THE LAST

THE LAST
PART VI : (Don’t) Give Up



Selamat membaca, klik tombol vote, like juga favorite ya.. Terima kasih sudah membaca The Last.


---------------------------------------


Pagi ini, suhu semakin rendah. Aku menggunakan mantel yang dilapisi dengan jaket berbulu tebal milikku , satu-satunya. Sebenarnya aku sungguh malas untuk datang mengikuti perkuliahan hari ini, hanya saja aku sudah 2x tidak mengikuti pelajaran, sungguh sangat tidak baik jika aku harus tidak datang lagi hari ini.


Alasan? Aku tidak ingin bersitatap dengan Denny hari ini. Hah.. entah harus bagaimana aku bersikap, juga Cillia pasti menanyaiku perihal semalam, aku tidak tahu harus menjawab apa. Sebelum aku masuk ke kelasku yang mungkin masih kosong itu, aku berjalan menuju loker James, menaruh sebuah surat dengan setangkai bunga Daisy dan sapu tangan yang sudah ku laundry .



Masih ku ingat perkataannya kemarin, dia ternyata tahu bahwa yang selalu mengirimkannya surat adalah aku. Dia menyuruhku untuk tidak menyerah , maka aku tidak akan menyerah, dan perasaan yang lama ini, sepertinya aku harus ku relakan, walau tidak mudah namun aku harus mencobanya.



Betapa senangnya aku, ternyata selama ini James tidak membuang surat\-surat ku. Aku pergi dari lokernya menuju kelasku.



“Hei.. kamu sudah gila ya? Masih pagi tapi sudah senyum\-senyum sendiri” Aku tersentak karena Cillia berada di belakang ku.



“Senyum adalah ibadah, biar hari\-harimu bisa berjalan dengan baik dan lancar” Cillia hanya menggelengkan kepalanya. Aku tidak menghiraukannya dan langsung memasuki kelas, tapi aku baru menyadari kalau Cillia datang sendirian tidak bersama Denny.



“Dimana pacarmu itu?” tanyaku, Cillia menatapku, “Belum datang, tumben kamu menanyakannya” aku mengangkat sebelah alisku



“Memangnya kenapa kalau aku menanyakan pacarmu?”



“Tidak apa sih, hanya aneh” Aku memutar kedua bolaku, aneh darimana, pikirku. Aku langsung mengeluarkan tugas untuk hari ini, jangan heran karena memang setiap mata kuliah memiliki tugas. Sungguh melelahkan.



“kalalu begitu, aku ganti pertanyaannya, kenapa kamu bisa datang sepagi ini?”


Tanyaku lagi, sedikit aneh dengan sikapnya yang sedikit lebih diam dari biasanya.


“Hanya ingin aja sih, dan aku kan tidak mau pacarku tahu kalau aku pemalas hehe” Aku menggelengkan kepalaku, kenapa bisa Denny bisa bepacaran dengannya? Kami kembali diam dan aku memeriksa kembali tugasku, takut ada yang salah.



“Morning, Babe!” Aku kaget dengan teriakan Cillia memanggil Denny yang baru saja datang. Ingin sekali aku menepuk kepala Cillia sekarang, terlalu lebay. Aku ingin muntah rasanya.



Ku lihat sekilas si Denny yang sudah di peluk oleh Cillia, aku tahu betapa manjanya Cillia itu. Biarlah.. sudah bukan urusanku lagi, seharusnya aku tidak perlu mengomentari Cillia, dia sahabatku dan Denny asalah mantanku, yang harus ku lupakan mulai sekarang.



Aku mengalihkan pandanganku ke arah Zee dan Zoe yang baru masuk, aku melambaikan tanganku kepada mereka berdua, mereka membalas lambaian ku kembali.



“Sudah siap tugas?” Tanya Zee, aku menganggukkan kepalaku dan tersenyum kecil, “Bagaimana denganmu?” tanyaku kembali



“Akan selalu siap” Tentu saja, Zee merupakan salah satu mahasiswa terpintar di kampus dan Zoe jago dalam bidang olahraga, sudah banyak piala yang mereka sumbang untuk kampus ini.



