The Mistress

The Mistress
Episode 26



Rea sudah mengumpulkan baju-bajunya dan keluar dari kamar itu. Berat memang bagi Rea meninggalkan rumah ini. Bukan karena kemewahannya, melainkan Patricia.


Jujur, Rea sangat menyayangi Patricia seperti ibunya sendiri. Kasih sayang dan cinta Patricia melimpahinya sejak kepergian Ayah dan Ibunya. Cinta wanita itu tidak akan bisa terbalaskan.


Namun, jika Rea masih bertahan di rumah ini, gunjingan-gunjingan itu akan mendengung di telinganya tiada henti. Kini, tidak hanya Bi Molly yang menentang kehadirannya, tetapi juga Adam. Menghina dan mencacinya.


Rea menahan tangisnya, tidak ingin seorang pun melihatnya menangis.


"Kau mau kemana!" langkah Rea belum juga sampai ke pintu keluar, tapi seseorang menghalangi jalannya.


Rea menatap Adam, keningnya berkerut, dipenuhi rasa sakit hati.


"Kau tidak menyukai kehadiranku di rumah ini bukan?" Rea berusaha tidak terlihat lemah. Air matanya ditahan agar tidak jatuh.


"Dasar pembuat drama!" ketus Adam.


"Sekali kakimu melangkah keluar dari rumah ini, tamat riwayatmu!" ancam Adam.


Rea menggigit bibirnya, "Apa sebenarnya maumu? Aku menurutimu untuk pergi dari rumah ini, tapi kenapa kau malah mengancamku agar tidak pergi?!"


Rea sungguh tidak habis pikir dengan anak muda itu.


Pria itu malah tersenyum, "Aku memang membenci kehadiranmu di rumah ini. Tapi apa kau pikir kau bisa pergi semudah itu? Kau sudah mengambil perhatian orang tuaku, dan tidak mungkin mereka tidak mencarimu setelah ini! Tidak ada gunanya kau pergi, karena cepat atau lambat kau pasti akan kembali ke rumah ini."


Adam terkekeh, meremehkan gadis itu, "Kau meremehkan keluargaku. Kemana pun kau pergi, bahkan ke ujung dunia pun, kau pasti akan ditemukan."


Rea menjatuhkan bahunya, tanda tidak tahu harus bagaimana lagi.


"Lalu apa? Apa yang harus kulakukan? Aku bersyukur dan sangat berterima kasih banyak, karena keluarga ini menerimaku dengan baik. Tapi, satu hal yang harus kau ketahui, aku tidak pernah berniat atau bahkan memikirkannya sekali pun, niat buruk pada keluarga ini." tubuh Rea bergetar, tidak tahu lagi bagaimana menjelaskan.


"Bagaimana mungkin aku percaya begitu saja! Kau yang bukan siapa-siapa, tiba-tiba mendapat tempat di rumah ini. Bukankah kau memiliki kelicikan yang luar biasa? Mungkin kau bisa mengelabui keluargaku, tetapi tidak denganku!" tanpa ingin mendengar ucapan Rea, Adam melangkah pergi.


"Tapi tunggu, aku harus memberitahukan apa yang harus kau lakukan agar kau bisa meninggalkan rumah ini." Adam berhenti, dan mendekatkan wajahnya pada Rea.


Mata Rea yang basah menatap pria itu juga.


"Buat Mommy dan Daddy, atau kalau perlu satu keluarga ini membencimu. Dengan begitu, kau bisa pergi kemana pun kau mau." tutur Adam.


Adam pergi setelahnya, sementara Rea mematung. Adam sangat gila dan di luar logikanya. Tapi haruskah Rea melakukan itu? Haruskan ia membuat Patricia dan Abraham kecewa padanya? Padahal mereka sangat menyayangi dirinya, haruskah ia kehilangan kasih sayang mereka?


"Kau akan melakukan apa yang anak itu katakan?" Rea terkejut ketika seseorang menepuk bahunya.


Abigail tersenyum lembut pada Rea. "Jangan hiraukan anak itu. Adam masih labil dan sembrono pada semua orang." begitu lembut suara pria itu, membuat perasaan Rea sedikit lebih tenang.


"Tetaplah jadi anak yang baik dan manis untuk Mommy dan Daddy. Adam, kau jangan takut padanya. Aku tidak akan membiarkannya menindasmu seperti dulu lagi."