THE LAST

THE LAST
Final



"Dengan ini terdakwa atas kasus penculikan dikenai pasal 333 KUHP tentang perampasan hak kemerdekaan seseorang dan menimbulkan cedera fisik dengan pidana penjara 10 tahun penjara"


"Tokk...tokk...tokk" bunyi ketok palu hakim menggema didalam ruangan sidang.


Satu persatu tamu undangan yang hadir keluar dari ruang sidang menyisakan terdakwa yang didampingi beberapa polisi. Iapun menghembuskan nafas dan berdiri dengan kawalan ketat polisi keluar dari ruangan yang menyesakkan itu.


Sampai di pintu keluar dilihatnya dua orang yang begitu dikenalnya. Ia melirik kearah lain sebelum ia mendengus dan berjalan kearah orang-orang itu.


"Tak ada yang ingin kau katakan?" Tegur salah satu pria yang ada diantara mereka ia menatapnya dengan tatapan dingin yang berhasil membuat hatinya benar-benar sesak dengan tatapan itu.


"Dave udahlah" tahan wanita yang berdiri disamping Davin pria itu.


"Aku hanya ingin mendengar satu kalimat sebelum aku benar-benar pergi dari sini" tegas Davin.


Ia masih tak bergeming begitu menyakitkan mendengar setiap kalimat yang diucapkan pria itu.


"Aryani, kau yakin tak ada yang ingin kau katakan.? Aku takkan memberimu kesempatan kedua setelah ini" tegur Davin kembali.


Wanita itu Aryani, memberanikan diri menatap wajah Davin yang begitu dingin. Tak pernah sekalipun dulu pria itu menatapnya seperti itu.


"Maaf" lirih wanita itu yang hampir tak bisa didengar.


Davin berkacak pinggang dan membuang nafasnya "Tak kusangka kenapa aku dulu harus mempercayai pengecut seperti ini" sindirnya.


"Cukup Dave" bisik Resha yang memegang lengan Davin.


"Resha..." suara tercekat itu membuat orang yang ada disana menatap sumber suara.


"Maafkan aku, maaf sudah membuatmu celaka. Maafkan aku Resha" kalimat yang keluar dari mulut Aryani itu cukup mewakili apa yang Davin ingin dengarkan sedari tadi lelaki itu tersenyum dalam hati.


Disisi lain bulir-bulir kristal bening sudah lolos begitu saja dari mata sang pemohon maaf ia menunduk tak berani menatap orang-orang yang ada disana. Rasanya harga dirinya sudah hancur lebur bersama semua gugatan yang sedari tadi di ajukan jaksa dalam ruangan menyesakkan itu.


Sampai dirasakan sebuah tangan menyentuh tangannya.


"Sudahlah, lebih baik kau belajar dari kesalahan yang kau buat. Dan perbaikilah dirimu Aryani" kata Resha yang telah memegang tangannya.


Aryani hanya tersenyum masam. Kenapa juga wanita itu masih bersikap baik padanya setelah semua yang ia lakukan. Dengan hal itu malah hanya semakin membuatnya merasa menjadi seorang pecundang.


"Kamu tak perlu memberitahunya, aku rasa nuraninya sudah mati. Ayo kita pulang" ajak Davin sambil menarik lembut tangan Resha meninggalkan Aryani dan polisi yang mengawalnya.


Selamat tinggal Davin.


Selamat tinggal kenangan kita.


Ia menatap kepergian Davin dan Resha nanar. Ia sudah menebak tentang hal ini, tentang Davin yang akan membencinya.


Tapi kenapa harus semenyakitkan ini?


...♡♡♡...


Enam bulan kemudian.


Ribuan lampu warna warni serta tatanan bunga-bunga menghiasi setiap sudut ballroom hotel bintang lima, kue bertingkat dengan krim putih berhiaskan butter yang dibentuk bunga yang membuatnya terkesan elegan sekaligus berkelas menjulang di sudut ruangan dengan dikelilingi lampu dan bunga-bunga semakin membuatnya terlihat cantik. Di sudut paling kanan hidangan yang ditata sedemikian rupa dengan meja makan tamu yang juga dihiasi bunga hias yang cantik.


