The Mistress

The Mistress
Episode 49



Bahkan ketika Rea sudah berjalan begitu jauh, Adam sama sekali tidak berniat mengejarnya. Pria itu berhati dingin, begitu tega membiarkan Rea pergi dalam keadaan seperti itu.


Sedangkan Rea, ia tidak peduli sama sekali ketika orang yang dia lewati melihatnya dengan aneh. Hati gadis itu terluka sangat dalam oleh Adam. Dia ingin pergi, menjauh dari keluarga itu selamanya.


***


Adam sampai ke rumah tanpa Rea bersamanya. Di rumah, Patricia telah menunggu dengan wajah tidak bersahabat. Tentu saja, pemilik butik Carol bukan tidak mungkin tidak menghubunginya dan menceritakan semua yang terjadi selama di butik. Patricia sangat kecewa pada putranya.


"Adam, dimana Rea!" yang dia cari untuk pertama kali adalah putrinya.


Cukup lama Adam menjawab, "Tidak tahu. Dia pergi." ujarnya singkat.


Mendengar itu Patricia cukup marah, "Adam, jangan macam-macam dengan Rea!"


"Dia pergi pergi bersama temannya, Mom tenang saja, dia akan kembali." ucapnya, lalu meninggalkan Patricia begitu saja.


Namun, tidak sesuai dengan ucapannya, Rea masih belum kembali sampai menjelang malam. Hal itu membuat Patricia tidak tenang, dan terus terus mencecar Adam.


"Cari Rea Adam, jangan hanya diam saja di sini! Ponselnya juga tidak bisa dihubungi." sudah berapa kali Patricia mencecarnya sejak tadi.


"Dia sudah bukan anak kecil Mom! Jangan memperlakukannya seperti anak kecil. Sampai kapan pun, anak itu tidak akan pernah dewasa jika dididik seperti itu!" bantah Adam.


Namun tak urung, Adam tetap bergegas mengambil jaket dan kunci mobilnya, untuk mencari gadis itu.


"Jangan pulang jika Rea tidak ditemukan!" pesan Patricia sebelum Adam melajukan mobilnya membelah kota San Fransisco.


Sudah pukul dua belas lewat Rea belum kembali, membuat Adam kesal. Apalagi ketika teringat kata-kata Rea tadi siang.


"Apa dia benar-benar melakukan apa yang dia katakan?"


Adam bingung mau mecari Rea kemana, karena dia juga tidak tahu kemana pergi dan tidak tahu siapa teman-teman Rea.


Adam akhirnya membelokkan mobilnya menuju sebuah pub terbesar di San Fransisco. Dan sangat kebetulan, teman-temannya juga ada di sana.


Drake, Royce dan Nicole, tengah berada di sebuah sofa VIP yang ditutupi oleh sekat pembatas kaca, agar bisa melihat gadis-gadis liar di lantai dansa.


"Hei bro. Kau datang." sapa mereka semua.


"Dimana Smith?" tanya Adam.


"Dia sibuk dengan perusahaannya." jawab Royce.


Adam memperhatikan lantai dansa yang dipenuhi oleh gadis-gadis liar yang menjual tubuh mereka. Namun, satu pun dari mereka tidak menarik perhatiannya.


"Panggil Max kemari!" perintahnya. Salah satu dari sahabatnya melakukannya tanpa menunggu lama.


Tidak lama kemudian, orang yang dipanggil datang ke sana. Max, pemilik pub ini sekaligus juga teman dekat mereka.


"Kali di sini rupanya." Max bersandar di sofa sambil menerima one shoot tequila dari gadis pelayan seksi. Max menyempatkan meremas bokong gadis itu sebelum meneguk minumannya.


"Kenapa pengaturan di pub ini semakin kacau?!" protes Dave.


"Sorry?" Max segera menegakkan tubuhnya.


"Aku ingin pub ini kembali seperti dulu lagi!" itu sebuah perintah yang tidak bisa dibantah.


Dan Max hanya bisa mengangguk, karena Dave adalah salah satu sponsornya yang membuat pub nya ini semakin maju.


"Baik aku akan melakukannya. Sebagai permintamaafku karena telah membuatmu kesal, aku punya hadiah untukmu." ucap Max.


Adam bergeming, dia tidak peduli. "Di kamar atas, ada seorang gadis yang sudah menunggumu. Kau pasti akan sangat menyukainya. Dan aku yakin she is still virgin." ucap Max.