The Mistress

The Mistress
Pergi



Rea tertegun, belum sembuh luka di hatinya setelah sepeninggalan ayah dan ibunya, kini dia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Untuk saat ini, Rea tidak peduli siapa yang akan menjadi walinya, karena baginya ayah dan ibunya tidak akan tergantikan oleh siapa pun.


"Memangnya Anda siapa?!" gaya bicara wanita itu sangat tidak sopan, yang mana semakin membuat Patricia tidak yakin mereka bisa menjadi orang tua yang baik bagi Rea.


"Saya teman baik Elsa." ucap Patricia. Sebelum Patricia melanjutkan ucapannya, Rea sudah tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri.


"Rea." Patricia dan Abraham menghampiri Rea dengan panik. Sementara paman dan bibinya malah mematung tanpa peduli sedikit pun.


"Abram, bawa Rea ke rumah sakit."


Abraham segera menggendong Rea dan membawanya keluar dari rumah itu. Sebelum pergi, Patricia menatap tajam wanita itu, "Kalian tidak pantas menjadi orang tua bagi Rea!" ucapnya, kemudian pergi begitu saja.


Setelah mereka pergi, wanita itu tersenyum sinis. "Memangnya siapa yang mau menjadi orang tua anak sialan itu! Aku juga tidak sudi!" ketus wanita itu.


"Jadi bagaimana sayang? Anak itu sudah pergi, lalu bagaimana sekarang?" tanya laki-laki yang merupakan suaminya.


"Memangnya apalagi? Cepat cari sertifikat rumah ini, setelah itu kita pulang." kata wanita itu.


***


"Kita sudah melakukan keputusan yang tepat kan Abram?" tanya Patricia pada suaminya.


Pandangan keduanya masih belum lepas dari Rea yang terbaring di kamar luas di rumah mereka. Membawa Rea ke rumah sakit hanyalah dalih agar Patricia bisa membawa Rea dari rumah itu tanpa adanya drama dengan paman dan bibi Rea.


"Ikuti kata hatimu sayang. Lagi pula, bukannya kau dari dulu sangat ingin punya anak perempuan?" ucap Abraham.


"Aku pikir Rea sangat cocok, dia anak yang manis dan penurut. Kau bisa mengurusnya seperti mengurus bayi nantinya."


Patricia terkekeh, "Kau bisa saja." membelai wajah lembut Rea yang masih nampak sembab. "Dia memang manis. Sejak pertama kali bertemu, aku berharap Rea bisa menjadi putriku." ucap wanita itu disertai rasa haru.


Rasa haru itu hanya bersifat sementara, Patricia menjadi murung begitu cepat.


"Tapi Abram, apakah nanti Rea mau menjadi keluarga kita dan tinggal di rumah ini?"


Abraham mengusap kepala istrinya, "Kita lihat saja nanti. Bicaralah perlahan pada Rea, dan jangan memaksanya. Biarkan dia memilih. Apapun pilihannya, terima saja. Lagi pula kita bisa mengunjunginya kapan pun jika dia lebih memilih pergi." ucap Abraham.


Patricia mengangguk, mengiyakan ucapan suaminya. Tetapi dalam hati dia berdoa agar Rea memilihnya.


Abraham dan Patricia meninggalkan Rea di kamar. Mereka terkejut ketika melihat Adam ada di depan pintu kamar. Setelah apa yang terjadi, tentu mereka masih kecewa pada Adam.


"Adam..." Patricia menatap manik hijau putranya. Penuh permohonan, "Mommy mohon, jangan ganggu Rea lagi. Mommy mohon Nak."


"Lihat Rea sekarang, dia hancur karena ditinggalkan ayah dan ibunya. Sekarang Rea sebatang kara, tidak punya keluarga. Apakah kau masih tega menindasnya?" Patricia sampai menitikkan air matanya.


Adam yang selalu tanpa ekspresi, melihat Rea dari pintu yang sedikit terbuka. Maniknya bertemu dengan manik Rea yang sudah terbangun di dalam sana.


Adam mengakhiri pandangan itu, lalu melihat ibunya dan ayahnya bergantian.


"Mom, Dad, Adam akan pergi ke rumah Kak Abigail." ucapnya singkat.