
Seorang gadis masuk ke dalam ruangan VIP itu dengan begitu anggun. Gaun malam berwarna hitam membalut tubuh putih mulus gadis itu. Sepatu haknya yang tentunya tidak murah, membuatnya semakin jangkung. Semuanya terpukau, termasuk Rea, terpesona akan kecantikan wanita anggun itu.
Tetapi tidak dengan Adam, yang tatapan matanya menggelap setelah kehadiran wanita itu. Adam menatap keempat sahabatnya bergantian dengan sengit.
"Camila, kau datang? Silahkan duduk." sapa Nicole.
Gadis itu adalah Camila, mantan kekasih Adam. Entah siapa yang mengundang gadis itu kemari.
"Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu, kau semakin cantik saja." Nicole membuka pembicaraan, meski suasana mencekam oleh tatapan Adam.
"Thank you Nicole. Akhirnya kita bertemu lagi. Setelah Adam pindah, kalian juga ikut-ikutan menghilang." ucap Camila.
Wanita itu tersenyum, pandangannya sedari tadi pada pria paling tampan di meja itu. Adam. Pria pujaan hatinya yang merupakan cinta masa kecilnya.
"Adam, kau tidak ingin menyapaku?" Camila sama sekali tidak menyadari aura gelap di mata Adam.
Adam berdiri tiba-tiba, kemudian menarik tangan Rea. "Maaf, kami tidak bisa ikut makan malam bersama kalian. Aku punya urusan mendadak." ucap Adam dengan nada ketus.
"Adam, jangan bercanda. Camila baru saja sampai. Setidaknya tunggulah sebentar." tahan Nicole.
Adam menatap Nicole sengit, pria itu tahu sahabat-sahabatnya merencanakan malam ini. "Kami tidak bisa menunda urusan kami!" Adam menatap Rea, memberi isyarat agar bergegas.
"Ayo." ajaknya. Dan Rea yang bingung akan keadaan menurut saja.
"Kenapa kita pergi tiba-tiba?" tanya Rea begitu mereka sudah berada dalam mobil.
Adam tidak menjawab, pria itu melajukan mobil dengan kencang membuat Rea terkejut.
"Hati-hati Kak. Aku takut." Rea menegur, tetapi masih tak kunjung dihiraukan oleh Adam.
"Kak..." rengek Rea.
"Diam!" suara Adam menggelegar di dalam mobil, begitu kencang membuat Rea seketika bungkam.
Untuk yang pertama kalinya ia dibentak, Rea hampir menitikkan air matanya. Gadis itu menatap lurus ke depan, takut melihat Adam yang kini benar-benar marah.
"Maaf. Aku terbawa emosi." tangan besarnya mengusap punggung Rea. Tubuh gadis itu bergetar menahan tangis.
"Sorry, aku tidak bermaksud membentakmu." pria itu menghapus air mata Rea.
Rea menggeleng, "Aku baik-baik saja. Aku saja yang terlalu cengeng." Rea menghapus air matanya.
Entah mendapat bisikan dari mana, Adam mencium kening Rea, membuat Rea terpaku.
"Kenapa?" tanya Adam.
Rea menggeleng, lalu tersenyum. "Jangan menangis lagi. Aku tidak akan membentakmu lagi." kemudian memeluk Rea lagi.
"Sudah? Kita bisa pulang?" ucapnya setelah melepas pelukannya.
Rea mengangguk, tetapi tiba-tiba perut Rea berbunyi karena kelaparan. Wajah gadis itu memerah malu.
"Kau kelaparan karena diriku. Lebih baik kita makan malam di restoran terdekat." ucap Adam.
Rea tersenyum pasrah, "Terserah Kakak saja."
***
"Apa yang kau lakukan sehingga Adam begitu marah?" tanya Nicole setelah kepergian Adam dan Rea.
Camila diam, cukup lama ia menjawab. "Hanya salah paham biasa. Tapi aku tidak tahu kalau Adam semarah ini padaku." ucap Camila dengan wajah sok polosnya.
"Heh, salah paham biasa?" Smith tertawa sinis. Sepupu Adam itu seperti mengetahui sesuatu.
"Apa yang kau ketahui Smith?" tanya Royce.
Smith menggeleng, "Tanyakan saja pada wanita ini." kemudian bergegas meninggalkan mereka semua.