The Mistress

The Mistress
Pengganggu



"Bu... aku datang." Rea menyapa ibunya yang tengah menggoreng ayam di gerai mereka. Ibunya, Elsa Michaela tersenyum pada putrinya.


"Kau sudah pulang? Bagaimana hari ini di sekolah?" tanya Elsa seperti biasanya.


"Menyenangkan Bu." meski sebenarnya tidak begitu adanya.


Rea kemudian memakai apron, tidak ingin membuat ibunya bekerja sendirian. Gadis itu dengan gerakan lincah mulai membantu sang ibu. Sore-sore begini, gerai mereka akan selalu ramai, oleh karena itu kedua orang tuanya harus bekerja cepat.


Mereka tidak menggunakan jasa karyawan, karena mereka masih bisa mengatasi keramaian ini.


"Rea, tolong ambil pesanan pelanggan Nak. Ayah masih harus mengambil stok daging dari gudang." ucap John, cinta pertama gadis manis itu.


Rea mengangguk, "Ya Ayah." gadis itu kemudian keluar dari dapur dan mulai melayani pelanggan.


Rea tidak tahu mengapa, rasanya ia seperti diawasi oleh seseorang. Gadis itu menoleh ke sembarang arah, mencari sosok yang mengawasinya sejak tadi.


Dan benar saja, ketika ia membalikkan badan, manik hijaunya menangkap sosok yang paling dia takuti saat ini. Rea mematung seketika, maniknya terkunci pada mata elang yang siap menerkamnya kapan saja. Apalagi ketika bibir licik itu tersenyum, seolah menertawakan ketakutannya saat ini.


Sosok itu adalah Adam, preman sekolah yang kini telah menjadikannya kacung di sekolah. Pria yang telah membuatnya tertindas hampir setiap harinya. Tiada hari baik selain gangguan dari anak muda itu.


Rea bertanya-tanya, mengapa Adam ada di sini? Dan dari mana Adam tahu gerai ini? Rea menggeleng samar, bagi Adam mencari keberadaannya bukanlah hal yang sulit.


Tapi, apa yang Adam lakukan di sini? Apakah Adam berniat membuat kekacauan di sini?


"Rea?" panggilan ibunya menyadarkan Rea. Rea segera beranjak, tetapi maniknya masih belum lepas dari Adam.


"Iya Bu?"


"Antarkan pesanan ini ke meja nomor delapan." ucap Elsa.


Elsa melihat dari dapur meja nomor delapan, gadis itu terpaku ketika sadar kemana dia akan mengantar pesanan ini.


"Rea?"


Rea tersadar dari lamunannya, "Iya Bu." mengambil pesanan, kemudian berjalan menuju meja dimana Adam duduk.


Ketika dia hampir dekat, Rea sudah merasakan sorotan tajam itu. Oleh karena itu, Rea menundukkan wajahnya.


Setelah meletakkan pesanan, Rea dengan cepat berbalik meninggalkan Adam.


"Tunggu!"


Langkah Rea terhenti, gadis itu memejamkan matanya. Sudah menduga, Adam tidak akan melepaskannya begitu saja. Gadis itu, akhirnya terpaksa membalikkan tubuhnya.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" ujar gadis itu dengan sopan. Terpaksa Rea membalas tatapan Adam.


Adam tersenyum, senyum manis namun penuh tipu muslihat. Seolah masih belum cukup menindas Rea di sekolah, Adam juga masih ingin mengganggu kehidupannya.


"Minumanku?" ucapnya singkat.


Rea melihat meja yang memang masih belum tersedia minuman.


"Maaf, saya akan mengambilkannya."


Sebelum, Adam menahannya, Rea cepat-cepat meninggalkannya.


Awalnya, Rea ingin Ibu atau Ayahnya menggantikannya mengantar minuman Adam. Tetapi kedua orang tuanya terlihat sibuk, oleh karena itu, mau tidak mau, Rea mengantar minuman Adam.


"Minuman Anda Tuan." ucap Rea.


"Terima kasih."


"Selamat menikmati."


Brak...


Entah apa yang membuat Rea kehilangan keseimbangan, hingga tubuh mungilnya akhirnya terjatuh tepat di atas meja. Tubuhnya menimpa pesanan Adam, membuat semuanya hancur berantakan.


Dalam seketika, Rea dan Adam menjadi pusat perhatian pelanggan lain. Rasanya, Rea ingin menangis. Dia tidak terjatuh sendirinya, tetapi lelaki di sampingnya menjebaknya.


"Perhatikan jalanmu Nona kecil."