
"Kamu gak lupa semuanya kan? Apa artinya kamu masih mengingat tentang kita? Apa aku selalu punya tempat di hati kamu?"
Pertanyaan Reno itu terus memenuhi kepala Resha. Apa benar jika Reno memang selalu punya tempat dihatinya.
Lalu apa arti semua ini..?
Resha terus berjalan menuju mobilnya ia butuh ketenangan sekarang. Disatu sisi ia begitu khawatir dengan keadaan Davin tapi di sisi lain ia juga kecewa dengan lelaki itu bisa-bisanya ia melakukan ini. Sampai langkahnya terhenti ketika diseberang tak jauh darinya berdiri seseorang yang dipikirkannya yang kini menatapnya sayu. Ia menatap pria itu terlihat lelaki itu mendekatinya.
"Maaf" lirihnya begitu ia sampai di depan Resha
Resha tak menjawab, lalu berpaling ke sisi kirinya dilihat Edgard dan dua anak buahnya datang.
"Edgard, bawa dia ke rumah sakit jika dia menolak ikat dia," ujar Resha pada Edgard
"Sha" panggil Davin lagi sambil menggenggam tangan gadis itu.
"Jika dia melawan pukul saja dia" ujar Resha kembali sambil menghempaskan tangan Davin lalu berjalan menjauh dari mereka.
Edgard bersiap menahan Davin yang hendak mengejar Resha.
"Sorry Dave, tapi gue lebih takut sama Resha sekarang" bisik Edgard sambil menahan lengan Davin yang sukses mendapat pelototan dari Davin.
"Kita ke rumah sakit aja sekarang, daripada Resha makin marah sama loe" tambah anak buah Edgard yang menahan lengan kiri Davin sementara Edgard di kanannya.
Davin melirik mereka berdua sebal.
"Gak perlu nahan-nahan gue gini juga kan ? loe pikir gua tahanan" gerutunya yang membuat keduanya melepaskan tangan dari lengannya.
Davinpun berjalan mendahului keduanya menuju mobil. Dilihatnya Resha diseberang mobilnya sedang bercakap dengan Bagas. Ia tak tau apa yang mereka bicarakan tapi terlihat Bagas mengambil kunci mobil dari tangan Resha dan memasuki mobil di kursi pengemudi.
Ia menghembuskan nafas, dan berpaling ke depan ketika mobilnya melaju menuju rumah sakit. Pelipisnya agak terasa sakit sekarang. Ia baru sadar karna sedari tadi ia hanya memikirkan Resha.
Tak berapa lama mereka sudah sampai di rumah sakit. Davin keluar dari mobil diikuti Edgard. Mereka pun segera memasuki gedung rumah sakit namun Davin berbalik menoleh ke belakang mencari keberadaan Resha berharap gadis itu ada di sana namun nihil hanya ada lalu lalang pasien dan suster yang sibuk dengan urusannya.
Edgard berdecak "ck, Resha masih di jalan" serunya yang tau isi pikiran Davin
Davinpun beralih menatap Edgard "Dia kesini?" Tanyanya
Edgard hanya menggedikkan bahu, "masuk aja dulu, jangan sampai dia marah-marah lagi kalau liat loe masih di sini"
Davin kembali menghembuskan nafas lalu meneruskan perjalanannya.
...●●●...
(Reno side)
Reno bergegas menuju mobilnya setelah melihat Resha pergi bersama Bagas. Namun langkahnya tertahan ketika melihat Dea datang. Pasti gadis itu yang mengatakan pada Resha soal pertadingan ini. Ia menutup kembali pintu mobilnya yang tadi sempat dibukanya.
"Aku rasa ini bener-bener keterlaluan Ren" seru Dea
"Gue gak pernah minta loe buat ikut campur soal ini" sergah Reno kesal.
"Ya. Gue emang gak berhak buat ikut campur, tapi sebagai sahabat loe gue gak pengen sahabat gue ngelakuin hal yang salah"
"Hal yang salah? Apa ini salah kalau gue ingin merjuangin cinta gue,?"
Deg.
Hati Dea mencelos ketika Reno menyebut cinta di kalimat terakhirnya dan kata itu benar-benar menyakiti hatinya sekarang.
"Gue tanya sama loe apa gue salah sekarang?" tanya Reno lagi karna Dea sempat terdiam.
"Gak, loe gak salah, loe gak salah kalau emang loe pengen merjuangin cinta loe ke Resha tapi cara loe yang salah"
Dea sedikit menjeda ucapannya, ia menghela nafas mencari kekuatan untuk meneruskan ucapannya.
