya karena anak ini, kau tega mengancamku?"
"Kau yang membuatku seperti ini Molly. Kau terlalu jauh ikut campur dalam keluargaku!"
Bi Molly tertawa hambar, "Lihat anak sialan. Karena ulahmu, kau berhasil memecah belah keluarga ini. Kau sangat hebat."
"Jangan mencaci putriku. Kalau sampai aku mendengarnya, perusahaan suamimu akan hancur!" tegas Patricia. Setelahnya, Patricia membawa Rea dari hadapannya.
Bi Molly seketika bungkam, dia tidak menyangka Patricia yang dulu selalu baik padanya sanggup mengancamnya hanya karena anak angkatnya itu.
Bi Molly tidak terima hal tersebut. Orang luar seperti Rea sudah merebut sesuatu yang berharga dari keluarga ini.
Bi Molly terus mengikuti pergerakan Rea. Saat Patricia terpisah darinya, disitulah Bi Molly mengambil kesempatan. Rea kebetulan berdiri di pinggir kolam renang, sedang menunggu Patricia menyapa temannya.
Bi Molly berjalan ke arahnya, hanya dalam sekali dorongan, Rea kehilangan keseimbangan dan akhirnya jatuh ke kolam renang. Rea menjadi pusat perhatian semua orang.
Kolam cukup dalam untuk gadis seperti Rea yang tidak terlalu tinggi, sementara Rea juga tidak bisa berenang. Rea pikir dirinya akan mati malam ini.
Namun, sebuah tangan menarik pinggangnya dan menyeretnya ke pinggir kolam. Rea setengah sadar, karena hampir kehabisan oksigen. Sebelum matanya tertutup sempurna, Rea masih sempat melihat penolongnya.
"Adam...." bibir mungilnya memanggil nama si preman sekolah itu.