“Semalam kalian baik\-baik saja kan?” Sedikitnya aku khawatir dengan mereka berdua, ucapan yang di keluarkan oleh James tidak ada kata main\-main. Jangan tanya aku tahu dari mana, pernah ada 1 mahasiswa penampilannya seperti anak kutu buku yang di bully oleh mahasiswa lainnya dan James yang ingin lewat melihatnya dan langsung menahan tangan salah satu tangan mahasiswa yang ingin memukul mahasiswa culun itu dan James mengatakan bahwa kejadian ini terulang kembali maka dia lah yang akan membuat mahasiswa itu keluar dari kampus ini. Mahasiswa itu menganggap remeh ucapan James dan kembali mem\-bully mahasiswa culun itu. James yang melihatnya pun langsung menelepon pihak kampus untuk mengeluarkan mahasiswa itu dan benar saja tak lama ada guru bagian kemahasiswaan datang dan meyuruhnya untuk datang ke kantor, esok harinya mahasiswa itu sudah tidak terlihat lagi.



James itu mahasiswa no 1 yang paling teladan, paling pintar—mendekati jenius malah, taat akan peraturan tak salah kalau dia di tunjuk sebagai ketua kedisiplinan mahasiswa di Oxford khususnya di fakultas Pertanian dan Kedokteran. Bingung kenapa dia bisa menjadi ketua kedisiplinan di fakultas Pertanian dan Kedokteran padahal dia itu jurusan Teknologi Informasi, karena memang fakultas Pertanian dan Kedokteran dituntut untuk sangat disiplin jadi Ketua Kemahasiswaan mengirim James disini.



Semakin aku bercerita tentangnya dan segala pencapaiannya, semakin menyukainya. Jika saja aku bisa menjadi kekasihnya, betapa beruntungnya aku. Dan harapan itu mungkin terlalu jauh untuk bisa menjaddi sebuah kenyataan.



“Nona Park?” Aku tersentak dari lamunanku, ternyata Miss Dween sudah msuk ke dalam kelas. “Maafkan saya , Miss Dween”



“Jangan ulangi lagi”



“Yes, Miss” Aku mengelus dadaku, untung saja aku tidak diusirnya keluar. Miss Dween kembali mengabsen mahasiswa\-mahasiswi yang datang.



“Jangan terlalu memikirkannya, orangnya sampai kesini jadinya” Aku memicingkan mataku pada Zoe yang mengejekku, mana mungkin James datang. Ku lihat ke arah pintu, dan James berdiri disana dengan tangan kanan yang ia masukkan ke dalam saku celana, pakaiannya yang selalu rapi, rambut tebal, hitam\-legam disisir rapi ke sisi kanan, nikmat mana yang harus ku dustakan lagi Tuhan. Benar\-benar bak pangeran Yunani.



Dan ketika mata kami bertemu, dia tersenyum—ahh tidak, bukan tersenyum, dia menyeringai kecil, kuatkan hambamu ini Tuhan. Aku terburu\-buru mengalihkan pandanganku padanya, jangan tanyakan bagaimana keadaan kelasku yang dominan kaum hawa , mereka sudah berteriak\-teriak tak jelas, bahkan Miss Dween juga ikut terpukau, sebegitu menggodanya seorang James.



Zee dan Zoe? Mereka hanya menahan tawanya, mungkin mereka ingin menertawakanku yang terlihat malu sendiri karena bersitatap dengan James. Lagian mengapa sih James berada di sana, aku kan jadi tidak bisa konsentrasi. Menyebalkan, tapi aku suka hehehe..


-The Last-


“Ingin pulang bersama, Daisy?” Zee menawarkan, “Tidak perlu, aku masih ingin pergi perpustakaan”



“Baiklah, kalau begitu. Kami pulang duluan ya. Bye, Daisy”



“Bye..”



Aku memasukkan buku dan peralatan menulisku ke dalam tas, mengecek Note yang berada di Handphone\-ku, melihat apa\-apa saja daftar buku yang harus ku pinjam hari ini. Batas peminjaman buku di perpustakaan 3 buku saja, ya jadi aku harus memilih buku\-buku yang penting terlebih dahulu.



Aku menghadap ke arah belakang, masih ada Cillia dan Denny—yang menatapku, aku tidak ingin membalas tatapannya. Aku hanya tidak ingin tenggelam ke dalam tatapannya itu, yang ada aku tidak bisa move on.



“Cill, aku ke perpus ya, mau pinjam buku buat tugas besok” Cillia hanya menganggukkan kepalanya menatapku sebentar dan kembali fokus dengan Handphonenya sambil memeluk mesra Denny. Apa mereka sudah tidak ada tempat untuk bermesraan ya? Aku keluar dengan sebal.




“Aku yang akan membawanya” Aku kaget dan melihat siapa orang yang berbicara padaku, dan dia adalah Denny.



