
Rea menggigit bibirnya, rasa kesal di hatinya sudah tidak berujung. Adam sudah membuat kesabarannya habis. Kebencian mulai tumbuh dalam dirinya untuk Adam.
Setiap Adam mencemooh dan menghinanya, berulang kali gadis itu mengelus dada. Kebaikan Patricia dan Abraham menjadi obat di setiap rasa sakit yang Adam berikan.
Namun kali ini, Rea tidak lagi bersabar. Malaikat dalam dirinya telah berubah menjadi iblis yang mengerikan.
Rea membuka pintu kamar Adam dengan sangat pelan. Gadis itu tidak ingin menciptakan keributan yang mana akan membuat Adam terbangun.
Rea mengikuti Adam setelah ditinggalkan begitu saja dengan perasaan hancur. Rasa sakit hati itulah yang membuat Rea begitu berani masuk ke dalam kandang singa ini.
Rea kini berdiri tepat di sebelah ranjang dimana Adam tertidur dengan begitu nyenyak. Mata gadis itu masih sembab dan memerah.
"Kak Adam jahat!" lirihnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tangan mungilnya menggunting piyama satin biru di bagian lengan hingga sekujur dadanya.
Setelah itu, dengan gerakan yang sangat hati-hati, Rea naik ke atas ranjang. Bukan, maksudnya naik ke atas tubuh Adam.
Rea menggigit bibirnya untuk yang kesekian kalinya, mengumpulkan keberaniannya yang mulai menghilang. Perasaannya begitu aneh ketika berada di atas tubuh kekar nan keras itu.
Tangan mungilnya begitu berani melepas satu per satu kancing piyama pria itu, hingga dada bidang Adam terpampang nyata di depan matanya.
"Maaf Kak. Rea tidak punya pilihan lain. Rea akan membuat tuduhan Kakak benar. Rea akan menjadi perempuan murahan, untuk Kakak." lirihnya.
Rea memang sudah kehilangan akalnya. Namun batinnya sangat menderita ketika ia selalu dituduh akan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Untuk itu, malam ini ia akan membuat semua tuduhan Adam menjadi kenyataan.
Sekali lagi, Rea begitu lancang menyingkap piyama Adam dan menyentuh dada bidang pria itu dengan lembut. Sangat keras dan kekar, membuat Rea merinding. Tidak dapat dipungkiri, tubuh Adam yang dipenuhi otot-otot di bagian tertentu sangat menggoda kaum hawa, termasuk Rea sendiri.
Rea mendekatkan wajahnya ke wajah Adam, jemari lentiknya menyusuri wajah Adam, begitu intens dari mata, hidung hingga bibir tebal yang menggairahkan.
Rea menelan ludahnya, sebelum akhirnya menempelkan bibirnya ke bibir pria itu. Gadis itu mematung, darahnya seolah membeku setelah merasakan kekenyalan bibir Adam. Rea tidak tahu lagi apa yang akan ia lakukan.
Rea segera mengakhiri kecupan itu. Rea kehilangan kewaspadaannya ketika ia menanggalkan piyamanya yang sudah rusak. Kini Rea hanya mengenakan sepotong kain yang menutupi aset berharganya.
Sebelum Rea akan melakukan hal yang lebih jauh lagi yang akan mengubah segalanya, mata elang setajam silet itu terbuka.
Rea membeku seketika, keberanian itu sirna dan berganti oleh ketakutan.
"Kak..." lirihnya.
"Kau...." Mata Adam menelusuri tubuh Rea yang setengah telanjang. Awalnya pria itu kebingungan, dan dalam sekejam amarah meliputi dirinya.
Rea menggeleng, dan dengan sengaja Rea beringsut memeluk Adam, sangat erat membuat Adam sesak.
"Maafkan Rea kak. Rea tidak..."
"Lepas dan menyingkir dariku!" bentak Adam.
Rea menggeleng "Maafkan Rea Kak."
Adam kehabisan kesabarannya, dengan gerakan cepat, Adam berhasil membalikkan tubuhnya, hingga sekarang Rea berada di bawah kungkungannya.
"Apa yang kau lakukan bodoh!" bentak Adam.
Dan saat itu juga, pintu kamar terbuka. Patricia dan Abraham muncul dengan wajah cemas.
"Mom... Daddy... tolong Rea..." teriak Rea dengan wajah penuh air mata.