The Mistress

The Mistress
Episode 52



Sudah dua hari ini Rea mengurung diri di kamarnya. Lagi dan lagi disebabkan oleh Adam yang selalu menghancurkan perasaannya. Sudah dua pula Rea tidak mau makan barang sesuap pun. Patricia maupun Abraham tidak lagi ia hiraukan.


Kabar itu pun terdengar oleh Adam pagi ini di meja makan. Patricia mencecarnya akan apa yang terjadi malam itu.


"Adam, apa yang sebenarnya yang terjadi malam itu? Kenapa Rea mengurung diri di kamarnya dan tidak mau makan?" tanya Patricia.


Adam dengan wajah datarnya, "Tidak ada yang terjadi Mom."


"Tidak mungkin. Kau pasti menyembunyikan sesuatu." tuding Patricia.


Bersamaan dengan itu, pelayan yang mengantar sarapan Rea datang, membawa kembali nampan yang masih belum tersentuh sama sekali. Ini sudah ketiga kalinya pelayan itu kembali dari kamar Rea.


"Rea masih tidak mau makan?" tanya Patricia lesu.


Pelayan itu mengangguk, "Iya Nyonya. Nona Rea mengunci kamarnya."


"Bagaimana ini? Sudah dua hari Rea tidak makan. Dia akan sakit nanti." keluh Patricia.


Tiba-tiba Adam berdiri, mengambil alih nampan dari pelayan. "Bawa kunci duplikat kamar Rea!" perintahnya. Kemudian pergi menuju kamar gadis itu.


Begitu Adam sampai di depan kamar Rea, pelayan dengan cepat mengantar kunci kamar dan membukakannya. Adam masuk dan segera mengunci kamar Rea dari dalam.


Adam melihat ranjang yang kosong, ia meletakkan nampan sarapan Rea di atas meja sofa yang ada di tengah ruangan.


Tempat pertama yang ia periksa adalah kamar mandi, dan benar saja, Rea ada di sana. Namun kondisi gadis itu mengejutkan Adam. Rea saat ini terkulai di lantai dengan kepala tersandar di atas kloset. Bahkan Rea belum mengganti bajunya yang tidak layak pakai sejak malam itu.


Adam membelalakkan matanya, ia segera mendekat dan memeriksa kondisi gadis itu. Ketika ia membalikkan wajahnya, Adam terkejut melihat wajah pucatnya. Pria itu memindahkan Rea ke tempat tidur.


Adam menghubungi dokter, setelah memeriksa suhu tubuh Rea yang sangat panas.


"Apa yang kau lakukan gadis bodoh!" gerutu Adam.


Ketika Adam memakaikan bajunya, rupanya Rea sadar. Gadis itu berteriak ketika melihat wajah Adam.


"Jangan lakukan itu.... Kumohon...." Rea berteriak histeris seakan ia akan disakiti.


Adam membekap mulutnya, "Jangan berteriak! Kau ini kenapa?" kening Adam berkerut kesal.


Rea hanya menggeleng, air matanya kembali menggenangi matanya. "Jangan coba-coba bersuara atau aku akan benar-benar melakukannya!" ancam Adam.


Adam melepaskan bekapannya, ia kemudian melanjutkan mengancingkan piyama satin gadis itu.


"Kau memang benar-benar gadis bodoh!" gerutu Adam.


"Duduk!" perintah Adam, namun Rea malah mematung. Ia masih begitu ketakutan.


Adam berdecak, dengan kesal ia mendudukkan Rea dan bersandar di dipan.


"Buka mulutmu!" menyuapkan bubur, tapi Rea menutup mulutnya rapat-rapat. Hal itu semakin menyulut emosi Adam. "Rea, jangan memancing emosiku!"


"Perutku sakit..." rintih gadis itu.


"Rasakan! Memangnya siapa suruh tidak mau makan?!" bukannya mengobati, Adam malah mencacinya.


Rea diam, perutnya memang benar-benar kesakitan saat ini. Lagi pula, bagaimana mungkin ia bisa makan dengan tenang, setelah mengetahui kehormatannya telah direnggut. Adam benar-benar tidak mengerti perasaannya.


"Cepat makan ini, atau perutmu akan meledak karena tidak terisi!" dengan paksa, Adam menyupi Rea, tidak peduli Rea yang tidak berselera makan saat ini.


"Dasar! Menyusahkan saja!"