The Mistress

The Mistress
Kabar Buruk



Plak....


Entah sudah berapa kali tamparan melayang di wajah Adam malam itu. Namun satu hal yang pasti, wajah Adam sudah berbekas kemerahan.


"Bodoh! Siapa yang mengajarimu melakukan hal kotor itu?!" bentak seorang laki-laki paruh baya, yang merupakan Tuan besar di rumah ini.


Abraham Ainsley, pemilik perusahaan mabel dan ritel terkemuka di dunia bisnis. Juga merupakan salah satu orang terkaya di negara ini. Abraham dikenal akan sifatnya yang tegas namun bijaksana. Tetapi tak sedikit pun ketegasan pria itu ditakuti oleh Adam.


Adam memilih bungkam, karena sebenarnya ia pun bingung kenapa dia bisa masuk ke kamar Rea, dan melakukan sesuatu yang buruk.


Bagaimana pun juga, Adam tetap bersalah meski ia sedang di bawah pengaruh alkohol saat itu. Tidak ada pembenaran untuk dirinya. Untuk itu, Adam memilih diam dan tidak melawan seperti dulu.


"Apa kau tidak berpikir bagaimana nasib gadis itu, kalau sampai kau merusaknya?!"


Patricia tiba-tiba muncul, mengusap punggung Abraham agar amarahnya reda. Patricia menggeleng agar menyudahi hukuman putranya.


"Bagaimana keadaan Rea?" tanya Abraham. Sedikit banyak, Abraham mengetahui tentang Rea melalui cerita Patricia beberapa waktu lalu.


"Dia sudah tenang dan sekarang sudah tidur. Rea anak yang lugu, membuatnya sangat trauma." jelas Patricia.


Abraham mengangguk, "Jangan biarkan dia pulang sebelum traumanya hilang."


Abraham adalah sosok berhati lembut, dibalik sifat tegas dan wajahnya yang sangar. Terutama terhadap perempuan, Abraham tidak akan tega menyakiti mereka. Dan untuk Rea yang sudah bicara tentang mental, Abraham tidak akan tinggal diam.


Abraham melihat putra bungsunya yang sama sekali tidak menunjukkan perasaan bersalah sedikit pun. Hal itu membuat Abraham tidak habis pikir.


"Jangan coba-coba menunjukkan diri di hadapan Rea, kalau tidak ingin Daddy pindahkan ke San Diego!" ancam Abraham, sebelum pamit masuk ke dalam kamar.


"Mommy sangat kecewa padamu Adam. Entah apa yang terjadi kalau sampai kau merusak Rea." ucap Patricia. Kali ini Patricia tidak lagi banyak bicara seperti dulu lagi. Hal itu membuat Adam tersentil.


"Ingat kata Daddy-mu, jangan menunjukkan wajahmu di depan Rea. Karena Rea sangat takut padamu." ucap Patricia sebelum menyusul suaminya.


Adam terpaku di tempatnya, melihat kekecewaan di mata Patricia membuat hatinya sakit. Dia tidak suka Patricia yang sekarang ini, Adam suka Patricia yang cerewet dan selalu menasehatinya.


Sedangkan di dalam sebuah kamar yang cukup luas, Rea tengah tidur. Namun kening gadis itu berkerut, menandakan ia tengah mimpi buruk.


"Ayah... Ibu.... tolong Rea..." lirih gadis itu. Dalam mimpinya Rea terjebak dalam sebuah kebakaran, juga orang tuanya yang tidak bisa menyelamatkan diri mereka.


"Ayah..." Rea tiba-tiba terbangun. Keringat membasahi keningnya, serta nafasnya terengah-engah seperti habis lari maraton.


"Rea..." Patricia yang mendengar teriakannya tiba-tiba datang diikuti oleh Abraham di belakangnya.


Rea menatap Patricia, maniknya berkaca-kaca. "Aunty, Rea ingin pulang. Rea mau Ibu..."


Patricia mengusap punggung Rea yang bergetar, "Tapi ini sudah malam sayang. Aunty janji, besok kau akan pulang."


Rea menggeleng, "Rea mau bicara dengan ibu." rengeknya.


Entah mengapa Rea sangat kekeuh ingin bertemu dengan kedua orang tuanya saat ini. Rea merasakan sebuah firasat buruk tentang kedua orang tuanya.


Patricia melihat suaminya, dan Abraham mengangguk. Rea pasti sangat membutuhkan kedua orang tuanya saat ini.


Patricia mengambil ponselnya, kemudian mendial nomor Elsa yang dia dapat dari data orang tua murid St. Fransiskus. Panggilan tersambung, tetapi bukan Ibu Rea yang menjawab.


Patricia menatap Abraham, manik wanita itu berkaca-kaca seraya menggelengkan kepalanya, sesaat setelah mendengar penuturan dari seseorang di seberang sana.