The Mistress

The Mistress
Semuanya berubah



Patricia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini pada Rea. Gadis itu masih berkabung dan bahkan tanah kuburan kedua orang tuanya belum berumur.


Namun, jika membiarkan Rea larut sendiri dalam kesedihannya, Rea akan sulit melanjutkan kehidupannya. Mungkin dengan cara ini, Rea tidak akan merasa sendirian di dunia ini.


Karena cukup lama Rea tidak menjawab Patricia sekali lagi mengusap wajahnya. "Aunty tidak akan memaksamu sayang. Kau boleh menolak permintaan kami. Tapi, apapun yang terjadi dan kesulitan apapun yang kau hadapi di masa depan, datanglah pada kami. Kami akan selalu ada untukmu." ucap Patricia.


Begitu mudah Patricia mengatakan hal itu pada gadis yang belum genap dua puluh empat jam mereka temui. Itu juga karena sebelumnya Patricia telah menyelidiki seluk beluk Rea. Mengetahui bagaimana kehidupan dan sifat polos Rea, tentu menarik perhatian Patricia. Patricia sangat suka dengan orang yang sederhana dan apa adanya, seperti Rea.


Sarapan dilanjutkan dalam keheningan, tanpa pembahasan itu lagi. Rea diperlakukan selayaknya seperti keluarga di rumah itu.


Tiga hari Rea tidak masuk sekolah, gadis itu masih mengobati hatinya yang pilu. Dan selama tiga hari itu, Rea masih tinggal di rumah Adam. Tentu saja Patricia yang menahannya agar tetap tinggal di sana. Karena tidak mungkin ia membiarkan Rea tinggal di rumah orang tuanya sendirian. Apalagi jika kedua paman dan bibinya yang tidak baik itu sampai membawanya pergi.


Di sekolah, beberapa teman Rea menyampaikan turut berduka cita mereka, meski sudah datang ke pemakaman tempo hari. Rea masih terlihat murung, berbeda dari sebelumnya.


Tetapi ada sesuatu yang kurang hari ini. Adam, anak itu tidak pernah muncul lagi di hadapan Rea selama tiga hari ini. Padahal dirinya ada di rumah pria itu selama ini.


"Rea, kau tahu tidak kalau Adam sudah pindah?" ucap Sheril, membuka percakapan.


Rea menggeleng, terlihat lesu, meskipun dia cukup tertarik dengan pembahasan Sheril. Rea penasaran kemana perginya Adam, karena selama tinggal di rumah Adam pun, Adam tidak lagi nampak batang hidungnya.


"Padahal kau tinggal di rumahnya." ucap Sheril.


"Tentu saja, karena dia sudah pindah ke San Diego." ucap Sheril.


Rea cukup terkejut, "Kenapa?"


Sheril mengedikkan bahunya, "Kau bukannya tinggal di rumahnya? Tanyakan saja pada ibunya."


Rea tersenyum kecut, teringat malam dimana Adam melakukan hal itu padanya. Rea menebak kepergian Adam berhubungan dengan kejadian malam itu.


Tetapi, terlepas dari apapun yang menjadi alasan kepergian Adam, satu hal yang harus disyukuri adalah kebebasan Rea sudah kembali. Tak ada lagi yang akan mengganggunya di sekolah ini. Kehidupan damainya di sekolah akan kembali seperti dulu lagi.


***


Dengan semangat yang selalu Patricia berikan padanya, Rea akhirnya mampu melanjutkan kehidupannya menjadi lebih baik lagi. Meski tanpa dampingan kedua orang tuanya, Rea berhasil lulus dari sekolah elit, St. Fransiskus dengan prestasi yang cemerlang nan membanggakan.


Ya, dua tahun telah berlalu, Rea menjalani kehidupannya dengan penuh semangat. Ketika sekali lagi, Patricia menawarkan untuk menjadi putri angkat mereka, hidup Rea berubah sepenuhnya.


Layaknya seorang putri raja, Rea diperlakukan oleh keluarga Ainsley. Rea begitu dimanja dan disayangi oleh Patricia maupun Abraham. Mereka tidak pernah membiarkan Rea merasa sendiri dan membuat Rea tetap mendapatkan kasih sayang orang tua sepenuhnya.


Meski hidupnya kini bergelimang, tak sedikit pun membuat Rea menjadi sombong. Rea yang dulu masih sama dengan Rea yang sekarang. Kepolosan dan keluguan itu masih melekat erat pada dirinya. Tentu saja, karena Patricia dan Abraham sangat menjaga Rea bagaikan berlian yang berharga.