
Dalam sekejap mata, Rea berubah. Ekspresinya yang tadi begitu sengit dan penuh kelicikan, kini berubah seolah-olah sangat tersakiti. Adam sampai terpaku dibuatnya. Manik pria itu begitu dalam menatap gadis yang masih berada di bawah kuasanya.
Adam tidak peduli keberadaan kedua orang tuanya yang melihat mereka dalam posisi yang tidak wajar ini. Yang Adam pikirkan adalah Rea. Gadis yang dulunya ia kira polos, sekarang tengah memainkan drama. Adam sungguh tidak menyangka.
"Adam!" teriak Abraham, langkahnya menggebu dan mendekat. Pria setengah baya yang masih memiliki kekuatan besar itu, langsung menarik Adam dan menghempaskannya di lantai.
"Anak sialan!" Abraham tidak lagi segan melayangkan bogem mentah di wajah putranya. Tidak hanya sekali, melainkan berkali-kali.
"Berani sekali kau melakukan itu pada Rea. Dia putriku bodoh! Yang berarti saudaramu juga!" bentak Adam.
Sementara di atas ranjang, Rea menangis di pelukan Patricia dalam keadaan yang mengenaskan. Melihat itu, Abraham semakin diliputi emosi.
"Daddy, dengarkan aku dulu. Ini tidak seperti yang kalian lihat!" Adam kewalahan atas serangan Abraham.
"Tutup mulutmu! Kau pikir kami buta? Kau boleh membenci putriku, tapi jangan coba-coba menyentuhnya sialan!" sembur Adam.
Abraham berhenti, bagaimana pun Adam adalah putranya. Hati kecilnya masih tergerak untuk membiarkannya tetap hidup.
"Daddy..." tangisan Rea menggema.
"Kau..." Adam dibuat geram dan tidak habis pikir akan sandiwara ini.
"Jangan berani kau!" Abraham hampir meninju wajah Adam lagi.
Abraham melihat Patricia, "Bawa Rea keluar Mom. Aku akan membereskan anak ini!" perintahnya.
Patricia mengangguk, "Ayo sayang. Kita keluar dari sini." begitu lembut perlakuan mereka pada Rea.
Gadis sialan!
"Apa sebenarnya maumu Adam! Tidak ada habisnya kau mengganggu Rea. Sebenarnya apa yang mengganggumu. Apakah Rea mengganggumu? Tidak kan. Justru kau yang selalu mengganggunya!" cecar Abraham dengan menggebu-gebu.
Adam sebenarnya tidak ingin lagi melawan ayahnya sendiri. Tapi kali ini, ia cukup geram akan sesuatu yang tidak ia lakukan sama sekali.
"Daddy, aku tidak melakukan hal semacam tadi. Rea sendiri yang datang ke kamarku dan ketika aku bangun dia sudah ada di tempat tidurku." Adam mencoba melakukan pembelaan.
"Jadi maksudmu Rea yang melemparkan dirinya padamu!" Abraham tertawa dengan ejekan terselip di dalamnya. "Jangan mencoba memutar balikkan fakta bodoh! Kau pikir putriku gadis murahan yang dengan mudahnya tidur dengan siapa pun?!"
Adam tidak menjawab, karena memang tuduhannya terhadap Rea tidak terbukti secara aktualitas. Semua tuduhan itu ia lakukan hanya agar Rea angkat kaki dari rumah dan keluarganya. Namun begitu sulit mematahkan hati gadis itu.
Adam memejamkan matanya, menjelaskan sama halnya sia-sia. Apalagi ayahnya yang sudah dicuri perhatiannya oleh Rea, tidak akan mungkin menyalahkan Rea.
"Terserah Daddy saja mau percaya padaku atau tidak!"
Abraham dan putranya saking menatap dengan sengit.
"Kau sudah mencemarkan nama baik Rea. Dan karena kelakuanmu sekarang tidak ada lagi pria yang mau menikahi Rea cepat atau lambat!"
"Untuk itu, kau harus bertanggungjawab!"
Adam tidak peduli sama sekali akan perintah itu.
"Dan setelah apa yang kau lakukan baru saja, kau juga harus bertanggung jawab.