The Mistress

The Mistress
Episode 45



"Dad.... Rea mohon jangan lakukan ini pada Rea. Rea tidak mau menikah dengan Kak Adam. Daddy tahu sendiri kan kalau Kak Adam sangat membenciku? Kak Adam pasti akan menyakitiku nanti Dad..." Rea memohon bersimpuh di hadapan Abraham yang ketika itu didatangi oleh Rea ke ruang kerjanya.


Abraham membantu Rea berdiri, menghapus air mata dan memeluknya. "Adam tidak akan berani menyakitimu. Daddy bisa menjamin hal itu Nak." ucapnya. Sebenarnya Abraham juga tidak rela membiarkan Rea menikah dengan Adam, putra bungsunya yang minus akhlak dan sangat membenci Rea. Tetapi Abraham sama sekali tidak punya pilihan lain saat ini.


Rea menggeleng dalam pelukannya, "Kumohon Daddy... Rea lebih baik tidak menikah selamanya dari pada harus menikah dengan Kak Adam." isak gadis itu.


Namun, Abraham tetaplah Abraham, yang begitu sulit diganggu keputusannya, bahkan oleh istrinya sendiri, Patricia.


Rea terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Air mata masih mengalir di pipinya, memohon pada Abraham tak kunjung membuatnya mengubah keputusannya.


Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, sehingga mendapatkan ide yang tidak masuk akal itu. Bagaimana mungkin mereka menikahkan Rea dengan irang yang sangat membenci dirinya. Apakah mereka tidak berpikir, bahwa Adam akan semakin mudah menindasnya kelak?


"Pernikahan akan dilakukan secepatnya setelah pernikahan Kakakmu selesai." ucap Patricia ketika makan malam di keluarga Ainsley.


Rea dan Adam kompak melihat Patricia dan melayangkan tatapan tidak terima. Adam akan membuka suara, tapi Abraham menyela.


"Adam, jangan membuat keributan di meja makan. Dan jangan mencoba membantah Mommy-mu!" peringatnya.


Adam kesal bukan main, anak muda itu kini tidak berselera makan lagi. Pria itu memilih meninggalkan meja makan sebelum makan malam dimulai.


Beberapa saat kemudian, Rea meletakkan sendok dan garpunya. "Mom, Rea tidak berselera makan lagi." ucapnya lesu.


"Tapi sayang, kau belum menyentuh makan malammu."


Rea menggeleng, "Rea akan makan kalau lapar. Rea ke kamar dulu." gadis itu bangkit meninggalkan meja makan.


"Mom, Dad... apakah tidak ada cara lain? Menikahkan mereka sama saja dengan menyatukan air dengan api. Rea akan menderita jika pernikahan itu dilakukan." sela Abigail setelah kepergian Rea. Putra sulung keluarga Ainsley itu juga bingung akan keputusan kedua orang tuanya.


"Daddy sudah memikirkan semuanya matang-matang Nak. Persiapkan saja dirimu untuk pernikahan kalian. Ingat, dua hari lagi kalian akan sampai di hari bahagia kalian." ucap Abraham.


"Claudya, Daddy mohon berikan pengertian pada Rea. Mungkin jika kalian sesama perempuan bicara, Rea bisa menerima keputusan ini." ucapnya pada Abraham.


Claudya mengangguk, "Baik Dad. Clau akan melakukannya."


***


Sementara, ketika Rea berjalan menuju kamarnya, Rea dicegat oleh Adam. Pria itu mengurungnya dibalik tubuhnya uang besar nan kekar.


"Lepaskan!" kening Rea berkerut.


"Ini yang kau inginkan bukan? Rencanamu dari awal adalah menjebakku, iya kan. Jawab aku Rea!" cecar Adam, begitu dekat di wajah gadis itu.


Rea tidak menjawab, namun ia membalas tatapan Adam yang tajam. Batinnya tersiksa ketika tahu akan dinikahkan dengan manusia iblis di hadapannya ini.


Adam tersenyum sinis, "Jangan berharap rencanamu akan berhasil. Kau pikir aku mau menikahimu? Heh. Dalam mimpi pun tidak akan pernah terjadi."


"Lebih baik kau sadar diri. Kau bukan siapa-siapa di keluarga ini. Lebih baik kau pergi dan tinggalkan keluargaku dengan damai!"