The Mistress

The Mistress
Tebakan



Mendengar pengakuan Adam akan Rea, Camila terpaku. Gadis itu sekali lagi memindai Rea dari ujung kaki hingga ujung kepala. Camila mengakui kecantikan Rea meski hanya dengan riasan make up tipis dan pakaian yang sederhana. Rea terlihat seperti gadis manis dan penurut dalam pandangan Camila, yang memang seperti itu adanya. Pantas saja Adam terpikat pada Rea.


"Rea Michaela, satu sekolah dan juga satu kelasku." kata Adam melengkapi.


Adam cukup senang melihat keterkejutan Camila. Adam yakin, Camila pasti cemburu pada Rea.


Camila tersenyum pada Rea, "Hai, namaku Camila. Aku temannya Adam." sapa Camila dengan sopan.


Rea kebingungan akan situasi ini, tetapi ia akhirnya membalas sapaan Camila. "Rea, senang bertemu denganmu." ucapnya canggung.


Disela sapaan mereka, seorang laki-laki yang tidak kalah tampan datang. Memeluk dan mencium kening Camila di depan kerumunan. Adam terkejut bukan main, kepalanya mendidih kala melihat gadis pujaannya begitu mesra dengan laki-laki lain.


Namun Adam sadar diri, kini ia bukan siapa-siapa bagi Camila. Alhasil, tangan Rea menjadi pelampiasan emosinya. Rea meringis karena Adam mencengkeram tangannya.


"Maaf, aku terlambat. Pekerjaanku sedikit menumpuk di kantor." ucap pria itu.


"Aku mengerti. Ayo sapa teman-temanku." ucap Camila.


Pria itu mengangguk dan tersenyum, "Hai semua. Terima kasih sudah datang di pesta ulang tahun tunangan saya yang ke tujuh belas."


Bagai petir di siang bolong, begitulah keadaan hati Adam saat ini. Kini Adam mengerti kenapa Camila meninggalkannya begitu saja. Ternyata ada orang ketiga di antara mereka.


Meski sebenarnya tangan Adam terasa panas ingin menghancurkan pesta ini, alih-alih Adam memilih menjauh dan duduk di tempat paling sudut. Rea dia tinggalkan begitu saja, kebingungan di sana.


"Rea, kemari." panggil Nicole yang duduk bersama ketiga sahabatnya.


Rea mendekat, duduk di kursi yang telah disiapkan. "Kau pasti bingung kan?" tebak Nicole.


Rea mengangguk. "Cukup diam di sini. Jangan mengganggu Adam." melirik Adam yang tengah meneguk alkohol di sudut sana. Mata Adam hanya tertuju pada mantan kekasihnya yang asik bersama kekasih barunya.


"Camila mantannya Adam. Mereka saling mencintai dulu. Tapi baru-baru ini, Camila memutuskannya. Tidak ada yang tahu kenapa, tapi malam ini semua sudah terbukti dengan jelas." jelas Nicole.


Drake menyodorkan segelas wine di depan Rea, "Minumanmu Nona." tawarnya.


Smith menyingkirkan minuman itu sebelum Rea menyentuhnya, "Gadis seperti Rea tidak minum alkohol!" tegasnya.


Drake mengangkat bahunya, "Santai man, aku pikir Nona ini liar dibalik wajah polosnya."


"Berhenti kalian berdua! Kalau Adam dengar kalian mengusik Rea, habis kalian." sanggah Smith.


"Adam yang marah atau kau Smith." ejek Royce.


Smith terdiam, rupanya mereka sadar akan ketertarikan Smith pada Rea.


"Kurasa kau yang harus berhati-hati. Kalau sampai Adam tahu kau mengincar kacungnya, habis kau." balas Royce.


Smith menatap sengit, "Tutup mulutmu Royce! Kau tidak mengerti apa-apa."


"Oke terserah kau saja." Royce mengangkat bahunya, tidak peduli.


"Smith, lihat sepupumu itu. Cepat bawa dia dari sini sebelum dia membuat kekacauan." melihat Adam yang nampaknya sudah mabuk.


Smith mengangguk, kemudian menghampiri Adam. Meski butuh tenaga untuk membujuk Adam pergi, akhirnya Smith berhasil memapah Adam.


"Ayo Rea, kau juga harus pulang." ucap Smith.


Rea mengangguk, "Kami pulang dulu." pamitnya pada ketiga orang itu.


"Hati-hati gadis manis." jawab Drake jenaka.


"Aku bertaruh, dalam waktu dekat atau lambat, Rea akan membuat kekacauan di antara kita, terutama Adam dan Smith." ucap Drake setelah kepergian mereka.


"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Nicole.


"Apa kau tidak bisa merasakan, perlakuan Adam berbeda pada Rea dibandingkan kacung-kacungnya yang dulu." timpal Royce.


"Dan aku bisa melihat, Smith sepertinya tertarik pada Rea." ucap Drake dengan senyum licik.


Nicole menggelengkan kepalanya, "Aku salut akan kepekaan kalian. Tapi kenapa hanya aku yang tidak merasakan apa yang kalian tebak?"


"Itu karena kau terlalu bodoh!"