
Di depan toko baju, putri mahkota bersama Zhi yang dan para pelayan nya.
"Maaf tadi aku menyela perkataan mu, aku tau kau ingin membelaku, tapi aku pikir sebaiknya kita tidak perlu meladeni wanita seperti itu". ucap Putri mahkota kepada Zhi yang.
"Putri mahkota tidak perlu meminta maaf, aku mengerti maksud perbuatan mu tadi". sambung Zhi yang dengan senyuman manis.
"kau tidak perlu memanggilku seperti itu, panggilan aku jiejie, aku tahu kau adalah Putri Zhi yang". ucap putri mahkota Han Yue.
"ya..? bagaimana kau tahu kalau aku calon adik ipar mu? bukankah kita belum pernah bertemu". Tanya Zhi yang merasa bingung.
"walaupun aku tinggal di perbatasan kota aku harus tetap menghargai orang yang akan menjadi keluarga ku nanti, jadi aku meminta ayahku untuk melihat gambar keluarga kekaisaran agar aku tidak membuat kesalahan saat bertemu dengan keluarga baruku". Jawab putri mahkota Han Yue.
"ahh, jadi seperti itu". Ucap Zhi yang dengan senyuman lebar.
"Meimei, ternyata kau terlihat cantik jika dilihat dari dekat, lihatlah tangan mu yang mulus ini dan wajah mu yang tirus". Ucap putri mahkota Han Yue sambil mengelus kedua tangan Zhi yang dan menyentuh wajah Zhi yang.
"nona, Jangan bersikap seperti ini jika tidak demi dirimu, maka ingatlah reputasi ayahmu". bisik pelayan Han Yue yang ada disampingnya.
"ya, baiklah". balas putri mahkota Han Yue
pelayan nya berusaha mengingatkan cara berperilaku selayaknya putri mahkota, karena pelayannya itu tahu bagaimana sikap putri mahkota yang dilayaninya sejak lama, yaitu putri seorang jenderal perbatasan kota bagian timur yang sifatnya tidak seperti perempuan pada umumnya karena dia berada di lingkungan yang dipenuhi kaum pria sehingga dia berperilaku bebas, tetapi memiliki hati yang lembut.
"aku merasa jika kita cocok menjadi saudara, jiejie tenang saja tanpa butuh waktu lama, kita pasti akan segera akrab karena aku orang yang mudah bergaul". ucap Zhi yang membicarakan dirinya dengan bangga.
"Meimei sepertinya yang kau katakan itu benar, apakah kita sudah ditakdirkan untuk menjadi saudara". sambung putri mahkota Han Yue dan mereka bercengkerama dengan ekspresi wajah yang bahagia serta senyuman yang lebar.
"oh ya, bagaimana jika memei ikut dengan ku ke kediaman ku. nanti aku yang akan mengantar mu ke istana". ajak putri mahkota Han Yue.
"sepertinya itu menyenangkan. Li mei kau carilah pakaian untukku bersama Ming Huo setelah itu kembalilah ke istana, aku akan pulang bersama putri mahkota". suruh Zhi yang kepada kedua pelayanannya.
"baik, putri". ucap Li mei.
Zhi yang pun pergi mengikuti Putri mahkota Han Yue ke kediamannya yang sudah di siapkan oleh kaisar sebelum dia ke ibukota. Putri mahkota Han Yue sudah di ibukota selama empat hari dan hanya keluar untuk menemui sang kaisar untuk memberikan hormat nya, itu sebabnya dia belum bertemu dengan Zhi yang.
kediaman putri mahkota Han Yue
"memei masuklah! apakah kau belum sarapan pagi?". suruh putri mahkota Han Yue sambil menanyakannya.
"ah, ya. belum". ucap Zhi yang sambil melihat sekeliling kediaman Han Yue
"kalian segeralah siapkan makanan untuk kami". suruh Han Yue kepada para pelayan nya.
"baik, putri". balas sang pelayan
*karena panggilan putri mahkota agak panjang, so pelayan panggil Putri.
beberapa saat kemudian para pelayan datang membawa nasi serta beberapa menu lauk dan makanan penutup.
"memei, makanlah".
mereka berdua pun menikmati makanan yang siapkan para pelayan, setelah menyelesaikan makanya, lalu mereka memakan makanan pencuci mulut sambil berbincang.
"oh ya, jiejie apakah kau baru kali ini datang ke ibukota?" tanya Zhi yang penasaran, karena selama dia berada di dunia yang dia lintasi tidak mendengar tentang putri mahkota.
"Yaa, kau benar, ini pertama kalinya aku datang kesini". jawab putri mahkota Han Yue.
"loh, kenapa jiejie baru mendatangi ibukota, bukankah seharusnya kau dan kakak sudah lama bertunangan". Ucap Zhi yang.
"ini karena aku tumbuh besar di lingkungan yang berbeda, jadi ayahku memintaku mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan keluarga kekaisaran dan banyak hal yang harus aku pelajari sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk datang ke ibukota. lagipula putra mahkota juga tidak begitu menyukai ku". jelas putri mahkota Han Yue sambil memakan kudapan.
mendengar calon kakak iparnya berkata seperti itu Zhi yang mengerti bagaimana perilaku putri mahkota yang sesungguhnya dan dia juga heran mengapa Kakak laki-lakinya nya itu tidak menyukai wanita yang menurutnya itu sempurna yaitu putri mahkota Han Yue.
"benarkah seperti itu? tapi apa jiejie yakin kalau kakak tidak menyukai wanita yang cantik seperti mu". Ucap Zhi yang menggoda Han Yue.
