
Adam menghempaskannya ke ranjang, dan mengungkungnya tanpa membiarkan Rea kabur darinya. Pria itu kembali menenggelamkan bibirnya dalam hangatnya ceruk leher gadis itu.
Tubuh Rea meremang, ia berusaha sadar akan rasa yang menyengat tubuhnya. Dia tidak boleh terbuai akan sentuhan Adam, meski hanya ciuman sedikit pun.
"Lepaskan aku..." gadis itu terisak sangat lirih.
Adam menyudahi kegiatannya, ia menatap gadis itu dengan sangat dalam dan intens. Entah dari mana sikap lembut itu datang, tangan kekarnya menghapus air mata Rea, lalu mengusap rambut gadis itu lembut. Rea keheranan, meski tangisnya masih belum reda.
Kini yang terdengar hanyalah isakan lirih ketika keduanya saling memandang satu sama lain.
"Berhentilah menangis. Kau sangat jelek saat menangis." gerutu Adam. Adam beringsut dari atas Rea. Pria itu berbaring di samping Rea yang kini hanya bisa mematung.
Gadis itu kebingungan akan sikap Dave yang selalu berubah-ubah. Rea segera menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos tanpa sehelai kain pun. Ia sangat malu, karena Adam terlah berkali-kali melihatnya telanjang seperti ini.
Rea tidak ingin dekat-dekat dengan Adam, ia ingin pergi saat ini juga. Tetapi, belum juga ia bergerak, Adam sudah terlebih dulu menariknya. Pria itu mengapitnya di dalam pelukannya.
"Lepaskan aku." Rea ingin berontak, tapi Adam mengunci tubuhnya hingga tak bisa bergerak lagi.
"Diam dan jangan banyak bergerak!" perintahnya.
Tentu Rea tidak menolak, gadis itu ingin bersuara tapi Adam sudah terlebih dulu mengancamnya. "Kalau sampai suaramu terdengar lagi, aku akan benar-benar memperkosamu sampai mati!" ucapnya tanpa perasaan.
Ketika merasa Rea sudah tenang, Adam menyandarkan dagunya di pucuk kepala gadis itu. Pria itu memejamkan matanya, seolah menikmati momen langka ini.
"Sebenarnya kau ini makhluk macam apa?" ucap Adam tiba-tiba. Rea yang mendengarnya bingung dan tidak tahu mau menjawab apa.
"Kau tiba-tiba datang dan masuk ke dalam hidupku. Kau mengacaukan semuanya. Perhatian Mommy-ku, kau merebutnya dariku!" ungkap Adam.
Manik gadis itu berkaca-kaca, kini ia tahu apa yang membuat Adam sangat-sangat membencinya. Itu semua di luar kendalinya, ia juga tidak pernah berharap tinggal di rumah ini dan menjadi bagian dari keluarga Ainsley. Rea terpaksa dan sedikit pun tidak pernah berniat merebut perhatian Patricia dari Adam.
"Kau sangat licik Rea. Hanya karena kau kehilangan orang tuamu, kau pikir kau bisa merebut orang tuaku dariku? Kenapa harus Mommy-ku? Cari orang tua lain, atau kalau tidak pergilah ke panti asuhan agar kau memiliki orang untuk merawat dan membiayaimu!" ucap Adam tanpa perasaan sedikit pun.
Rea benar-benar menangis di pelukan pria itu, gadis itu begitu tertekan akan semua tudingan itu. Apalagi ketika Adam menyebut orang tuanya, hati Rea sangat sakit.
"Berhentilah menangis Rea! Kau tahu satu hal yang paling kubenci darimu? Kau ini sangat lemah dan mudah menangis. Dibentak sedikit menangis, kau sangat menyebalkan bagiku!" gerutu pria itu lagi.
Rea diam untuk beberapa saat, kemudian menengadahkan kepalanya agar bisa melihat Adam.
"Kenapa tidak kakak bunuh saja aku? Semua yang Rea lakukan selalu salah di mata Kakak. Lebih baik bunuh saja agar Kakak puas!" ucap Rea dengan sembiluh luka di matanya.
Adam tersenyum mengejek, "Kau tidak berhak mati sebelum persetujuanku."