The Mistress

The Mistress
Episode 46



"Buka mulutmu bodoh! Jangan bersikap seolah kau tidak senang dengan keputusan Daddy, padahal sebenarnya kau senang bukan!" sentak Adam karena Rea masih bungkam.


"Aku memang tidak menginginkan pernikahan itu Kak." timpal Rea. "Rea mohon jangan terima keputusan Daddy. Rea tidak mau..."


Sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya, Adam sudah terlebih dulu mendorongnya menjauh dengan kasar.


"Omong kosong! Kau sebenarnya sangat senang, iya kan?!"


Rea hanya menggeleng, tidak ingin menjawab lagi, karena akan percuma saja.


"Dasar perempuan licik, ternyata kau sebusuk itu! Aku pastikan kau akan membayar lebih untuk ini!" sentak Adam, lalu pergi begitu saja.


***


Hari pernikahan Abigail, putra sulung Abraham Ainsley telah tiba. Semua anggota keluarga telah tampil memukau, terutama pengantin wanita yang akan menjadi ratu sejagat hari ini.


Tidak terkecuali, Rea dalam balutan gaun putih yang di desain khusus untuknya, tampil begitu anggun nan mempesona. Polesan make up tipis membuat kecantikannya semakin menjadi.


Tetapi di balik kecantikan itu, masih nampak kesedihan yang berlarut-larut. Tentu saja, keputusan Abraham masih tidak bisa diganggu gugat. Bahkan tanggal pernikahannya sudah diatur sebulan setelah pernikahan Abigail.


Rea tampak lesu ketika duduk di kursi yang khusus disediakan untuk keluarga Ainsley. Selama pesta, bukan sekali dua kali gadis itu mendengar gunjingan-gunjingan buruk tentang dirinya.


Mereka bahkan terang-terangan membicarakannya di depannya. Namun Rea tidak bisa melakukan apa-apa selain bersikap seolah tuli di tempat itu.


"Lihat anak sialan ini, dia telah berhasil membuat keluarga ini malu." tiba-tiba saja seorang perempuan paruh baya datang menghampirinya.


Rea melihat orang itu, wajahnya semakin tegang saja saat melihat orang yang selalu menindasnya, Bibi Molly. Bertambah sudah deritanya di hari bahagian Abigail dan Claudya tersebut.


Sementara saat itu, tidak ada yang bisa membantunya, Patricia dan Abraham sedang menyapa para tamu, yang ada hanya Adam yang duduk tidak jauh darinya, dan yang pasti tidak akan terharapkan.


"Maaf Bi, Rea mau ke toilet." Rea tiba-tiba berdiri, berlama-lama mendengar cacian Bi Molly bisa-bisa kepalanya pecah dibuatnya.


"Hei anak sialan, aku belum selesai bicara!"


Rea tidak peduli, gadis itu melenggang pergi.


"Dasar, memang kau benar-benar anak tidak tahu diuntung!" umpat Bi Molly.


Keluar dari pesta itu ternyata adalah keputusan yang bagus. Setidaknya Rea bisa bernafas lega dan tidak lagi mendengar gunjingan dari tamu undangan dan Bi Molly.


Rea duduk di kursi taman aula raksasa yang menjadi tempat diadakannya pesta besar itu. Bahu gadis itu bergetar, menandakan bahwa ia tengah menangis. Saat ini, Rea merasa sendiri. Tidak ada yang mengerti dirinya bahkan Patricia dan Abraham sekali pun.


Rea ingin pergi, meninggalkan keluarga Ainsley dan segala kenangan yang ada di dalamnya. Tetapi rasa hutang budi mengikatnya dan membuatnya bertahan. Selain itu, kemana pun dirinya pergi, bukan hal sulit bagi keluarga Ainsley untuk menemukannya.


"Ibu, tolong Rea..." gadis itu menengadah ke langit biru. Berharap penuh akan kuasa-Nya.


"Dia pasti mendengarmu."


Rea terkejut bukan main, ketika seseorang menyahut tangisnya. Gadis itu menoleh, dan seorang laki-laki jangkung berdiri di sampingnya.


Bibir gadis itu berucap pelan, "Kau... siapa?"


Pria itu tersenyum, kemudian duduk di sampingnya tanpa izin lebih dulu.