"kau ini". ucap putri mahkota Han Yue tersipu malu.
"aku juga tidak tahu, tapi sepertinya putra mahkota memang tidak menyukaiku, karena setiap dia melihatku pasti langsung menghindari ku tanpa alasan dan setiap kami bertemu dia hanya membicarakan hal yang penting saja". sambung putri mahkota Han Yue dengan ekspresi sedikit merasa sedih.
"sungguh, tapi bagaimana caranya?". tanya putri mahkota Han Yue.
"aku akan memberitahu........".
Zhi yang pun merencanakan sesuatu untuk membantu Kaka iparnya bersatu dengan kakak laki-lakinya dan mereka berbincang dengan santai.
Jalan pasar
Li mei dan Ming Huo yang sudah membeli keperluan langsung menaiki kereta kuda yang dipenuhi barang, mereka segera kembali ke istana atas perintah Zhi yang tadi, ditengah perjalanan Ming Huo mengajak Li mei berbincang."Li mei, bolehkah aku bertanya sesuatu kepadamu? aku tahu mungkin ini pertanyaan yang tidak sopan tapi aku perlu mengetahuinya".
"pertanyaan apa, sampai membuat mu penasaran seperti itu".
"Di bahu sebelah kiri mu. apakah terdapat tanda lahir berwarna hitam berbentuk bulan sabit?". tanya Ming Huo penasaran.
"Yaa, aku memilikinya, tapi bagaimana kau tahu?!". tanya Zhi yang terkejut apa yang dikatakan Ming Huo itu benar bahwa dia memiliki tanda lahir.
mendengar jawaban Li mei, ekspresi Ming Huo langsung berubah dia tidak tahu harus bagaimana, perasaannya menjadi tak karuan seketika dia mengeluarkan air mata dari matanya dan langsung memeluk Li mei. Li mei pun terkejut karena tiba-tiba Ming Huo memeluk nya, tanpa sadar Li mei juga tidak melepaskan pelukan Ming Huo, dia merasakan perasaan yang berbeda seperti pelukan yang selalu dirindukannya itu kembali kepadanya.
"kau.... kenapa kau tiba-tiba memelukku seperti ini?". tanya Li Mei kebingungan dengan keadaan Ming Huo yang masih memeluk nya.
mendengar Li mei berkata kepadanya, seketika Ming Huo langsung sadar.
"memei aku adalah kakak mu, Li dong zi!".
mendengar hal itu Li mei langsung terkejut, dia tidak percaya bahwa pria yang ada didepannya itu adalah Kakak laki-lakinya yang selama ini dia rindukan.
"apa! kau bohong, aku tidak percaya kepadamu, katakan satu hal yang membuat ku percaya kepadamu". tanya Li mei tidak yakin.
"aku ingat waktu kecil, saat kau pertama kali memakan kacang, wajah mu langsung merah itu karena kami semua tidak tahu jika kau alergi terhadap kacang dan akhirnya ayah menyuruh semua pelayan untuk tidak pernah memasak makanan dengan kacang-kacangan". jawab Ming Huo dengan yakin.
mendengar penjelasan Ming Huo seketika Li mei mengeluarkan air mata dari matanya.
"kau benar-benar Kakak ku?". ucap Li mei sambil menyentuh wajah Ming Huo.
"Yaa.....aku Kakak mu!".
mereka berdua pun menangis terharu, serta sedih karena mereka sudah berpisah selama bertahun-tahun.
"kakak....aku merindukanmu....hikss....hikss".
ucap Li mei mengeluarkan air mata sambil memeluk kembali kakak nya itu
"aku juga sangat merindukanmu, sudah lama aku mencari mu, akhirnya aku menemukanmu". ucap Ming Huo mengeluarkan air mata dalam keheningan.
"tapi bagaimana kau tahu jika aku adalah adikmu?". Tanya Li mei
"itu karena putri memanggil namamu saat pertama kali kita bertemu". jawab Zhi yang.
"jadi itu sebabnya Kakak ingin menjadi pengawal putri". ucap Li mei tanpa tahu tujuan kakak yang sebenarnya.
"yaa! kau benar". sambung Ming Huo berbohong karena tujuan awal dia mendekati Zhi yang bukanlah karena hal itu dan dia juga tidak menyangka tujuannya itu membawanya menemui adik kandungnya yang sudah lama berpisah bertahun-tahun.
"Kalau begitu aku harus memberitahu putri, jika aku sudah menemukan Kakak ku". ucap Li mei dengan senyuman lebar.
"jangan! kau tidak boleh memberitahukan kepada putri tentang kita".
"tapi kenapa?". tanya Li mei
"itu karena ayah kita di cap sebagai pemberontak, jadi kita tidak boleh memberitahukan identitas kita berdua kepada siapapun".
"apa!! jadi itu sebabnya dulu kakak membawaku keluar dari kediaman". sambung Li mei terkejut, karena dia tidak tahu tentang kejadian yang dialaminya sepuluh tahun yang lalu, yang dia ingat Kakak membawanya keluar secara tiba-tiba dan tidak menjelaskan apapun.
"ya, saat itu aku membawamu keluar untuk melindungi mu......".
Ming Huo pun bercerita jika dulu dia membawa adiknya kabur untuk melindunginya. saat diperjalanan dia tahu jika adiknya merasa lapar, akan tetapi dia tidak memiliki uang sepeser pun untuk membeli makanan. akhirnya terlintas dipikiran nya untuk mencuri makanan, karena tidak ingin adiknya mengetahui perbuatannya, dia pun menyuruh adiknya untuk menunggunya.