
pagi hari yang cerah di istana permaisuri.
"xiu ying, menghadap Ibunda".
"Ying'er kau sudah datang, cepat lah masuk ibunda sudah menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan kesukaan mu". Ucap permaisuri xia.
"Ying'er berterima kasih, karena selama ini ibunda sudah memberikan perhatian kepada ku". Xiu ying yang tau jika dia di angkat menjadi putri oleh permaisuri sejak masih bayi berterima kasih kepada nya.
"Kau ini bicara apa, ini sudah kewajiban ku sebagai seorang ibu". Ucap permaisuri dengan suara yang lembut.
Lalu xiu ying dan permaisuri segera duduk di meja yang sudah diatur pelayan, terdapat empat meja yang sudah siapkan para pelayan.
Seorang pangeran mudah dengan wajah yang tegas serta aura yang dipenuhi dengan ambisi, datang memasuki ruangan. "Xing sheng, menghadap ibunda".
"Pangeran kedua kau sudah datang, dimana adikmu kenapa kau tidak membawanya bersama mu?". Tanya permaisuri.
"Ibunda, anak bodoh itu sepertinya berulah lagi, sejak kemarin aku tidak melihatnya sampai sekarang ". Ucap Liu Xing Sheng .
"kau jangan berbicara seperti itu tentang adikmu, cepat lah duduk jika tidak makanannya segera dingin".
"bukankah dia memang anak yang bodoh". gumam Liu Xing Sheng.
Mereka yang ada di dalam ruangan menikmati makanannya dan setelah menyelesaikan nya mereka melanjutkan nya dengan obrolan kecil.
"Meimei bagaimana pertunangannya semalam, maafkan kakak kedua mu ini karena tidak bisa datang". Ucap Xing sheng
"Kakak tidak perlu minta maaf, xiu ying berterimakasih karena kakak sudah mengirim hadiah untukku, xiu ying sangat bahagia karena bisa bertunangan dengan kakak feng". Ucap xiu ying dengan senyuman dibibir nya.
"Syukurlah kau bahagia, Ibunda merasa sangat senang melihatnya".
"Ini semua berkat Ibunda yang merestui ku dengan kakak feng".
"Kau benar, jika bukan karena ibunda mungkin putra menteri feng tidak akan menikahi mu".
Liu Xing Sheng yang tidak menyadari dengan mengatakan hal itu akan membuat adiknya merasa sedih, xiu ying yang mendengarnya berpikir jika bukan karena dia diangkat menjadi putri permaisuri dia tidak akan menikah dengan Feng Chang dan dia harus menerima kenyataan tersebut.
"Xing Sheng apa yang kau katakan!". Ucap permaisuri dengan nada yang tegas.
"Meimei maafkan aku, kakak tidak bermaksud mengatakan hal itu". Xing sheng yang merasa bersalah meminta maaf kepada adik yang sebenarnya dia sayangi walaupun beda ibu dengan nya.
dia memang memiliki karakter yang berbicara dengan blak-blakkan, sehingga dia tidak tahu jika perkataan nya akan menyakiti seseorang tapi terkadang dia akan berbuat sengaja jika tidak menyukai seseorang.
"Kakak kedua tidak perlu meminta maaf, yang kau katakan memang benar, mungkin aku juga tidak akan berada disini jika ibunda tidak mengangkat ku sebagai putri dan aku sangat berterimakasih akan hal itu". Ucap xiu ying senyum terpaksa dengan tatapan yang sedih.
"Kalau begitu, Ibunda aku ingin kembali ke istana ku karena aku harus bersiap untuk bertemu dengan kakak feng".
Setelah xiu ying merasa tidak seharusnya berlama-lama di kediaman permaisuri, dia segera pergi keluar dengan ekspresi wajah yang agak sedih.
"Lihatlah, seharusnya kau tidak mengatakan itu kepada adik mu". Ucap permaisuri yang menyalakan putra nya.
"Ibunda aku tidak bermaksud berkata seperti itu".
"Seharusnya kau memperbaiki sikap mu itu, jika tidak bisa maka jangan lakukan hal itu kepada adikmu". Dengan ekspresi yang sedikit kesal permaisuri berusaha menasehati putra nya itu.
"Baiklah ibunda, xing Sheng mengerti". Ucap Xing Sheng dengan senyuman di wajahnya.
