The Mistress

The Mistress
Episode 51



Adam menyesap bir untuk yang kesekian gelas. Manik pria itu menatap kota malam San Fransisco yang gemerlap dengan lampu-lampu jalanan. Sesekali ia membalikkan tubuhnya, mengawasi gadis yang tengah terbaring lelap di atas ranjang.


Kondisi Rea saat ini tanpa sehelai benang pun, hanya ada selimut yang menutupi tubuh polosnya.


Kehadiran Rea di sana membuat Adam tidak tahan mengabaikannya. Adam mendekati gadis itu, dan duduk di sebelahnya. Tangannya yang tadi mendorong dan menganiaya gadis itu, kini begitu lembut merapikan anak rambutnya. Mengusap pipi yang masih terasa basah oleh air mata yang keluar karena dirinya.


"Kenapa kau selalu menyusahkan?" lirihnya.


Pria itu mengambil gaun minim yang tidak layak pakai dan memakaikannya kembali. Tidak ingin tubuh gadis itu dinikmati oleh pria-pria hidung belang, Adam membalut tubuh Rea menggunakan jaketnya.


***


Adam memasukkan Rea ke dalam mobilnya, tetapi tidak berniat meninggalkan lobi gedung itu. Pria itu memperhatikan Rea intens, setiap sudut wajahnya tidak lepas dari maya elangnya.


Ketika itu, Rea mengerjapkan matanya. Tadinya ia begitu lelap, namun angin malam yang menembus kulitnya mengusik tidurnya.


Wajah tampan itu menyambutnya, Rea mengerutkan keningnya mengingat apa yang telah terjadi. Dan ketika semua ingatan itu kembali, wajahnya berubah menjadi panik. Ia melihat tubuhnya, lalu memeluknya seolah ia kehilangan hartanya yang paling berharga.


"Apa yang Kakak lakukan padaku!" teriaknya pada Adam. Adam tidak menjawab, namun tatapannya masih begitu intens pada gadis itu.


Karena Adam tidak menjawab, Rea semakin histeris. Gadis itu dengan lancang mendorong Adam dan memukuli dada pria itu.


"Kakak jahat! Aku membencimu!" teriaknya histeris.


Rea menangis tersedu-sedu, gadis itu mengira Adam telah melakukan sesuatu yang buruk padanya.


"Bukankah itu yang kau inginkan? Bukankah sebelumnya kau yang melempar tubuhmu padaku hmm? Aku hanya menikmati apa yang kau suguhkan, apa itu salah?" balas Adam telak membuat Rea tidak bisa menjawab.


Hanya karena kesalahannya malam itu, kini Rea benar-benar terjebak akan ulahnya sendiri. Dia tidak bisa membela diri hanya karena kesalahan itu. Dan kini, Adam benar-benar menganggapnya perempuan murahan.


"Kakak jahat!" hanya itu yang bisa Rea katakan. Gadis itu menunduk, merasa dunianya telah hancur. Rea merasa tidak berharga lagi, karena apa yang dijaganya baik-baik selama ini telah direnggut.


Mengabaikan tangisan sendu gadis itu, Adam menyalakan mobil lalu menancap gas menuju rumah.


Sampai di kediaman Ainsley, Rea langsung masuk ke dalam kamarnya. Mengabaikan Patricia yang menunggunya sejak tadi dengan perasaan cemas. Memang tidak sopan rasanya, tetapi saat ini Rea sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun.


"Adam, ada apa dengan Rea? Kenapa pakaiannya seperti itu?" tanya Patricia pada putranya. Tentu Patricia terkejut melihat putrinya memakai pakaian minim yang tidak layak pakai itu.


Adam tidak menjawab, malah menatap sang ibunda cukup lama.


"Mom, aku ingin pernikahan kami dilaksanakan secepatnya." cetusnya.


Patricia mengangkat alisnya, terkejut dan menduga apa yang terjadi pada kedua anak itu.


"Kenapa tiba-tiba sekali? Apa yang terjadi sebenarnya." Patricia memang senang mendengar hal itu. Tetapi dibalik permintaan Adam pasti sesuatu telah terjadi, entah itu baik atau buruk.


"Tidak ada yang terjadi. Bagaimana Mom, apakah kali ini permintaanku bisa dipenuhi?" tanya anak itu dengan wajah datar.


Lihat betapa durhakanya anak itu, bicara pada ibunya saja tidak ada senyum sedikit pun.