The Mistress

The Mistress
Episode 36



Rea membuka matanya ketika merasakan sakit luar biasa menyerang kepalanya. Gadis itu menyusuri ruangan yang tidak dia ketahui dan belum pernah ia datangi sebelumnya.


"Aku dimana?" lirihnya. "Auu..." gadis itu meringis.


Berada di sebuah tempat tidur, Rea kebingungan. Seingatnya Rea sedang makan malam bersama Adam di sebuah restoran yang tidak jauh dari kantor. Dan Rea tidak tahu mengapa ia berada di kamar ini.


Tidak ingin kebingungan merajainya, Rea bangkit dari ranjang raksasa itu. Rea tebak, kamar ini adalah kamar hotel.


Gadis itu membuka pintu kamar, namun sayang pintunya terkunci dari luar.


"Halo, apa ada orang di luar sana?" gadis itu memutar-mutar kenop pintu.


Namun tak ada jawaban, tentu saja karena kamar hotel biasanya kedap suara. Cukup lama Rea berada di dalam kamar itu, mondar-mandir ke sana kemari untuk mencari jalan keluar. Tetapi nihil, kamar ini benar-benar terisolasi.


Sampai akhirnya pintu kamar terbuka, Rea begitu semangat menghampiri seseorang di sana.


"Syukurlah. Terima kasih sudah menolongku." ucap Rea pada seorang lelaki jangkung yang menatapnya dengan liar.


Rea hampir keluar dari sana, tetapi pria asing itu menarik lengannya.


"Heh, kau kemana? Kau pikir aku datang untuk menolongmu?" suara bariton pria itu menggelegar ke dalam gendang telinganya.


Rea ketakutan dalam seketika, "Kau siapa? Dan kenapa aku bisa ada di sini?" cecarnya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tetapi satu hal yang harus kau ketahui, kau adalah milikku malam ini!" ucap pria itu penuh penekanan.


Pria asing itu menarik Rea dan menghempaskannya ke atas ranjang.


"Apa yang kau lakukan? Kau ini siapa?" teriak gadis itu. Rea hampir menangis, takut pria ini melakukan sesuatu yang buruk padanya.


"Mommy, tolong Rea..." tangisnya.


Tubuh gadis itu bergetar hebat, tubuhnya telah dilecehkan oleh lelaki ini. Tubuh Rea seolah membatu, tidak punya kekuatan sama sekali untuk melawan lelaki ini.


"Kumohon lepaskan aku. Jika kau melepaskanku, aku tidak bicara pada siapa pun." hanya permohonan ini yang bisa Rea lakukan.


"Memangnya aku peduli jika kau membeberkan kemesraan kita pada orang lain? Heh. Silahkan saja. Justru kau yang akan malu!"


Air mata gadis itu telah banjir, "Jika Mommy dan Daddyku mengetahui perbuatanmu, kau tidak akan mendapat pengampunan."


"Aku tidak peduli! Lagi pula Kakakmu sendiri yang menjualmu padaku! Kau pikir mereka masih peduli padamu?" ucap pria itu.


Rea terdiam, "Kakakku? Si..siapa?" bibir Rea bergetar. Menebak siapa orang yang pria ini maksud.


"Siapa lagi kalau bukan Adam bodoh!" ujarnya lagi.


Rea membelalakkan matanya, sama sekali tidak menyangka Adam sanggup melakukan semua ini.


Bukankah semuanya baik-baik saja? Bukankah hubungan mereka selama ini begitu tulus seperti saudara pada umumnya? Mungkinkah sikap Adam selama ini hanyalah sebuah kepalsuan untuk menjebak dirinya?


Kepala gadis itu dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu.


"Tidak mungkin." bantah Rea, sambil menggelengkan kepalanya.


Pria itu terkekeh, "Terserah jika kau tidak percaya. Tetapi satu yang pasti kau milikku malam ini. Dan jangan coba-coba melawan."


Pria itu mempererat cengkramannya pada lengan gadis itu, dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher jenjang gadis itu.


"Aku mohon lepaskan aku .."