The Mistress

The Mistress
Episode 24



Rea baru saja selesai mandi dan bersiap-siap seperti yang Patricia perintahkan. Layaknya bayi besar, Rea sangat penurut dan melakukan apa saja yang Patricia perintahkan.


Karena Patricia belum juga datang, Rea memilih duduk di kursi santai yang ada di pinggir kolam renang.


"Hai adik kecil." sapaan seseorang mengalihkan Rea. Abigail berdiri di sampingnya, kemudian duduk di kursi santai sebelah Rea.


Rea tersenyum menyapa sapaan Abigail. "Ternyata kau sangat pendiam, persis seperti yang Mommy ceritakan." ucap Abigail.


Rea tidak tahu harus menanggapi seperti apa.


"Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba diangkat menjadi putri Mommy dan Daddy. Tetapi satu hal yang pasti dan harus kau ketahui, aku tidak menolak kehadiranmu di keluarga ini." ucap Abigail tegas, seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Rea.


"So, jangan sungkan padaku, karena bagaimana pun, kau dan aku adalah saudara, meskipun darah yang mengalir di tubuh kita berbeda."


Rea mengangguk samar, tanpa tahu harus berucap apa.


"Katakanlah sesuatu. Kau benci bicara denganku?" tudingnya.


Rea segera menggeleng, "Tidak. Bagaimana aku harus memanggilmu?"


"Kakak. Panggil saja begitu. Atau kau punya panggilan khusus untukku?" ucap Abigail jenaka.


Rea mengangguk, "Baik Kak." untuk pertama kalinya Rea masih kaku dengan panggilan itu.


"Kenapa kau sangat menggemaskan Rea?" ucap Abigail tiba-tiba.


Rea menatap bingung, yang malah membuat Adam semakin gemas. Wajah Rea yang kebingungan memanglah sangat lucu. Mata bulat yang kebingungan berputar seolah memikirkan sesuatu.


Entah sudah berapa kali Rea mendengar perkataan seperti itu. Membuat Rea bingung, apakah kepolosan dan keluguannya ini adalah sebuah keberuntungan?


"Terima kasih, sudah hadir dalam keluarga kami."


Rea menggeleng, "Tidak Kak. Harusnya aku yang harus berterima kasih. Di saat aku jatuh, Mommy dan Daddy bersedia menolongku. Kalian membiarkanku tinggal di sini, bahkan membiayai sekolahku hingga aku sudah lulus. Sampai kapan pun, Rea tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian semua. Dan suatu saat nanti, Rea akan membalas jasa kalian semua." ucap Rea.


Abigail malah terkekeh geli, mendengar gadis pendiam seperti Rea bicara panjang lebar membuatnya begitu senang. Rea sangat lucu, karena terlalu menghayati apa yang dia katakan.


"Cukup menjadi anak yang baik dan manis, maka semua itu akan terbayar." Abigail mengacak rambut Rea gemas.


"Rea sayang." Patricia datang. "Maaf, Mommy membuatmu menunggu lama."


"Abi, Mommy dan Rea akan pergi ke rumah Vima Alice. Kau mau ikut?" ucap Patricia.


"Mau apa ke sana Mom?"


"Mommy diundang Vima untuk merayakan kepulangan Putranya dari Itali. Mommy juga ingin membawa adikmu untuk dikenalkan pada mereka." jelasnya.


Abigail mengangkat alisnya, "Mom, Abi tahu apa rencana Mommy. Pertemuan ini bukan sekedar perayaan."


Patricia tak berkutik setelah mendengar ucapan itu, jalan pikirannya terlalu mudah dibaca oleh Abigail yang memiliki insting yang kuat.


"Abi kenal dengan baik putra Aunty Vima. Anak itu tidak beres, dan bahkan lebih parah dari Adam. Abi harap, Mommy jangan membawa Rea ke sana."


"Lagi pula, bukankah Mommy sudah memutuskan laki-laki mana yang akan menjadi pendamping Rea?"