The Mistress

The Mistress
Episode 47



"Smith..." lirih Rea. Gadis itu mengusap air matanya, tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan sepupu sekaligus sahabatnya Adam.


"Kenapa kau keluar, acaranya belum selesai." kata Rea.


Smith mengangkat alisnya, "Kau sendiri? Kau sebagai adik dari pengantin kenapa malah berkeliaran di sini?" balasnya.


Rea terdiam, apalagi ketika Smith menatapnya intens membuatnya semakin kalut. Pandangan Smith seolah mengerti apa yang Rea rasakan saat ini.


Smith tersenyum lembut, "Butuh pelukan?" membuka kedua tangannya lebar-lebar.


Rea mematung untuk beberapa detik, dan tanpa pikir panjang gadis itu menerjang ke dalam pelukan Smith. Tangisnya pecah seketika.


Smith membiarkannya, tidak banyak bicara dan membiarkan Rea memuaskan bebannya. Smith merasakan jas hitamnya basah, tanda air mata gadis itu telah banyak bercucuran.


Cukup lama Rea menangis, sampai dia akhirnya sadar apa yang telah dia lakukan. Ia begitu lancang memeluk sepupu Adam itu.


Lagi-lagi Rea menghapus air matanya dengan sembrono. Smith menghentikannya, "Kau menghancurkan make up-mu." mengambil alih, dan menghapus air mata Rea hati-hati dengan sapu tangan hitam miliknya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kau semakin jelek kalau menangis." ucap Smith jenaka.


Rea tersenyum, meski sebenarnya bibirnya berkerut ingin menangis lagi.


Smith lalu menyelipkan sapu tangan hitamnya ke tangan Rea. "Pegang ini, aku yakin kau akan menangis lagi." ucapnya.


Rea melihat sapu tangan itu, di atasnya terdapat bordiran inisial nama R & S. Membuat Rea mengerutkan keningnya. Ia menatap Smith penuh tanya.


"Jangan berpikir aneh, sapu tangan ini milik kekasihku. Namanya juga sama dengan namamu." ucap Smith.


Rea nampak terkejut, "Nama kekasihmu Rea?"


Smith mengangguk pasti. Dan Rea mengembalikan sapu tangan itu lagi. "Aku kembalikan. Aku tidak pantas menerimanya."


"Aku tidak memberi, tapi meminjamkanmu. Kembalikan setelah kau mencucinya dari ingusmu."


Rea mengerucutkan bibirnya, "Tetap saja. Aku tidak mau." Rea berusaha mengembalikannya, tapi Smith meletakkannya kembali, kemudian pergi.


"Kembalikan saat kau berhenti menangis." ucapnya sebelum meninggalkan Rea di sana.


Rea mematung, ia memperhatikan sapu tangan hitam yang sepertinya sangat mahal dan didesain khusus.


***


"Ayo bertaruh, Adam akan menikahi Rea atau tidak." timpal Royce di tengah kerumunan pesta pernikahan yang teramat megah nan mewah itu.


"Baik." sahut Nicole. "Aku tidak yakin Adam melakukannya. Kalian tahu betapa besar kebencian Adam pada Rea."


Royce dan Drake saling melihat, keduanya tersenyum. "Aku yakin mereka akan menikah dalam waktu dekat ini." timpal Drake.


"Aku sama dengan Drake." timpal Royce.


"Smith, bagaimana denganmu?" ketiganya melihat Smith yang hanya mengaduk gelas winenya dengan mata tertuju pada Rea yang duduk termenung di sana.


Smith mengangkat alisnya, cukup lama ia menjawab. "Aku tidak yakin." jawabnya.


"Oke. Kalau begitu apa taruhannya?" tanya Nicole.


"Aku menginginkan wanitamu." sahut Royce dengan senyum licik.


Nicole mengetatkan rahangnya, "Kau. Beraninya kau sialan!" umpatnya.


"Kita sedang bertaruh Man." Royce mengangkat bahunya.


"Baiklah, kalau begitu aku menginginkan saham yang kau punya di perusahaan keluargamu!" balas Nicole dan itu berhasil membuat wajah Royce pucat.


"Wah, man. Kau mempertaruhkan triliunan dolar hanya untuk perempuan itu. Salut." Drake membuat tanda hormat pada Royce. Mereka semua tertawa mengejek Royce.


"Sialan!" umpatnya.


"Smith, apa yang ingin kau pertaruhkan?" Tanya Drake pada Smith.


"Jika aku menang, aku ingin kalian tidak melakukan hal ini lagi! Terlalu kekanakan!" cetusnya.


Tidak ada yang berani menyanggah.


"Drake, kau tidak ingin bertaruh?"


"Tentu saja. Aku ingin Smith berhenti menguntit Rea." ucap Drake. Dan mereka yang mendengar melayangkan tatapan penuh tanya pada Smith.