
"Dimana Adam?"
Ingin sekali Rea menanyakan hal itu, tetapi bibirnya terasa kelu. Entah mengapa Rea sangat ingin melihat anak muda itu. Orang yang dulu menindasnya tanpa perasaan sedikit pun.
"Daddy sudah mendaftarkan Rea di Universitas Internasional San Fransisco, dalam tiga bulan ke depan, Rea akan memulai perkuliahannya." cetus Abraham membuat harapan Abigail pupus.
"Lalu bagaimana dengan Adam?" tanya Patricia.
"Dia sudah dewasa, biarkan dia memilih langkahnya sendiri." ujar Abraham.
"Jadi maksud Daddy, Rea masih belum dewasa, sehingga Daddy tidak membiarkannya mengambil langkahnya sendiri?" ucap Abigail jenaka.
Patricia terkekeh, "Rea sudah dalam dewasa dalam bersikap, bahkan melebihi kau dan Adam. Tapi bagi kami, Rea adalah bayi besar kami."
"Mommy..." Rea merengut karena dikatakan bayi.
Dalam perbincangan hangat keluarga itu, seseorang datang, menarik perhatian mereka. Adam datang tidak sendirian, melainkan bersama seorang wanita cantik mengikutinya di belakangnya.
Rea terpana melihat Adam yang begitu berbeda dari dua tahun terakhir pertemuan mereka. Wajahnya kini menjadi lebih dewasa dan tegas, serta tubuhnya yang dulu kurus kini terlihat lebih berisi oleh otot-otot di bagian tertentu.
Hanya satu yang tidak berubah dari Adam, yaitu tatapan tajam untuknya. Rea segera menundukkan kepala ketika Adam menyorotnya sengit, persis seperti dua tahun yang lalu.
"Selamat pagi semuanya." bukan Adam yang menyapa, melainkan wanita yang datang bersama Adam.
Wanita itu adalah Camila, mantan kekasih Adam. Sama seperti Adam, Camila menjelma menjadi gadis yang amat sangat cantik, membuat Rea sekali lagi terpana memandangnya.
"Selamat Pagi Camila. Kapan kau kembali dari London?" tanya Patricia setelah mereka berpelukan sebentar.
Camila duduk di samping Adam, tepat di depan Rea. Adam mengambil sarapannya dalam diam tanpa menyapa seorang pun di ruangan ini. Sementara Camila yang sempat bertemu pandang Rea, langsung mengalihkan pandangannya menganggap seolah Rea tidak ada di sana.
"Minggu yang lalu aunty." jawab Camila dengan senyum manisnya.
"Maafkan Camila aunty. Camila pikir, Camila tidak lagi diterima di keluarga ini, makanya Camila segan datang. Padahal Camila juga sangat merindukan aunty." tutur bahasa Camila terdengar sangat akrab dengan Patricia, menandakan hubungan mereka dulu cukup dekat.
Rea merasa dirinya terasingkan dalam perbincangan ini, membuatnya ingin cepat-cepat pergi dari sini.
"Tapi ketika tadi malam Adam datang menemuiku, ternyata aku salah paham selama ini." ucap Camila dengan semu merah di wajahnya.
"Mom, Rea ke kamar dulu." ucap Rea pada Patricia setengah berbisik.
"Iya sayang. Segeralah mandi dan bersiap-siap, kita akan pergi ke suatu tempat." ucap Patricia.
Setelah kepergian Rea, Abraham membuka suara. "Uncle dengar, kau sudah bertunangan dengan putra bungsu Tuan Tony Addison, Camila. Bagaimana hubungan kalian sekarang?" ucap Abraham tanpa jeda, membuat Camila terdiam.
"Tunangan?" Patricia kebingungan.
"Itu... Daddy dan Mommy sudah membatalkan pertunangan itu Uncle." ucap Camila.
Camila bisa merasakan tatapan kecewa dari Patricia yang dulu sangat merestui hubungannya dengan Adam.
"Lalu setelah itu, kau datang kembali pada Adam lagi?" tanya Abraham telak.
"Jadi, alasanmu meninggalkan Adam karena itu Camila?" bertubi-tubi pertanyaan datang, membuat Camila tidak dapat berkutik.
"Bukan begitu aunty, Daddy yang merencakan pertunangan itu. Dan Camila sama sekali tidak bisa menolak perintah Daddy." sanggah Camila.
Abraham menggelengkan kepalanya, "Daddy-mu sudah mengatakan semuanya padaku. Bahwasanya kau sendiri yang ingin dijodohkan dengan putra bungsu Tuan Tony!" ucap Abraham telak.
Adam yang mendengar itu mengangkat pandangannya. Melihat Camila, wanita yang dipujanya dengan sengit.