The Mistress

The Mistress
Perubahan



Semua orang terdiam, mematung melihat pemandangan yang begitu mengejutkan itu. Seorang Adam, yang dikenal dengan sifat angkuh dan dinginnya, dan mereka tahu betapa Adam sangat membenci Rea. Kini, Adam melakukan sesuatu yang tidak terduga.


"Hei, kenapa kau diam saja?" Adam menjentikkan jarinya di depan wajah Rea, membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


Suara Rea tercekat, masih belum bisa menguasai dirinya. Rea tidak tahu mau menjawab apa.


"Ada apa? Ada yang salah? Atau kau tidak mengharapkan kedatanganku?" tanya Adam bertubi-tubi, membuat Rea segera menggelengkan kepalanya.


"Ti..tidak." gadis itu gagap. "A...aku..."


Patricia menepuk bahu Adam, "Kau ini, tentu saja Rea terkejut. Dulu kau sangat jahat dan ketus pada Rea. Tidak heran kalau Rea bingung dengan sikapmu yang tiba-tiba berubah."


Adam mengangkat alisnya, "Benarkah? Tetapi apakah salah jika Adam berubah Mom?"


"No. Justru Mommy malah senang dengan perubahanmu yang sekarang. Tidak ketus dan kasar lagi. Mommy harap kau akan begitu seterusnya." ucap Patricia.


"Iya Mom. Seiring berjalannya waktu, Adam didewasakan oleh keadaan di sana. Sekarang Adam sadar, sifat Adam yang dulu tidak benar." ucap Adam, seolah ia adalah laki-laki yang bijak.


Patricia tersenyum lebar, tidak menyangka putra bungsunya berkata sebijak ini. Wanita itu melihat suaminya, sementara Abraham hanya mengedikkan bahunya, namun turut senang akan perubahan putranya yang nakal.


Malam semakin larut, setelah perbincangan hangat keluarga bahagia itu selesai, Rea masuk ke dalam kamarnya. Sudah pukul dua pagi, tetapi Rea masih belum bisa memejamkan matanya.


Gadis itu masih memikirkan apa yang terjadi sebelumnya. Perubahan drastis Adam mengejutkan batinnya. Rea bertanya-tanya dalam hati, benarkah Adam sudah benar-benar berubah? Atau pertunjukan tadi hanyalah sandiwara semata, untuk memulai rencana buruk untuk dirinya?


Tapi, terlepas dari itu, Rea juga senang jika Adam memang benar-benar tulus padanya. Rea bangun dari tempat tidur karena merasa haus. Melihat gelas di kamarnya kosong, gadis itu memilih turun ke dapur.


"Maaf, aku membuatmu terkejut." ucap Adam dengan suara pelan.


"A..apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanya Rea, meski jantungnya berdetak tidak karuan.


Adam tersenyum, kemudian menunjukkan sebuah kotak dari belakang tubuhnya. "Tadinya aku ingin memberikan ini, hadiah atas pertemuan kita setelah lima tahun. Kupikir kau sudah tidur, ternyata belum." jelasnya.


Mendengar itu, lagi dan lagi Rea terkejut akan sikap Adam. Sejak kapan Adam berubah menjadi sosok yang lembut?


"Aku tidak bisa tidur." jawab Rea.


Adam mengangguk, "Aku juga. Aku ingin menikmati udara malam di balkon kamarku. Mau ikut?" tanyanya.


Rea mengerutkan keningnya, prasangka buruk dan kecurigaan memenuhi kepalanya.


"Kau masih berpikir buruk tentangku? Come on Rea, aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri, tidak mungkin aku melakukan sesuatu yang buruk padamu. Lagi pula aku ingin berbincang dan lebih mendekatkan diri denganmu sebagai saudara." jelas Adam.


Cukup lama Rea berpikir, pikiran polosnya mengiyakan segala yang Adam katakan.


Rea mengangguk, menciptakan senyum manis di wajah pria itu.


"Baiklah. Simpan ini." memberikan kotak coklat dengan desain mewah itu. Rea menurut, menyimpan hadiah itu, lalu mengikuti Adam masuk ke dalam kamarnya yang tidak jauh dari kamarnya.