Seperti biasa Li mei datang ke kamar zhi yang untuk melayani nya. "Putri bangunlah ini sudah pagi". Ucap Li mei membangunkan Zhi yang.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk".
"Putri pengawal yang anda bawa itu, lihatlah bukanya berjaga dia malah tertidur di depan pintu".
Mendengar hal itu Zhi yang langsung terbangun dari tidurnya, dia lupa kalau pengawal yang dibawanya itu belum diberikan uang karena semalam dia langsung masuk ke kamarnya untuk tidur. Lalu Zhi yang bersiap-siap untuk menemuinya.
"Putri, apakah anda tidak takut dengan jenderal Wang?, Aku dengar dia adalah orang yang sangat kejam dan memiliki aura pembunuh yang sangat kuat. jadi, banyak orang yang takut saat berhadapan dengan nya". Tanya Li mei membicarakan wang Chunying sambil menata rambut Zhi yang.
"Untuk apa aku takut, lagipula bukankah itu wajar sebagai seorang jendral". Jawab Zhi yang.
"Tapi kenapa aku merasa takut saat melihatnya". Ucap Li mei.
"kau ini, apa yang harus ditakutkan darinya ha-ha-ha........". Mereka berdua segera keluar setelah selesai menata rambut.
"Dimana dia?, bukankah kau bilang ada disini". Tanya Zhi yang.
"Tidak tahu putri, tadi dia ada disini". Jawab Li mei menggelengkan kepalanya.
"Mungkin dia sedang melakukan panggilan alam". sambung Zhi yang
Setelah melihat ming huo tidak ada di tempat, Zhi yang keluar dari kediamannya sambil mencari Ming Huo dan secara tidak sengaja berpapasan dengan xiu ying yang keluar dari kediaman juga.
"Tuan muda feng sedang menunggu mu dan tidak sabar untuk menemui Putri". Ucap pelayan xiu ying yang melihat Zhi yang lalu sengaja berbicara agak keras supaya Zhi yang mendengarnya.
"Sungguh, Kalau begitu aku tidak boleh membuat kaka feng menunggu". Sambung xiu ying.
"Sepertinya mereka sengaja berbicara keras, memangnya mereka pikir aku akan terpancing, mereka tidak tahu kalau aku ini bukanlah Zhi yang ". Batin Zhi yang dengan tatapan sinis nya melihat ke arah xiu ying.
"Jiejie kau ingin kemana?". Tanya xiu ying
*jiejie (Cece) : kakak perempuan dalam bahasa China
Dia yang sudah tau jika Zhi yang ingin menghindari nya, xiu ying sengaja berjalan bersama disamping Zhi yang karena ingin memprovokasi kemarahannya.
"Aku ingin ke taman istana, Apakah meimei ingin menemani ku melihat bunga?, tapi sepertinya meimei tidak ingin membuat tuan muda feng menunggu. Jadi, kenapa kau tidak jalan saja duluan". Dengan memasang ekspresi setengah senyuman.
"Kebetulan sekali aku juga ingin ke taman, kaka feng sudah menungguku disana. Jadi, kita berjalan bersama saja". Ucap xiu ying memasang ekspresi senyum jahat.
"seharusnya aku tidak mengatakan ingin ke taman istana". batin Zhi yang
Setelah mendengar nya, Zhi yang terpaksa jalan bersama xiu ying menuju taman istana jika tidak maka xiu ying akan berpikir kalau dia terpancing karena perkataan nya. di sepanjang jalan xiu ying berusaha memprovokasi Zhi yang tapi dia tidak terpengaruh samasekali dan tidak meladeni perkataannya.
mereka sudah sampai di tanam istana dekat kediaman putra mahkota. Dari kejauhan terlihat tuan muda feng chang yang sedang menunggu xiu ying, lalu mereka segera menghampiri nya.
"Bruk......aww ......"
"Jie Jie.....". Xiu ying sengaja menyenggol Zhi yang dan berpura-pura terjatuh saat feng Chang melihat kearah mereka berdua dari kejauhan.Zhi yang, yang mengetahui hal itu langsung terkejut.
"Sepertinya dia sedang membuat drama. baiklah, aku akan menemanimu sebentar". Batin Zhi yang.