...Ribuan tamu undangan memasuki ballroom yang megah dan classy itu mulai dari kalangan saudara, klien bisnis, kalangan elite perusahaan, kolega hingga sahabat dan teman dari raja dan ratu utama hari itu Davin Regardi dan Resha Adriana. Semua mengenakan pakaian yang formal untuk acara pemberkatan Resha dan Davin....


Semua teman-teman mereka tahu yang pernah terjadi antara Davin dan Reno meski pada awalnya ia memang benar-benar tidak mau menerima itu akhirnya setelah kejadian penculikan Resha ia menjadi sadar jika kebahagiaan gadis itu hanya bersama Davin.


Ditengah-tengah ballroom tangga yang juga berhiaskan bunga-bunga dan lampu dengan nuansa yang classy telah berdiri sepasang pria dan wanita yang tampak begitu bahagia. Sang pria dengan tuxedo hitam dan kemeja putih yang semakin membuatnya semakin gagah. Mereka melambaikan tangan pada seluruh tamu undangan.


...Mereka tampak begitu bahagia, pasangan yang akan membuat semua orang yang melihatnya iri karenanya. Tidak peduli tentang apapun sesulit apapun perjalanan yang dilalui jika takdir sudah yang menentukan maka sampailah mereka pada tahap ini. Pernikahan....


Ya, hari ini Davin Regardi dan Resha Adriana Mahardhika telah sah menjadi pasangan suami istri. Ujung dari perjalanan yang begitu panjang setelah semua kejadian yang mereka lalui.


Davin menggandeng Resha ke pelaminan mereka untuk acara lempar bunga.


"I love you" bisik Davin setelah mereka melempar bunga pernikahan mereka ysng menjadi rebutan para tamu.


Resha tersenyum, "I love you too"


"Yakk, Alvin itu bungaku, kenapa kau mendahuluiku" pekik Raya yang gagal mendapat bunga yang dilempar Resha dan Davin tadi.


"Salah siapa kau tak tinggi" timpal Alvin yang mendapat bunga itu


"Aishh, menyebalkan harusnya kau mengalah kau kan laki-laki"


"Kenapa aku harus mengalah, siapa yang tak mau segera menyusul Resha dan Davin"


"Setidaknya biar aku yang lebih dulu"


Orang-orang hanya tertawa melihat debat dua orang itu.


Saat terakhir acara jabat tangan dengan para tamu sampailah pada giliran Reno. Ia menepuk bahu Davin.


"Gue bakal bunuh loe kalau sampai gue tau loe buat dia nangis" bisiknya tajam namun segera merubah ekspresinya dengan senyuman lebar ketika mereka berhadapan.


"Gue bisa dihandalkan" jawab Davin.


Reno hanya mengangguk dan beralih pada seseorang disebelah Davin. Siapa lagi kalau bukan gadis yang berhasil memporak-porandakan hati dan pikirannya.


Semoga kamu bahagia Resha,


Selalu dan selamanya.


Mereka berpelukan sekilas "Selamat berbahagia Resha, dan semoga kamu selalu bahagia."


Resha tersenyum, ada rasa tak enak di hatinya melihat mantan kekasihnya itu "Kamu juga harus janji kamu juga akan bahagia, hem?"


Reno mengangguk "Gue tunggu coming soon Resha Davin junior" ia tersenyum lalu berlalu dari mereka.


Selamat berbahagia sayang, meski pada akhirnya bukan namakulah yang menjadi nama belakangmu. Aku harap kamu bahagia.


Selamat tinggal Resha.


(Davin side)


Satu hal yang semua orang impikan dalam hidupnya adalah memiliki kehidupan yang layak dan bahagia bersama orang-orang terkasih. Dan aku rasa Tuhan terlalu baik padaku. Ia telah memberikan segalanya untukku. Setelah semua kesedihan, luka, dan kehilangan pasti akan ada kebahagiaan dan pasti akan ada yang datang menyembuhkan setiap luka. Ya, seperti itulah tangan Tuhan melakukannya.


Hari ini dengan sah dengan nama Tuhan semesta alam. Selamat datang di dunia Davin Regardi, Resha Adriana Mahardhika. Ahh atau sekarang aku bisa menyebutnya Resha Adriana Regardi.