
Pesta telah usai dan sudah berlalu satu minggu. Abigail telah kembali ke San Diego bersama istrinya untuk memulai hidup baru di sana.
Setelah pesta putra sulungnya selesai dan berjalan dengan lancar, kini Patricia bersiap mempersiapkan pesta pernikahan putra bungsunya.
Meski sebenarnya Rea maupun Adam sudah menolak pesta mewah untuk pernikahan mereka, Patricia tetap kekeh. Kedua putranya harus diperlakukan dengan adil, terlebih pada Rea. Seluruh dunia harus tahu bahwa kini Rea akan menjadi miliknya seutuhnya.
"Adam, hari ini kalian akan pergi ke butik Carol untuk memilih gaun pengantin Rea. Mom akan menyusul setelah selesai menemani Daddy bertemu dengan temannya dari Swiss." ini sebuah perintah yang tidak boleh dibantah oleh Adam.
Adam tidak menjawab, dia menganggap ucapan Patricia hanya angin lalu, meski pada akhirnya dia akan tetap melakukannya.
Pada saat itu juga, Rea turun dari kamarnya. Sudah rapi dan terlihat cantik dengan gaun selutut berwarna hitam.
"Kemari sayang." menyambut Rea, kemudian membenahi rambut panjang bergelombang gadis itu.
"Pilih gaun yang paling indah untuk Rea, karena sebentar lagi dia akan menjadi ratu sejagat." ucap Patricia.
Berbeda dari Patricia yang selalu bersemangat, Rea dan Adam malah sebaliknya. Keduanya masih sangat menolak pernikahan ini.
Di dalam mobil dalam perjalanan ke butik terkenal milik desainer profesional, Rea hanya diam saja, begitu juga Adam. Keduanya hanyut dalam lamunan masing-masing.
"Apakah Kak Adam tidak bisa melakukan sesuatu agar pernikahan ini dibatalkan?" tanya Rea tiba-tiba.
Adam menatap Rea, pria itu bisa melihat bahwa ia sangat tertekan akan rencana pernikahan ini. Tetapi kebencian di hatinya mengalahkan segalanya. Baginya, setiap ucapan yang keluar dari mulut gadis itu hanyalah sebuah kebohongan dan sandiwara.
Bagi Adam, ucapan Rea saat ini, agar tidak menunjukkan bahwa ia sebenarnya sangat menginginkan pernikahan ini. Rea hanya berpura-pura akan setiap kepolosannya.
"Matilah, maka pernikahan ini batal!" ucap Adam tanpa perasaan sama sekali. Dan itu berhasil membuat jantung Rea berhenti berdetak. Betapa pedasnya mulut pria yang katanya akan menjadi suaminya.
Rea tidak menjawab, hatinya bagai dibelati dengan sangat dalam.
Sesampainya di butik, Adam tidak melakukan apa yang Patricia suruh. Pria itu hanya duduk dan menunggu tanpa mempedulikan Rea.
Rea tidak banyak memilih, dia hanya mencoba dua gaun saja, setelah itu meminta pemilik butik memilihkan yang mana saja.
Rea berdiri di depan Adam yang duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya. Pria itu menyadari kehadirannya.
"Ada apa?!" sangat tidak ramah.
"Sudah selesai. Ayo pulang." ucapnya singkat. Sejak Adam mengatakan kata-kata yang menyayat itu, dunianya menjadi gelap. Gadis itu tidak bersemangat melakukan apapun lagi.
Adam tidak menyangka akan secepat ini, padahal ia sudah menebak betapa bersemangatnya Rea memilih gaunnya dan menunjukkan padanya untuk meminta penilaiannya.
Namun Adam tidak peduli, justru dia senang karena tidak akan direpotkan oleh sesuatu hal yang tidak berguna.
Tanpa menjawab, Adam berjalan keluar dari butik yang diikuti oleh Rea.
"Katakan saja Rea, sebenarnya kau sangat ingin menikah denganku kan?" ucap Adam ketika mereka dalam perjalanan pulang.
Rea tidak menjawab, dan tidak berniat menghiraukan pria itu.
"Aku tahu, kau berpura-pura menolak agar Mommy dan Daddy menganggap seolah-olah kau sangat tersakiti. Padahal malam itu, kau sendiri yang melempar tubuhmu padaku." ucapan itu penuh hinaan.
Rea menatapnya sengit, dia tidak bisa membantah bahwa dia sendiri yang datang ke kamar Adam dan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Tapi untuk pernikahan ini, semua di luar tebakannya.
"Berhenti!" teriak Rea, membuat Adam terkejut hingga pria itu berhenti mendadak.
"Ya, aku memang sengaja datang ke kamar Kakak malam itu. Aku melakukan itu untuk mewujudkan tuduhan Kakak. Dan sekarang aku bukanlah Rea yang dulu. Sekarang aku hanyalah perempuan murahan yang mengincar harta keluarga Ainsley." air mata Rea berhamburan begitu deras. Gadis itu sangat lelah akan semua tuduhan Adam.
"Aku perempuan murahan Adam!" teriak Rea. "Dan aku lebih baik menjadi wanita murahan dan menyerahkan tubuhku pada laki-laki lain, dari pada harus menikah denganmu!" Rea memuaskan segalanya.
Muak melihat wajah Adam yang selalu bengis, Rea membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Gadis itu berjalan berlawanan arah.