The Mistress

The Mistress
Jadilah Putri Kami



"Rea... bangun sayang. Sudah pagi. Ayo sarapan bersama aunty dan uncle Abraham." Patricia mengelus pipi gadis yang masih sembab itu lembut. Membuat Rea yang masih asik berpetualang dalam mimpinya, terganggu.


Perlahan, Rea membuka matanya. Gadis itu cukup kesulitan karena cahaya matahari yang masuk dari jendela kamar menusuk bola matanya. Senyum Patricia yang teduh menyambutnya.


"Selamat pagi sayang. Bagaimana perasaanmu?" Patricia begitu menyayangi Rea, bagaikan putri kandungnya sendiri.


Tanpa dijawab pun, semua orang pasti tahu perasaan Rea tidak baik-baik saja. Rea begitu murung, berbeda dari hari-hari sebelumnya.


Tentu saja, cahaya surganya telah meninggalkannya. Lalu untuk apa lagi dia hidup? Selama ini Rea belajar mati-matian hanya agar ayah dan ibunya bangga padanya. Tetapi sekarang mereka telah pergi, jadi untuk apa lagi dia melakukan itu.


Rea kehilangan semangatnya, jiwanya bagaikan mati.


"Ayah, Ibu dimana mereka?" lirih gadis itu antara sadar atau tidak.


Seperti yang sudah-sudah, hanya pelukan yang bisa Patricia berikan untuk Rea.


"Sudah sayang. Kau boleh bersedih atas kepergian ayah dan ibumu. Tetapi tidak dengan semangat hidupmu Nak. Kau harus tegar dan kuat untuk menjalani kehidupanmu ke depannya." ucap Patricia.


Manik Rea masih dipenuhi kekalutan, "Lalu untuk apa aku hidup aunty. Untuk siapa aku melanjutkan hidupku, sementara kedua orang tuaku sudah meninggalkanku?"


Patricia memegang kedua sisi bahu Rea, dan mengunci manik Rea.


"Dengarkan aunty sayang. Hidup dan mati ada di tangan Tuhan. Tidak ada yang tahu umur seseorang. Dan kau, kau masih muda. Masa depanmu masih panjang. Dan kau bertanya untuk siapa kau hidup?" menyeka air mata Rea yang kembali membanjiri wajahnya.


"Anak-anakmu kelak! Suamimu!" Rea tertegun kala mendengar kalimat itu.


"Suatu saat nanti kau pasti akan menikah kan? Dan juga memiliki anak dan hidup bahagia bersama suamimu? Apakah kau tidak mendambakan masa itu?" tanya Patricia.


Manik Rea menjawab segalanya, meski bibir mungilnya memilih untuk bungkam. Ya, dari dulu Rea selalu bercerita dengan ibunya. Kelak, dirinya akan menikah dengan seorang laki-laki yang akan membahagiakannya.


"Kau itu sangat cantik Rea, pasti banyak laki-laki yang mau menjadi pasanganmu. Tapi fokusmu untuk saat ini bukan itu. Fokusmu sekarang adalah belajar dan belajar. Mengerti?" panjang lebar Patricia menyemangati gadis malang itu.


Rea mengangguk, meski support dari Patricia tidak menghapus habis pilu di hatinya, Rea menyunggingkan senyumnya, meski sulit rasanya. Setidaknya dia menghargai Patricia hanya dengan senyum itu.


"Bagus. Kau memang anak yang kuat." Patricia gemas, tidak tahan untuk memeluk Rea. Ikatan batin antara dua wanita beda generasi itu sangat kuat meski pertemuan mereka masih bisa dihitung jam.


Rea mengangguk dan mengikuti tuntunan dari Patricia.


"Selamat pagi Rea." sapa Abraham begitu Rea duduk di salah satu kursi makan. Tidak ada Adam di sana, entah kemana anak muda itu pergi.


"Pagi Uncle." Rea tersenyum tipis pada Abraham.


Pelayan hendak menyiapkan sarapan untuk Rea, tetapi Patricia menolak dengan halus.


"Biar aku saja. Aku ingin tahu apa makanan kesukaan Rea." kata Patricia.


"Rea mau makan apa?" tanyanya.


Rea tidak menjawab, gadis itu malah melamun entah membayangkan apa.


"Rea?"


"Iya Bu?" Rea tiba-tiba menjawab, membuat Patricia terpaku mendengar panggilan itu.


Rea menyadari apa yang baru saja dia ucapkan. "Maafkan Rea, Rea..."


"Sst..." Patricia menarik agar Rea bersandar di bahunya. "Tidak apa sayang. Aunty mengerti perasaanmu. Kehilangan orang yang kita cintai memang sulit rasanya."


"Rea, jangan berpikir kau sendirian di dunia ini Nak. Mulai sekarang kau bisa menganggap kami menjadi keluargamu. Kami menerimamu di rumah ini Nak, kapan pun kau mau datanglah pada kami." ucap Abraham dengan kelembutan.


Tangis Rea pecah, rasa dalam dadanya bercampur aduk. Tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata betapa kacaunya hatinya saat ini.


Patricia memegang wajah Rea, membelainya lembut, sebagaimana ia membelai dua bayi laki-lakinya dulu.


"Aunty tahu ayah dan ibumu tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun. Tetapi jika kau mau, aunty dan uncle ingin kau menjadi putri kami. Menjadi anak kami dan menjadi bagian dari keluarga Ainsley." ucap Patricia.


Rea tertegun, semuanya begitu cepat terjadi. Baru kemarin pagi dia memeluk dan mencium ibunya. Tetapi sekarang, mereka telah pergi begitu saja tanpa kata perpisahan.