
Patricia masuk ke dalam kamar Rea dengan wajah cemas, kala ia melihat kedatangan dokter ke rumahnya. Wanita itu begitu takut akan keadaan putrinya.
Dokter Han, pria berdarah Asia yang merupakan dokter profesional yang sekaligus juga dokter keluarga Ainsley. Sudah bertahun-tahun pria paruh baya itu menjadi dokter kepercayaan mereka, dimulai sejak ia memulai karirnya hingga saat ini.
"Apa yang terjadi pada putriku Han." tanya Patricia begitu Dokter Han selesai.
"Nona tidak apa-apa. Dia hanya demam biasa dan kekurangan nutrisi. Perutnya sedikit bermasalah karena tidak terisi makanan." jelas Dokter Han.
Patricia melihat Rea yang terbaring di atas ranjangnya. Gadis itu menatap kosong, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Dokter Han pulang setelah meresepkan obat untuk Rea. Patricia duduk di tepi ranjang samping putrinya.
"Kau ini kenapa sayang? Kenapa mengurung diri dan tidak mau makan?" tanya Patricia lembut.
Rea tidak menjawab, ekor matanya tertuju pada Adam yang berdiri di sampingnya dan menatapnya tajam. Menyadari dirinya disorot oleh mata yang polos itu, Adam menyingkir.
"Aku pergi." lalu pergi begitu saja.
"Kau punya masalah Nak? Kalau memang begitu katakan pada Mommy, Mom pasti akan menyelesaikannya."
Tidak tahukah Patricia bahwa masalah sebenarnya ada pada dirinya?
"Mom..." suara Rea serak.
"Ya sayang. Katakan. Ceritakan pada Mommy."
"Rea tidak mau menikah dengan Kak Adam." ia sudah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan hal itu.
Patricia bungkam, kini ia sadar bahwa apa yang terjadi pada Rea saat ini disebabkan oleh dirinya sendiri.
"Adam sudah mempercepat tanggal pernikahan kalian. Dan Mom sudah menyiapkan semuanya. Tinggal menunggu kesiapan dirimu sayang." ucapnya membuat Rea terkejut. Tanggal pernikahannya dimajukan?
Patricia mengusap kepalanya, "Mom tahu kami terlalu egois padamu Rea. Tapi kami melakukan ini demi dirimu. Dan yakinlah Nak, kami tidak akan menjerumuskanmu ke dalam penderitaan." setelah mengatakan hal itu, Patricia mencium keningnya lalu membiarkan Rea sendiri.
Rea tersenyum miris di atas tempat tidurnya. Ternyata semua sudah direncanakan. Dan dirinya hanya orang kecil yang tidak bisa membantah perintah mereka.
***
Tiba-tiba saja pintu kamar Rea terbuka dengan kasar, membuat Rea yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi tubuhnya, terkejut.
Adam berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan tajam. Mata pria itu perlahan menjadi sayu. Adam mengunci pintu kamar dan perlahan mendekati Rea.
Pria itu terkekeh, "Kau ingin menggodaku?"
Rea menutup mulutnya ketika aroma alkohol yang menyengat menguar ke dalam indra penciumannya. Pria itu pasti sedang mabuk.
Ketakutan yang luar biasa menghantui Rea. Ia teringat ketika Adam memaksanya malam itu. Adam begitu bringas, menganiaya hingga membuatnya pingsan. Bahkan ketika ia tidak sadarkan diri pun, Adam tetap melakukan dan merenggut kehormatannya.
Adam memindai tubuh Rea, bagaikan singa yang baru saja menemukan mangsa lezat. Rea menyilangkan tangannya di dadanya, ia menggeleng.
"Jangan Kak. Kumohon...." lirihnya penuh permohonan.
"Kau memang benar-benar perempuan murahan. Menggodaku dengan berpakaian seperti ini?"
"Baiklah, sekarang biarkan aku menikmatinya."
Dengan gerakan cepat, Adam menarik Rea ke dalam pelukannya. Dalam hitungan detik bibir Rea sudah tenggelam dalam kelembutan bibirnya.