
Di depan pintu kediaman putra mahkota.
Putra mahkota melihat kedua adiknya yang berjalan bersama merasa senang, karena yang dia tahu kedua adiknya itu memiliki masalah sehingga tidak akur.
"Sepertinya mereka sudah baikkan, sejak kembali ke istana lima tahun lalu aku melihat mereka tidak pernah berjalan bersama bahkan saat berpapasan pun seperti orang yang tidak saling mengenal". Ucap Liu Yaoshan berbicara dengan pengawal disampingnya.
"Walaupun saya tidak tahu bagaimana hubungan antara putri dan pangeran, saya senang melihat putra mahkota bahagia".
"Kau ini, memangnya kapan aku tidak pernah merasa bahagia?". Tanya Liu Yaoshan.
"Saat pertama kali pangeran datang ke perbatasan. saya masih mengingat nya, saat itu putra mahkota terlihat sedih saya pun menghampiri anda dan saya bertanya apa yang terjadi, tanpa tau Kalau yang saat itu saya hampiri adalah seorang putra mahkota". Kata Tang Jiang bercerita tentang masa lalunya dengan putra mahkota.
"Aku juga masih mengingat nya, saat itu aku merasa sedih karena tiba-tiba ayahanda mengangkat ku sebagai putra mahkota lalu mengirim ku ke perbatasan untuk berlatih bela diri. itu semua karena aku tidak kompeten sehingga aku harus berpisah dengan adikku selama lima tahun dan setelah aku bertemu dengannya sifatnya berubah menjadi tidak baik". Ucap Liu Yaoshan dengan ekspresi wajah agak sedih mengingat masa lalu.
"Yang mulia jangan menyalahkan dirimu sendiri, jika anda tidak kompeten maka anda tidak akan menjadi putra mahkota sampai sekarang dan tentang putri Zhi yang sepertinya dia sudah berubah, tadi saya lihat di kediamannya, putri sedang makan bersama kedua bawahannya di meja yang sama". Ucap Tang jian menceritakan apa yang dia lihat tadi siang di kediaman Zhi yang.
"Kau salah, dia tidak berubah tapi masih adikku yang dulu walaupun perilakunya berubah menjadi buruk, dia masih Zhi yang yang sama yaitu memiliki hati yang baik. Dulu saat masih kecil dia juga seperti itu, sering meminta makan bersama para pelayan di kediaman nya lalu aku dan ibunda hanya bisa menurutinya".
Liu Yaoshan yang mendengar cerita Tang Jian tentang adiknya, teringat masa kecil Zhi yang dan menceritakan nya kepada pengawal nya dengan ekspresi wajah yang bahagia.
Di jalan istana Liu changhai dan Zhi yang berjalan bersama karena searah ke istana mereka berdua dan Liu changhai berjalan lebih cepat dari Zhi yang karena tidak ingin berjalan di samping kakak perempuannya itu.
"Kau, berhenti...!!" Ucap Zhi yang kepada adiknya yang di depan, lalu adiknya itu hanya mengabaikan panggilan nya dan terus berjalan.
"Hei bocah kurang ajar! Liu changhai aku bilang berhenti!!". Panggil Zhi yang sekali lagi dengan nada tinggi.
"Ada apa?". Liu changhai berhenti dan membalikkan badannya.
"Kalian berdua menjauh lah dulu, aku ingin berbicara dengan nya". Suruh Zhi yang kepada kedua pengawal yang bersama mereka.
"Ada apa kau memanggilku?". Tanya Liu changhai dengan ketus.
"Kau tidak sopan sekali, panggil aku jiejie". Ucap Zhi yang merasa remaja yang ada didepannya itu bersikap tidak sopan dengan nya.
"Apa hak mu menyuruh ku memanggil mu jiejie". Sambung Liu changhai.
"apa kau begitu membenci ku sampai bersikap seperti itu?". Tanya Zhi yang kepada adik yang ada di depannya.
