The Love That Has Returned

The Love That Has Returned
Chap 36



istana, kediaman Zhi yang


Dua hari kemudian, setelah acara perburuan, sejak kejadian yang menimpa Zhi yang, Liu Yaoshan terus menunggu di kediaman Zhi yang untuk melihat keadaan adik kesayangannya yang belum membuka matanya.


"Meimei, cepatlah sadar". ucap Liu Yaoshan memasang ekspresi sedih sambil melihat adik kesayangannya yang terbaring tak berdaya di ranjangnya.


"putra mahkota, sebaiknya anda kembali dulu ke kediaman untuk beristirahat". Tang Jiang mengkhawatirkan putra mahkota karena sejak Zhi yang pingsan Liu Yaoshan samasekali tidak memikirkan dirinya dan terus menunggu Zhi yang siuman.


"putra mahkota". panggil seorang wanita yang masuk ke kamar Zhi yang.


"kau....".


"putra mahkota, sudah dua hari ini kau terus berjaga disini. sebaiknya kau istirahat sekarang, biar aku yang akan menjaga Zhi yang". ucap putri mahkota Han Yue


"tidak! aku ingin menunggunya"


"putra mahkota kau jangan keras kepala seperti ini, bagaimana jika Zhi yang melihat keadaan kakak nya yang demi menjaga dirinya sampai tidak memperdulikan dirinya sendiri. apakah menurutmu dia tidak akan bersedih dan mengkhawatirkan mu?". ucap putri mahkota Han Yue.


"yang kau katakan benar, kalau begitu aku pergi dan jangan lupa kabari aku jika dia sudah siuman". ucap Liu Yaoshan


Liu Yaoshan pun segera pergi dari kediaman Zhi yang dan putri mahkota Han Yue yang menggantikannya berjaga.


kediaman keluarga Wang


terlihat Wang Chunying yang sedang terbaring lemas di tempat tidurnya yang ditemani oleh seorang wanita muda disampingnya.


Wang Chunying perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling ruangan yang ternyata bukanlah kamar di kediamannya melainkan adalah kediaman keluarga nya yang ditempati oleh paman dan bibinya.


"kakak Wang kau sudah bangun". ucap wanita tersebut tersenyum lebar melihat Wang Chunying membuka matanya.


"Bai lin?"


"iya ini aku Bai lin yang menjagamu selama kau belum siuman, kakak Wang aku merasa kecewa sepertinya kau sudah melupakan ku".


"sudahlah, aku akan memberitahukan kepada bibi kalau kau sudah bangun". ucap Bai lin tidak lain adalah teman masa kecil Wang Chunying sekaligus keponakan dari istri paman nya.


"aakhh.....". lirih Wang Chunying memegangi lukanya dan bangun dari tempat tidurnya.


"kenapa aku ada disini?".


"tuan! kau sudah bangun". ucap Lou ying yang sudah ada di depan pintu kamar Wang Chunying.


"bagaimana keadaanmu?". tanya Lou ying melihat keadaan Wang Chunying.


"aku baik-baik saja, tapi kenapa aku ada disini?". tanya Wang Chunying yang merasa bingung karena tempat dimana dia berada.


"yang mulia kaisar yang membawamu kesini untuk dirawat, jadi saya....". belum sempat menyelesaikan perkataannya Wang Chunying langsung menyelanya.


"aku mengerti, sekarang kita kembali ke kediaman". ucap Wang Chunying sambil mengambil pakaiannya yang ada di meja kamarnya.


"tapi tuan keadaan mu....."


Wang Chunying mengabaikan perkataan Luo ying dan segera keluar dari kamarnya, mau tidak mau Luo ying hanya bisa pasrah mengikuti perkataan Wang Chunying yang keadaannya belum pulih sepenuhnya.


"aku ingin pulang". jawab Wang Chunying dengan wajah datarnya.


"nak, kau belum pulih, sebaiknya kau masuk kembali dan beristirahat". ucap bibinya


"yang dikatakan bibimu itu benar, sebaiknya kau masuk kembali ke kamar mu". sambung pamannya


"itu tidak perlu, aku bisa merawat diriku sendiri". balas Wang Chunying dengan ekspresi dingin melihat kearah paman nya, ia mengabaikan perkataan paman dan bibinya, lalu segera pergi dari kediaman keluarga Wang.


"kakak Wang!". panggil Bai lin melihat Wang Chunying yang berjalan keluar.


"bibi.....". ucap Bai lin merajuk kepada bibinya


"Bai lin kau jangan khawatir, chunying tidak mengabaikan mu. mungkin karena ini pertemuan pertama kalian setelah bertahun-tahun. jadi, itu sebabnya dia merasa canggung".


"yang dikatakan bibi benar, mungkin kakak Wang merasa canggung". ucap Mei Lin dengan senyuman diwajahnya.


Istana, kediaman putra mahkota


"putra mahkota, saya ingin memberitahukan sesuatu tentang kejadian yang dialami putri Zhi yang"


"katakan" Liu Yaoshan seketika menaruh buku yang ia pegang setelah mendengar ucapan tang Jiang


"saya sudah menyelidikinya bahwa ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai putri"


Tang Jiang memberitahukan kepada Liu Yaoshan bahwa ada seseorang yang meracuni kuda yang ditunggangi oleh Zhi yang, sehingga membuat kuda nya tidak terkendali.


"kenapa kau baru memberitahukan kepada ku sekarang!". ucap Liu Yaoshan dengan tegas


"itu karena pangeran selalu di sisi putri dan mengkhawatirkan nya, jadi saya......"


"sudahlah, sekarang beritahu aku, siapa yang berniat untuk mencelakai Zhi yang?". tanya Liu Yaoshan seketika wajah nya berubah jika menyangkut adik kesayangannya.


"saya belum mengetahuinya putra mahkota, tapi Ming Huo berkata kepadaku saat ingin mengambil kudanya dia melihat dua orang pengawal dari kejauhan yang memegang kantong wewangian".


tang Jiang berkata jika dia dan Ming Huo mencari tahu tentang kantong wewangian yang dia lihat lewat gambar yang diberitahukan Ming Huo dan mereka mendatangi seluruh toko sampai pedagang di jalanan untuk menanyai, apakah mereka menjual kantong itu atau menjual ke seseorang.


"ternyata tidak ada seorang pun yang menjual kantong itu"


"perlihatkan kepada ku gambar nya". suruh Liu Yaoshan meminta Tang jiang untuk menunjukkan Ilustrasi kantong wewangiannya.


"I-ini.....". Liu Yaoshan terkejut melihat gambar yang ditunjukkan Tang Jiang, tiba-tiba Liu Yaoshan mengeluarkan kantong wewangian dari dalam bajunya dan mencocokkannya dengan gambar tersebut.


"putra mahkota, ini.....". Tang Jiang pun merasa bingung dengan apa yang dia lihat, karena gambar yang dia tunjukkan sama dengan kantong wewangian yang dipegang Liu Yaoshan.


"Ini milik Xiu ying!".


"Tang Jiang, jangan beritahukan kepada siapapun tentang hal ini termasuk Zhi yang. lalu hilangkan kertas itu". suruh Liu Yaoshan.


"baiklah, putra mahkota". sambung Tang Jiang yang mengerti apa yang seharusnya dia lakukan.


"bagaimana bisa dia melakukan hal ini kepada saudaranya sendiri ". Batin Liu Yaoshan seketika tubuhnya menjadi lemas dan masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat.