The Mistress

The Mistress
Hampir Ternoda



"Anak ini, selalu saja menyusahkan!" gerutu Patricia, menatap kesal putranya yang tengah dipapah oleh supir mereka.


"Terima kasih ya Smith, Aunty selalu menyusahkanmu."


"It's oke aunty. Lagi pula Adam itu sepupuku, sudah kewajibanku menolongnya." ucap Smith.


"Kau memang keponakanku yang baik. Diana beruntung memiliki anak sebaik dirimu." Patricia memang selalu berlebihan pada keponakannya tersebut.


"Sudah malam aunty, aku masih harus mengantar Rea."


"Rea? Tidak usah Nak. Rea akan tidur di sini malam ini. Aunty sudah izin pada Ibunya."


Rea terkejut, "Dari mana aunty mendapatkan nomor Ibu?"


Patricia mencubit kedua pipi Rea gemas, "Itu bukan hal yang sulit bagi aunty sayang. Aunty sudah bicara banyak dengan Ibumu di telpon tadi. Jadi kau tenang saja, ibumu tidak akan marah kau menginap di sini."


"Smith, kau juga ingin menginap di sini malam ini?"


Smith menggeleng, "Tidak aunty. Mommy sudah menelponku agar pulang malam ini."


"Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan."


Smith sudah pulang, Patricia mengantar Rea ke kamarnya. "Bajumu ada di lemari. Cucu wajah dan kaki, lalu segera tidur. Aunty masih harus mengurus bocah nakal itu." kata Parricia.


"Terima kasih aunty."


Setelah Patricia pergi, Rea melakukan apa yang wanita itu perintahkan. Rea memejamkan matanya sambil menggesekkan wajahnya di bantal yang empuk dan lembut.


Nyaman sekali rasanya, Rea belum pernah tidur di tempat senyaman ini sebelumnya. Layaknya bayi besar, Rea begitu mudah jatuh ke bawah alam sadarnya.


Malam semakin larut, dan Rea begitu nyenyak dalam tidurnya. Begitu nyaman berbaring di atas ranjang raksasa tanpa adanya gangguan sedikit pun.


Tetapi ketenangan itu tidak bertahan lama, sebuah beban berat menimpa tubuh ringkihnya. Rea terganggu, manik gadis itu terbuka kala tubuhnya dijamah dengan sembarangan.


Tubuh Rea mematung, kala tangan Adam memegang tubuhnya, terutama bagian tubuhnya yang berharga. Rasanya, tubuhnya terasa sulit digerakkan, bahkan untuk mendorong Adam pun rasanya sangat sulit.


Rea hanya bisa berteriak dan menangis, berharap seseorang datang menyelamatkannya dari Adam.


"Adam, lepaskan aku...."


Tangan Adam semakin lancang membuka piyama satin Rea. Hal itu membuat Rea dipenuhi ketakutan yang teramat sangat. Tidak terbayang bagaimana nasibnya, jika Adam berhasil melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Membayangkan bagaimana perasaan kedua orang tuanya nanti, jika tahu putri mereka telah rusak, Rea tidak sanggup rasanya. Mengingat itu, Rea akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya. Dengan tangan mungilnya, gadis itu mendorong Adan sekuat tenaga, hingga Adam terjatuh di atas lantai.


Rea segera bangkit dari atas ranjang, bersamaan dengan itu, Patricia datang, menyaksikan kekacauan itu.


"Aunty...." lirih Rea, takut Patricia berpikir buruk tentangnya.


"Rea, apa yang terjadi?" Patricia berlari dan memeluk Rea. Saat itu juga, tangis Rea pecah dalam pelukan Patricia.


"Aunty... Adam...." Rea tidak sanggup bicara. Dia hanya bisa menangis.


Sementara Adam yang ternyata masih dikuasai alkohol, terbaring di lantai seraya bicara tidak jelas.


"Sst... tidak apa-apa sayang. Aunty ada di sini, jangan menangis."


Memang mudah untuk mengatakan, tetapi Rea sangat terkejut akan apa yang baru saja terjadi.


"Apa yang Adam lakukan hmm? Apakah dia sempat menyentuhmu?" cecar Patricia.


Rea semakin kalut, dia mengangguk, seraya menahan rasa malu. Gadis itu memeluk Patricia erat.


"Aku mau pulang. Aku mau ibu..."