
Rea menundukkan kepalanya ketika sorot manik berwarna hijau yang sama dengan manik Adam tertuju padanya. Gadis itu beringsut menyembunyikan tubuh mungilnya di belakang Adam.
"Mommy." Adam mencium pipi wanita yang ternyata adalah wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Patricia Ainsley, yang merupakan nyonya besar di rumah ini.
Wanita itu tersenyum, dan kembali melihat Rea. Mematut gadis yang dibawa oleh putra bungsunya ke rumah megahnya. Wanita itu menilai Rea, dari penampilan hingga wajahnya.
"Siapa gadis cantik ini Adam?" tanya wanita itu.
Adam menatap datar Rea, "Bukan siapa-siapa Mom." ucapnya tanpa ekspresi.
Patricia melihat Rea dan putranya bergantian, kemudian mengangkat alisnya. Ketika melihat Rea memegang tas putranya, Patricia sudah dapat menebak siapa Rea sebenarnya.
"Jadi ini gadis yang Smith ceritakan?" tuding Patricia pada putranya.
Mendengar nama Smith, Adam mengerutkan keningnya, "Smith mengatakannya pada Mommy?" dengan wajah tidak suka.
"Iya. Dengar Adam, Mommy tidak suka kau seperti ini lagi! Sudah berapa banyak korban yang kau buat selama ini? Dan sekarang, gadis lemah ini juga ingin kau tindas? Dimana akal sehatmu?!" cecar Patricia.
"Mom..." Adam berdecak dan mengumpat Smith dalam hati. Karena Adam yakin, Smith-lah yang menghasut Patricia.
"Apa? Pokoknya Mommy tidak mau tahu! Biarkan gadis ini sekolah dengan baik tanpa gangguanmu! Atau jika tidak...Adam! Adam...."
Adam meninggalkan ibunya yang cerewet begitu saja, dan menghilang entah kemana.
Patricia menggeram marah, "Dasar anak itu! Sama saja seperti ayahnya!" gerutunya.
Patricia melihat Rea, melihat wajah polos nan lugu gadis itu, amarah Patricia menghilang. Kepalanya yang panas seketika menjadi dingin oleh tatapan teduh gadis itu.
"Maafkan aunty sayang, kau terkejut karena suaraku?" ucap Patricia lembut.
"Namamu siapa sayang?" tanya Patricia.
Rea sedikit ragu, tetapi dengan sopan ia menjawab, "Rea aunty."
Patricia tersenyum lembut, "Nama yang cantik, sama seperti orangnya. Kenalkan, nama aunty Patricia, Mommy anak tidak tahu diuntung itu." mendengus kesal saat teringat putranya. "Panggil saja aunty Sia." ucapnya.
Rea mengangguk, "Iya Aunty."
"Kemari, ayo bicara sambil makan siang. Kalian belum makan siang kan?" Patricia merangkul Rea dan menuntunnya menuju ruang makan.
Sekali lagi, Rea tidak bisa menyembunyikan kekagumannya akan keindahan rumah ini. Lihat saja, ruang makannya saja lebih besar dari rumahnya. Hal itu membuat Rea merasa tidak pantas berada di sini.
"Smith sudah cerita banyak tentangmu pada Aunty. Smith bilang kau adalah siswa paling pintar di kelasmu." ucap Patricia sambil menyiapkan makanan di meja makan.
"Smith?"
"Iya sayang. Smith itu sahabat sekaligus sepupunya Adam. Jadi Smith selalu melapor apa saja yang Adam lakukan di sekolah pada Aunty. Aunty sangat marah, ketika tahu kau dijadikan korban oleh Adam." ucapnya.
"Apa saja yang sudah anak itu lakukan padamu sayang?" tanya Patricia, sambil meletakkan menu makan siang di depan Rea.
Rea diam, enggan untuk bercerita, membuat Patricia bersedih. "Aunty yakin, Adam menindasmu sangat buruk. Maafkan Aunty ya, karena tidak bisa mendidiknya dengan baik, kau harus menjadi korbannya." ujarnya.
Rea menggeleng, "Jangan minta maaf aunty. Aunty tidak salah. Rea seperti ini juga karena salah Rea. Adam memilih Rea karena waktu itu Rea kurang sopan pada Adam." sangkal Rea.
Patricia menggeleng, "No sayang. Kau terlalu naif. Jangan membela anak bodoh itu."