
"Tanggung jawab? Tanggung jawab apa yang Daddy maksud? Aku tidak melakukan apa-apa pada anak itu." sangkal Adam, sedikit menebak maksud dari kata pertanggungjawaban itu.
"Jangan berlagak bodoh! Dan jangan mencoba menyangkal. Apa yang Daddy dan Mommy lihat sudah menjadi bukti bahwa kau telah mencoba melecehkan Rea!" Abraham terus mendesak putranya.
Adam menggelengkan kepalanya, tidak menyangka ia akan terjebak dalam permainan yang Rea ciptakan.
"Dad..."
Abraham mengacungkan telapak tangannya, sebagai tanda berhenti bagi Adam untuk sebuah penjelasan.
"Berhentilah menyangkal, dan siapkan dirimu untuk bertanggung jawab pada Rea."
Abraham hendak pergi, membuat Adam geram. "Pertanggung jawaban apa yang Daddy maksud?"
"Kau tahu apa maksud Daddy tanpa harus dijelaskan. Berkali-kali kau membuat Rea hampir menjadi korban karena ketidaksukaanmu. Kau membuatnya sangat menderita!"
Sementara di kamar lain, Rea masih dalam pelukan Patricia. "Mom, aku sudah kotor. Rea sudah berkali-kali hampir di...."
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Bagi kami kau adalah putri kami yang suci dan tak ternoda. Kami selalu mencintaimu di setiap saat dan keadaan."
"Terima kasih Mom. Rea tidak akan melupakan kebaikan kalian sampai kapan pun."
Patricia menggamit hidung Rea, dan memeluknya penuh kasih sayang. Patricia sangat menyayangi gadis itu melebihi dirinya sendiri.
***
Rea baru saja keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga, setelah sebelumnya Abraham meminta mereka untuk berkumpul. Di saat yang bersamaan, Adam juga keluar dari kamarnya.
"Berhenti kau!" sentak pria itu.
"Sakit Kak." Rea meringis, dengan wajah memelas.
Adam mengeraskan rahangnya, ia tidak melepaskan cengkeraman tangannya. "Apa sebenarnya yang kau rencanakan?!" bentak Adam.
"Malam itu, kau sendiri yang datang ke kamarku dan... kau bersikap seolah aku melakukan sesuatu padamu! Dasar perempuan sialan!" mata pria itu begitu tajam menatapnya.
Wajah yang tadinya polos dan lugu itu tiba-tiba tersenyum. Senyum yang sangat mengejek seorang Adam yang dikenal dengan keangkuhannya.
"Rea tidak punya rencana apapun Kak. Tapi..." gadis itu menggunakan salah satu tangannya yang bebas dari cengkeraman Adam untuk mengerayang bebas di dada bidang Adam. Membuat gerakan abstrak yang sensual.
Adam segera menahan tangan Rea, dan semakin menajamkan tangannya. Adam sungguh tak percaya bahwa Rea sanggup melakukan hal itu.
"Rea hanya ingin membuat tuduhan Kak Adam padaku menjadi sebuah kebenaran." ucap bibir mungil itu. Jika dulu Rea tidak berani menatap Adam, kini Rea mengunci tatapan mereka dengan binar mata yang penuh kelicikan.
"Kakak bilang, Rea adalah perempuan murahan. Jadi Rea akan benar-benar menjadi perempuan murahan seperti yang Kakak mau." senyum Rea masih belum pudar, gadis itu menikmati perannya sebagai pemeran antagonis.
Cengkeraman Adam melemah, membuat Rea memiliki kesempatan untuk kabur. Tapi tidak semudah itu, Adam menariknya sebelum Rea melangkah. Jarak mereka begitu dekat, bahkan menempel sempurna.
Adam mencengkeram rahang kecil yang rapuh itu, "Jangan mencobaiku Rea! Karena kau tidak akan sanggup!" mata elang itu penuh amarah.
Rea malah tersenyum, tidak takut sama sekali, "Maka aku akan mengimbangimu." setelahnya, gadis itu begitu lancang mencuri ciuman di bibir Adam. Ketika Adam terpaku akan perbuatannya, Rea segera melarikan diri sebelum singa itu menerkamnya.