"Kesalahan loe adalah loe gak bisa merjuangin cinta loe dengan kekerasan kayak gini Ren, kalau loe emang cinta sama Resha loe harusnya bisa biarin dia bahagia meski bukan loe yang jadi penyebabnya. Kalau loe emang cinta, loe gak harus memiliki dia, cukup dengan melihat dia bahagia loe juga akan merasa bahagia sesederhana itu"
Kali ini Reno terdiam, ia tak menatap Dea tapi mencerna ucapan gadis itu.
Apa ia memang hanya terobsesi untuk bisa memiliki gadis itu kembali?
Tapi kenapa begitu sulit untuk melupakannya,?
"Kalau emang kalian berjodoh kalian pasti akan nemuin jalan sendiri untuk kembali, loe percaya sama takdir
'kan? Gue yakin loe pasti tau tanpa perlu gue jelasin"
Reno bersandar di mobilnya, dadanya begitu sesak sekarang ia menunduk matanya memanas ia baru sadar jika secara tidak langsung ia malah menyakiti orang yang di cintainya, dan untuk pertama kalinya hari ini ia melihat Resha menangis di depannya dan itupun karena ulahnya juga.
"Mending sekarang loe balik, atau ke dokter barangkali kepala loe cedera gara-gara benturan sama Davin tadi, biar gue suruh Ray buat anterin loe" saran Dea setelah beberapa saat hening.
Ia pun berbalik meninggalkan Reno,
"De, loe pernah?" ujar Reno membuat Dea berhenti kenapa pria itu malah balik menanyainya.
"Loe pernah jatuh cinta tapi loe gabisa miliki dia?" Tanya Reno lagi yang berhasil membuat Dea mencelos
"Pernah Ren, dan orang itu loe" batin Dea tanpa bisa terlontar dari mulutnya.
"Gue rasa loe gak akan semudah bilang itu jika loe pernah jatuh cinta, bagaimanapun loe pasti akan berusaha memperjuangkan dia" tambah Reno
Dea menutup matanya. Selalu seperti ini, pria itu tak pernah peka dengan semua perhatian untuknya. Ia menghembuskan nafas lalu berbalik lagi kearah Reno.
"Memperjuangkannya? Gak semua cinta harus diperjuangkan, berapa kali gue harus jelasin ke loe soal takdir, kalau dia bukan jodoh loe mau sekuat apa loe merjuangin dia, dia gak akan pernah jadi bagian dari loe, gue rasa cinta itu bukan cuma soal memiliki tapi membuat kebahagiaan untuknya" seru Dea lalu berlalu dari Reno yang masih terdiam mencerna ucapan Dea.
Gadis itu memang benar, tapi apa kali ini ia akan siap jika melihat Resha bersama Davin. Apa dia akan mengikhlaskan Resha begitu saja? Ia tak pernah bisa membayangkan melihat gadis itu menjadi milik orang lain.
Meski jujur saja dari jauh lubuk hatinya ia masih berharap jika semua akan kembali seperti dulu.
Pikirannya melayang ke 5 tahun yang lalu.
(Flashback on)
Resha menghampiri Reno di ruang ganti ketika ia baru saja selesai latihan. Ia memberikan botol air mineral padanya. Reno tersenyum, lalu menenggak minumannya.
"Haus?" Tanya gadis itu ketika melihat air itu tinggal setengah.
Reno kembali tersenyum lalu mengangguk "makasih ya" ucapnya
"Kenapa kamu suka taekwondo?" Tanya gadis itu begitu Reno duduk di sampingnya
"Menurut kamu?" Tanya pria itu balik
Resha mendengus "Aku tanya Ren, kok malah balik di tanya sih"
Terlihat Reno menerawang, "Entahlah, ya mungkin aku suka gitu aja seperti aku suka sama kamu" lalu menatap Resha lagi terlihat gadis itu juga menatapnya sepertinya tak puas dengan jawaban pria itu.
"Kamu gak berniat buat hajar orang 'kan?" Tanya Resha polos
Reno terkekeh "Kamu ini ada-ada aja" jawabnya lalu berdiri dan beralih menuju lokernya.
Resha mengikutinya berdiri "Ren,"
Reno berbalik dan menutup lokernya, beralih kearah gadisnya itu, "Aku gak akan mungkin mukul orang jika gak di dahului sha"
"Bener?" Resha memastikan.
Reno mengangguk mantap, "Kamu kan udah sering nemenin aku latihan, kok sekarang baru nanya?"
"Memastikan aja kalau kegiatan ini gak negatif buat kamu, aku tunggu di mobil" jawab Resha lalu berlalu.
Reno hanya tersenyum melihat kepergian gadis itu.
(Flashback off)
"Kamu juga pernah bilang sama aku kalau gak akan pernah mukul orang kalau dia gak memulainya, dan itu tadi apa?..."
kata-kata Resha itu kembali berputar di kepalanya.
Sejenak sebelum ia melihat Ray berjalan kearahnya dan...
Gelap.