The Mistress

The Mistress
Episode 44



Semua anggota keluarga telah berkumpul di ruang keluarga, tidak terkecuali Abigail dan calon istrinya juga ada di sana. Abraham memindai anak-anaknya dengan pandangan yang begitu teduh, namun penuh harapan di dalamnya.


Abraham sangat menyayangi semua anak-anaknya. Besar harapannya ketiga anaknya memiliki kehidupan yang damai dan bahagia. Terlebih untuk Rea, meski bukan darah dagingnya, Abraham menyayanginya sepenuh hatinya.


"Terima kasih sudah memenuhi panggilan Daddy untuk berkumpul di sini. Sebelumnya Daddy minta maaf, karena terlalu emosi akan semua masalah yang terjadi. Terlebih untuk Adam, Daddy minta maaf karena sudah lalu tangan padamu." ucap Abraham sungguh-sungguh.


Adam masih dengan wajah datarnya, pandangannya hanya tertuju pada gadis yang tengah menunjukkan wajah polosnya di depan semua orang. Gadis itu telah mencuri seluruh perhatiannya.


"Adam, mengapa Daddy mengumpulkan kalian di sini, itu semua karena kau." tuturnya. "Setelah apa yang kau lakukan pada Rea, sekarang nama baik Rea sudah tercemar. Rea sudah dicap buruk oleh semua orang, termasuk teman-teman Daddy yang sebelumnya sangat ingin menjodohkan anak-anak mereka dengan Rea."


"Dan Daddy yakin, tidak akan ada lagi laki-laki yang mau memperistri Rea. Daddy tidak mau itu terjadi. Dan untuk itu, Adam sebagai dalang penyebab kemalangan yang menimpa Rea yang akan bertanggung jawab untuk semua itu!" cetus Abraham dengan suara lantang.


"Apa yang akan Adam lakukan untuk pertanggungjawaban itu Dad?" tanya Abigail.


Abraham tidak langsung menjawab, ayah dengan tiga orang anak itu menatap putra bungsunya yang juga menatapnya dengan sengit.


"Adam harus menikahi Rea!" ucapnya tanpa bisa dibantah oleh siapa pun.


Rea yang menjadi pemeran utama dalam drama ini melebarkan matanya, keningnya berkerut dalam. Gadis itu amat sangat terkejut akan keputusan ini.


"Dad..." lirihnya.


Namun Abraham seolah tuli, pria itu bangkit dari duduknya, "Daddy tidak ingin mendengar bantahan Adam. Ini sudah menjadi keputusan mutlak dari Daddy dan Mommy!" menatap tajam putranya.


Rea menggeleng, "Daddy belum tanya apakah Rea setuju atau tidak."


Abraham menggenggam kedua tangan gadis itu, "Maaf sweetheart. Daddy melakukan ini deni dirimu. Daddy yakin kau akan bahagia dengan keputusan ini." setelahnya Abraham mengecup kening Rea kemudian pergi meninggalkan ruang keluarga.


Rea mematung, tidak merespon segala ucapan penyemangat dari Patricia yang selalu merangkulnya.


"Mom, Rea tidak mau." air matanya berlinang.


Ketika matanya bertemu dengan Adam, Adam memutusnya segera. Kemudian pria itu pergi begitu saja tanpa sepatah kata pun.


Rea sama sekali tidak menyangka Abraham membuat keputusan ini untuknya. Menikah dengan Adam bukanlah jalan keluar untuk menyelamatkan reputasinya yang sudah hancur.


Justru hal itu yang akan membuka jalan menuju neraka baginya. Membayangkan hidup dalam lingkup pria itu setiap hari, hampir membuat dadanya sesak.


"Mom..." isaknya karena Patricia tak kunjung menjawab.


"Jalani saja sayang, semua pasti akan baik-baik saja." hanya itu yang Patricia katakan, pasrah akan keputusan suaminya.


"Tidak mau Mom. Lebih baik Rea tidak usah menikah sama sekali, dari pada harus menikah dengan Kak Adam. Kak Adam jahat pada Rea Mom..." jika sebelumnya Rea tidak berani menyalahkan Adam, kini Rea berani mengatakan hal itu.