"Apa maksudmu?". Tanya balik Liu changhai
"Aku bertanya kepada mu, apa kau sangat membenciku ku sampai bersikap seperti ini! saat di pasar waktu itu kau juga bersikap tidak sopan kepada ku dan sekarang juga". Ucap Zhi yang dengan wajah agak kesal dan penasaran.
"Sepertinya kau lupa, bukankah kau sendiri yang mengatakan jika kau sangat membenciku dan tidak ingin melihat ku!". Sambung Liu changhai tidak percaya apa yang dikatakan Kakak perempuan barusan.
"Aku mengatakan hal itu? Apa mak.......".
Belum sempat melanjutkan perkataannya kepada adiknya, tanpa basa-basi Liu changhai langsung pergi dari hadapan Zhi yang.
"Kenapa aku merasa kesal karena sikapnya itu padahal aku bukan Zhi yang, yaa! aku lupa yang diperlakukan tidak sopan itu kan aku". gumam Zhi yang Memang ekspresi kesal karena adik nya.
"Ming huo! Ayo kita kembali". Ajak Zhi yang kepada pengawal nya.
Di pagi hari, Istana kediaman Zhi yang.
Terlihat Zhi yang sedang dirias oleh pelayannya yang baru yaitu Ming mei karena Li mei masih belum pulih atas luka yang dialaminya.
"Ming mei bisakah kau cepat sedikit, aku harus segera pergi ke istana putra mahkota".
"Baik putri, ini sebentar lagi akan selesai". Ucap Ming mei pelayan baru Zhi yang.
Ming Mei yang sudah menyelesaikan tugasnya segera pergi dari kamar Zhi yang dan dia berpapasan dengan Li mei saat di pintu kamar, Li mei yang melihat pelayan baru Zhi yang merasa agak kesal karena dia pikir putri yang dilayaninya tidak menginginkannya lagi.
"Li mei!". Panggil Zhi yang terkejut
"Putri, apakah kau sudah tidak membutuhkan aku lagi?" Tanya Li mei memasang ekspresi melas
"Yaa! Aku tidak membutuhkan mu lagi, karena kau juga sudah tidak menuruti perkataan ku dan hanya menuruti Xiu ying". Balas Zhi yang menggoda Li Mei dengan memasang ekspresi wajah yang serius.
"Baiklah putri, Kalau begitu saya pergi". Ucap Li Mei dengan ekspresi sedih yang percaya dengan perkataan Zhi yang, lalu membalikkan badannya.
"Tunggu dulu! Apa kau sungguh percaya dengan perkataan ky?". Tanya Zhi yang.
"Maksud putri?". Tanya Li mei balik memasang ekspresi bingung diwajahnya.
"Kau ini benar-benar bodoh, tadi aku hanya bercanda dan kau....Kenapa kau tidak menuruti perkataan ku, bukankah aku sudah bilang harus istirahat sampai lukamu itu benar-benar sembuh". Ucap Zhi yang.
"Putri aku tidak bisa berdiam diri saja dan tidak melakukan apapun, aku harus melayani putri lagipula lukanya juga tidak begitu parah". Sambung Li mei tidak ingin Zhi yang merasa khawatir.
"Tidak bisa! Kau harus kembali ke kamar mu.
Ming huo!!". Panggil Zhi yang kepada pengawal nya yang ada di luar.
Ming Huo yang mendengar Zhi yang memanggil nya lalu segera masuk ke kamar Zhi yang.
"Kau bawa dia ke kamarnya". Ucap Zhi yang menyuruh Ming Huo membawa Li mei.
"Baik putri". Ming Huo
"Tapi put.....". Ucap Li mei terhenti.
"Sudahlah aku harus segera pergi, jika aku membawa mu kau akan menghambat perjalanan ku, lihatlah keadaan mu! Kalau begitu aku pergi dulu". Ucap Zhi yang tersenyum lebar karena tidak sabar akan segera belajar memanah di istana putra mahkota.