
"Aku tidak butuh mereka!" tolak Adam, entah mengapa Rea memenuhi pikirannya saat ini. Kemana gadis itu pergi sampai selarut ini.
"Sayang sekali, padahal sepertinya gadis itu sangat polos dan belum tersentuh. Sayang sekali jika nanti pria-pria kotor itu menyentuhnya pertama kali." Max menyayangkannya.
"Kenapa ada gadis perawan terjebak di tempat mengerikan ini?" timpal Drake.
Max mengangkat bahunya, "Tadi sore dia datang padaku dan mengatakan ingin menjual tubuhnya." jawab Max.
Mendengar itu, Adam segera menoleh. Pria itu menyipitkan matanya, menatap Max penuh tanya.
"Tapi anehnya dia tidak menerima uang yang kutawarkan padanya. Aku mengira gadis itu sedikit bodoh." lanjut Max.
"Siapa gadis itu!" suara Adam mengagetkan Max dan juga yang lain.
"Kenapa, apakah sekarang kau jadi tertarik?"
"Aku bertanya siapa gadis itu. Jawab saja!" Adam tidak sabar.
Max terkejut akan reaksi Adam, tapi ia juga tidak sanggup melawan. "Aku lupa namanya."
Adam berdecak kesal, "Bawa aku ke sana!" perintahnya.
Max tidak ingin membuat Adam semakin marah, akhirnya berdiri dan mengarahkan Adam ke tempat dimana gadis itu berada.
Wajah Adam selama berjalan menuju kamar di lantai paling atas gedung itu, sangat menyeramkan. Dia takut apa yang di pikirannya menjadi kenyataan. Adam berharap gadis itu bukanlah Rea.
Tetapi ketika pintu kamar terbuka, apa yang menjadi tebakan Adam terbukti sepenuhnya. Seorang gadis kini duduk membelakanginya, memakai pakaian yang sangat minim yang hanya menutupi sebatas dada hingga paha atasnya.
"Keluar!" perintah Adam pada Max. Max menurut, membiarkan tuannya menikmati gadis itu.
Karena mendengar suara itu, gadis itu berbalik. Gadis itu sungguh amat terkejut melihat Adam di sana.
Namun, sebelum Rea berhasil menyentuhnya, Adam sudah lebih dulu menghempaskannya ke lantai.
"Kak Adam..." Rea tidak menyangka Adam akan mendorongnya.
"Dasar bodoh!" bentak Adam. Manik pria itu memancarkan kemarahan yang membludak dan siap meledak kapan saja.
"Kau sangat ingin menjual tubuhmu ya!" dengan kasar Adam menyeret tubuh mungil itu dan menghempaskannya ke atas ranjang.
Rea meringis, air matanya menggenang akan perlakuan kasarnya. "Kak... Rea...." Rea berusaha bicara, tetapi Adam tidak memberikan kesempatan.
Pria itu menjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh Rea, menatap manik sendu itu tajam, sementara tangannya meraba tubuh sensitif Rea. Rea terkejut setengah mati ketika Adam melakukan hal yang sama seperti tujuh tahun lalu.
Air matanya mengalir semakin deras, dia merasa dunia sungguh kejam terhadapnya. Sampai mati pun, Adam masih saja menyakitinya.
"Jika ini yang kau inginkan, maka biarkan aku menjadi yang pertama!" cetus Adam, tangannya semakin gencar melakukan aksinya.
Rea menggelengkan kepalanya, memohon dengan binar mata yang penuh kepiluan.
"Jangan Kak..." lirihnya.
Adam seolah tuli, dengan lancang Adam menenggelamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, dan menyesapnya dengan begitu buas hingga meninggalkan bekas di sana.
Masih belum puas, Adam kini menikmati manisnya bibir gadis itu. Adam melakukannya dengan kasar dan tidak membiarkan Rea menghirup oksigen.
"Kenapa kau sangat ingin menjual tubuhmu hmm? Kau sangat ingin disentuh seperti ini?" Adam berucap sambil menyentuh tubuh Rea sesukanya.
Dalam satu kali tarikan, Adam berhasil melepas gaun mini itu dari tubuh Rea. Dan kini Rea benar-benar polos di mata Adam.