The Mistress

The Mistress
Episode 39



Sangat mengejutkan, ketika keluarga Ainsley mengetahui bahwa pria yang telah berani melecehkan putri mereka, ternyata adalah salah satu karyawan mereka di perusahaan mereka sendiri.


Sangat mencurigakan, bagaimana mungkin seorang karyawan rendahan melakukan hal itu pada majikannya. Hanya ada satu kemungkinan, ada seseorang dibalik semua ini.


Bugh...


Entah sudah berapa kali pukulan dari tangan kekar Abraham mendarat di tubuh bajingan yang telah berani melecehkan putri kesayangannya.


"Sialan! Ini untuk kelancanganmu karena telah mengganggu putriku."


Sementara pria itu sudah terkapar tak berdaya, pasrah akan nasibnya. Abraham menghempaskannya untuk yang terakhir kali. Wajahnya masih menunjukkan kebengisan yang menakutkan.


"Bawa dia pergi. Buang dia dari kota ini!" perintahnya pada anak buahnya.


Setelah itu, Abraham pulang menemui Adam, yang merupakan saksi dan orang terakhir yang bersama Rea malam itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Rea bersamamu sejak kau pulang, bagaimana mungkin dia diculik tanpa sepengetahuanmu!" kali ini Abraham tidak menunjukkan keramahannya lagi. Menyangkut Rea, putrinya, Abraham tidak bisa bernegosiasi, bahkan dengan putranya sekali pun.


"Adam juga tidak tahu Dad. Malam itu Rea permisi ke toilet, dan tidak kembali lagi." ucap Adam dengan wajah datarnya.


Abraham mengangkat alisnya, mencari kebohongan yang terselip di wajah pria itu.


"Jangan mencoba membohongiku Adam. Kau memang putraku, tetapi jika kau mencoba mencelakai Rea, itu artinya kau melawan Daddy." ucapannya penuh penekanan.


"Untuk apa aku mencelakai Rea? Apa untungnya bagiku!" sangkal Adam.


"Kau membencinya dari dulu!" tuding Abraham.


"Daddy, jangan terlalu berlebihan, semua itu sudah berlalu. Aku tidak akan melakukan itu pada Rea!" Adam kesal pada ayahnya yang terus-terusan mendesaknya.


"Kalian harus lihat ini!" Patricia tiba-tiba muncul dengan wajah yang tidak bisa diartikan.


Menunjukkan ponselnya berisi berita yang sangat mencengangkan.


"Bagaimana ini Dad? Semua beritanya sudah tersebar di seluruh kota. Dan putri kita sudah dicap perempuan murahan." cecar Patricia.


Abraham mengetatkan rahangnya, rahangnya bergemeletuk menahan amarah yang siap meledak.


"Bajingan sialan itu!" geramnya.


Abraham melihat Adam, putranya yang dia ketahui berdarah dingin.


Abraham tiba-tiba menarik kerah baju Adam, dan menyerangnya.


"Apa yang kau lakukan anak bodoh! Kau sengaja menyebarkan berita itu kan?" teriak Abraham dengan amarah yang berapi-api.


"Abram, hentikan. Apa yang kau lakukan?!" Patricia berusaha menahan suaminya yang sudah tersulut emosi.


"Patricia, asal kau tahu, dalang dibalik semua ini adalah anak bodoh ini. Dia yang merencanakan semua ini!" teriak Abraham.


"Bodoh!" Abraham tidak segan lagi melayangkan tinjunya di wajah putra bungsunya itu.


Patricia yang awalnya membela Adam, terpaku membiarkan suaminya melampiaskan amarahnya. Jika saja Abigail tidak datang untuk melerai, mungkin Adam akan bernasib sama dengan pria bajingan itu.


"Dad, sudah. Adam akan mati." Abigail menahan sang ayah.


"Biar saja! Anak tidak tahu diuntung ini pantas mendapatkannya!" teriak Abraham yang masih belum meredakan amarahnya.


Untungnya Abigail berhasil memisahkan Abraham agar tak lagi menyentuh Adam. Adam mengusap bibirnya yang berdarah akibat sentuhan dari ayah kandungnya sendiri.


"Hanya karena perempuan sialan itu, Daddy sanggup memukulku!" wajahnya menunjukkan kebencian yang telak!


"Aku membencimu Rea!"