
Rea sekuat tenaga memukuli pria yang berada di atas tubuhnya. Gadis itu meronta, namun tak sedikit pun pria asing itu menyingkir darinya.
"Lepaskan aku..." tangis Rea. Gadis itu berharap seseorang datang menyelamatkannya.
Dan itu benar-benar terjadi, pintu kamar terbuka dengan paksa. Seseorang datang, menyaksikan bagaimana Rea dilecehkan di atas ranjang sana. Pria itu geram, berlari kemudian menarik kerah baju pria asing itu dari Rea.
Menghempaskannya ke lantai, kemudian memukuli pria itu tanpa ampun. Tidak ada ampun, pukulan demi pukulan melayang ke wajah pria itu.
"Sialan!" umpat pria penyelamat gadis itu.
"Kak Adam..." Rea beringsut di atas ranjang. Perasaannya begitu lega, meski jantungnya masih bertalu-talu begitu kencangnya.
Ya, pria penyelamat itu adalah Adam. Menghancurkan pria brengsek itu dengan begitu brutal.
Namun, tak urung pikiran Rea dipenuhi akan ucapan pria yang hampir menodainya. Bukankah Adam yang menjualnya pada pria ini? Lalu kenapa sekarang Adam berperan seolah ia sangat marah ketika adik perempuannya hampir dinodai?
Jika saja Patricia dan Abraham tidak datang dan menahan Adam, mungkin pria itu sudah kehilangan nyawanya.
"Adam, kendalikan dirimu!" Abigail pun ikut, segera menarik adiknya.
"Mommy...." Rea terisak lirih di sana, menarik perhatian semua anggota keluarga.
Patricia yang cemas ketika tahu putri kesayangannya diculik dan hampir diperkosa, segera berlari dan memeluk Rea.
"Sayang, kau tidak apa-apa kan Nak?" memberikan pelukan erat agar Rea tenang. Namun tidak semudah itu, Rea begitu terkejut sehingga meninggalkan trauma dalam dirinya.
"Mom... Rea takut. Orang itu hampir...." Rea tidak sanggup bicara. Hanya tangisnya yang memenuhi kamar itu.
"Maafkan Mommy sayang. Mommy terlambat datang menyelamatkanmu."
Rea hanya bisa menangis. Wajah Abraham begitu gelap, dipenuhi amarah yang tak terkira. Bagaimana pun, dia sangat menyayangi Rea menjadi putrinya. Tentu, ketika ia tahu putrinya hampir dilecehkan, mana mungkin ia tinggal diam.
"Bawa manusia tidak berguna ini, aku akan menghukumnya nanti!" perintahnya pada anak buahnya yang baru saja datang.
Setelah bajingan itu dibawa keluar, semuanya mendatangi Rea, Abraham merapikan rambut putrinya dan menghapus air matanya.
"Daddy ..." Rea seseunggukan, membuat hati seorang ayah itu begitu pilu. Putrinya terlihat sangat menyedihkan. Abraham langsung memeluk Rea, memberikan kenyamanan yang tiada taranya.
"Maafkan Daddy sayang. Daddy tidak bisa menjagamu dengan baik. Kamu tenang saja, bajingan itu akan mendapatkan ganjarannya. Beraninya dia menyentuh putriku." ucap Abraham.
Mendengar itu, Rea melihat Adam yang juga menatapnya intens. Pertanyaan-pertanyaan itu masih bersarang dalam otaknya. Benarkah Adam dibalik semua kejadian ini?
Rea memutus pandangan itu, melihat Adam membuat hatinya semakin gundah.
"Rea mau pulang Dad." lirihnya.
"Ya sayang. Kita pulang."
Melihat kaki Rea yang gemetar akibat traumanya, Abigail mengambil alih.
"Biar aku yang gendong." meraup Rea dalam gendongannya.
Mereka semua pergi, terkecuali Adam yang hanya melihat kepergian mereka. Wajahnya pucat, seperti menyimpan suatu penyesalan, entah apa itu.
"Maafkan aku. Aku tidak mengira kau setakut itu." lirihnya entah apa maksudnya.
Adam beralih pada meja nakas yang ada di samping tempat tidur, kemudian mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Kau memang baik, tetapi kehadiranmu membuatku tidak nyaman."