
"Kembalilah ke kamarmu. Jangan terlalu memikirkan banyak hal." Abigail mengusap kepala Rea lembut.
Rea mengangguk, Rea memejamkan matanya ketika Abigail menghapus air mata di wajahnya. Benar-benar sebuah perbedaan yang sangat jauh antara Adam dan Abigail. Abigail sangat lembut, membuat Rea nyaman bersamanya.
Padahal sebelumnya, Rea pikir Adam dan Abigail sama saja. Ternyata penilaiannya salah, Abigail mewarisi sifat dari kedua orang tuanya.
***
Menjelang malam, keluarga Ainsley tengah berkumpul di ruang makan. Tidak terkecuali Adam, anak muda yang sering menghilang itu, kini ikut melengkapi makan malam itu.
Setelah selesai makan malam, Abraham memulai pembicaraan.
"Terkhusus untuk kedua putraku, Abi dan Adam. Sebelumnya kalian pasti sudah tahu, bahwa Mommy dan Daddy telah mengangkat seorang putri di rumah ini, Rea." ucap Abraham.
"Kalian tahu, dari dulu kami sangat ingin punya anak perempuan. Tapi karena Mommy kalian sakit, kami harus mengubur keinginan itu. Tapi, dua tahun yang lalu, kami menemukan Rea. Rea anak yang baik dan penurut. Dan selama tinggal di rumah ini pun, Rea tidak pernah menyusahkan kami. Bahkan Rea selalu membanggakan kami dengan prestasi-prestasinya di sekolah. Kami beruntung memiliki Rea." ujar Abraham, tersenyum hangat pada Rea yang tidak berani menegakkan kepalanya.
"Untuk Abi, hari ini kau sudah melihat bagaimana Rea kan?"
Abigail mengangguk, "Ya Dad. Persis seperti yang kalian ceritakan, Rea anak yang baik dan manis."
"Maka dari itu, sayangi dia dan anggap Rea seperti adik kandungmu sendiri." ucap Abraham.
"Tentu saja. Aku akan menjadi saudara yang baik untuk Rea." ucapnya lagi.
Setelahnya, Abraham pada putra keduanya. Abraham tahu, Adam sangat tidak menyukai Rea dari dulu.
"Dan kau Adam." mendengar namanya dipanggil, Adam melihat ayahnya. "Daddy tahu kau masih sulit menerima Rea menjadi bagian dari keluarga ini. Daddy dapat memahami dirimu. Tetapi, bersikaplah lebih dewasa. Jangan terlalu kekanakan dengan mengganggu Rea dengan memberikan doktrin-doktrin yang membuat Rea sakit hati." ucapan itu penuh penegasan, namun tak sedikit pun membuat Adam gentar.
"Dan satu hal yang perlu kau tahu, Rea tidak pernah memiliki niat untuk menjadi bagian dari keluarga ini. Tapi Mommy dan Daddy yang memaksanya agar menjadi putri kami. Jadi, jangan berpikir hal yang sama seperti Bibimu." jelas Abraham.
"Kau mengerti?"
Bukannya menjawab dengan sopan, Adam malah melenggang pergi dari meja makan, meninggalkan mereka begitu saja.
"Anak ini!" Abraham mengepalkan tangannya, tidak habis pikir dengan putra bungsunya tersebut. Tidak ada yang tahu, kenapa sifat Adam berbeda dari anggota keluarga Ainsley yang lain. Padahal, Patricia tidak pernah mengajarkan hal buruk pada Adam.
"Sayang, jangan hiraukan Adam. Anak itu memang sudah seperti itu. Bersabarlah, suatu saat nanti dia akan menerimamu." Patricia mengusap punggung Rea.
Rea tersenyum paksa, "Iya Mom. I'm oke." ucap Rea.
***
"Dasar pembuat drama!" Rea tersentak ketika seseorang menarik rambutnya, ketika baru saja sampai di dalam kamarnya.
Rea hampir berteriak, tetapi Adam membekap mulutnya. "Tutup mulutmu, jangan coba-coba berteriak!" ternyata Adam. Pria itu menatapnya dengan mata merah penuh amarah.
Masih belum melepaskan rambut panjang Rea, "Apa yang kau katakan pada Daddy-ku. Kau mengadu? Beraninya!"
Rea menggeleng, membuat Adam kesal.
"Heh, dasar licik." Adam menghentakkan tangannya, hingga akhirnya Rea terjerembab di atas lantai.