“Tidak usah, bukankah kamu bersama Cillia? Dia pasti mencarimu” tolakku halus, seharusnya dia bersama dengan Cillia, mengapa bisa dia mengikutiku sampai ke perpustakaan? Aku kembali berusaha mengangkat ketiga buku ini, baru saja 3 langkah tanganku sudah gemetaran tidak kuat dan sudah kupastikan buku ini akan jatuh, aku menutup mataku spontan namun aku tak mendengar suara buku jatuh, aku kembali membuka kedua mataku dan James menangkap buku itu.



Aku begitu canggung dan gugup saat ini, di depanku ada James dan di belakangku ada Denny. Keadaan seperti apa ini?



“Biar aku yang membawanya” ucap James, aku yang masih bingung hanya menganggukkan kepalaku.



“Denny? Kenapa lama? Katanya kamu mau ambil buku doang. Kamu kenapa Daisy?” aku langsung tersadar, dan menggaruk belakang kepalaku sambil menggelengkan kepala, lalu aku pergi ke arah meja penjaga perpustakaan menyusul James yang tadi membawa buku ku.



Setelah aku menanda\-tangani daftar buku peminjam, James yang sedari tadi hanya diam mengangkat kembali buku itu keluar. Aku menarik ujung jaket denim yang ia kenakan dengan pelan, dia berhenti melangkah dan membalikkan badannya menghadap ke arahku. Aku gugup.



“Emm.. biar aku saja yang bawa, Kak. Terima kasih sudah membantuku—“



“Mau kemana?” Aku mendongakkan kepalaku, menatapnya dengan tanya. Apa maksudnya dengan ‘mau kemana’ ?



James sedikit mengangkat ketiga buku yang di pegangnya, “Kamu mau pulang?” ah.. aku paham.



“Ya, Kak. Aku ingin kembali ke apartement ku. Letakkan saja, biar aku yang membawanya” Aku maju selangkah, ingin mengambil alih buku yang di pegangnya tapi James malah menghindar dan kembali membalikkan badannya , berjalan menuju pintu keluar kampus. Apa ia ingin membawakannya sampai ke apartemen ku? Memikirkannya saja membuat pipiku memerah, jantung ini jadi menggila. Astaga apa ini yang namanya rezeki anak soleh?



Aku berjalan pelan di belakangnya, tidak, aku masih tidak pantas untuk bisa berjalan beriringan dengannya mungkin tidak akan pernah pantas. Aku tak masalah, aku bisa melihat punggungnya yang terlihat menawarkan kehangatan itu, bahu yang lebar dan bidang, kakinya yang jenjang, rambut hitamnya yang lebat. Ah.. dia suka berganti warna rambut, tapi itulah yang membuatku semakin gatal untuk bisa merasakan rambutnya.



Ku perhatikan ke sekeliling, eh.. bukannya ini jalan untuk ke parkiran. Aku masih mengikutinya, namun aku berhenti di depan gerbang parkiran. Untuk apa James masuk ke parkiran, apa dia ingin mengambil barangnya yang tertinggal? Lebih baik aku menunggunya saja disini.



Aku menendang\-nendang kecil daun\-daun kering yang berada di dekatku. Sampai aku menyadari ada sepasang kaki yang berdiri di depanku, aku mendongak kemudian membulatkan kedua mataku.



“Denny?” untuk apa dia berada disini? Apa dia ingin mengambil kendaraannya di parkiran? Kenapa dia berdiri di depanku dan hanya diam menatapku. Ada apa dengannya? Ku tatap kedua matanya, menarikku untuk menyelami apa yang ia pikirkan. Yang ku tangkap hanyalah tatapan penuh rindu dan sendu. Tak bisa ku pungkiri, bahwa aku juga merasakan hal yang sama, membuat air mataku tergenang di pelupuk mata.



*Tin*!!



Aku tersentak kaget, ku lihat tangan Denny terburu\-buru kembali turun. Apa ia ingin menyentuh wajahku? Karena itu kebiasaannya ketika aku bersedih, dulu. Ku lihat sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di belakang Denny. Kacanya perlahan turun, memperlihatkan wajah dingin dari James. James hanya menggerakkan kepalanya, yang ku artikan untuk menyuruhku masuk ke dalam mobil. Aku langsung berlari masuk ke dalam mobilnya, menghiraukan Denny yang masih berdiri di sana. Seharusnya aku tidak melihat matanya tadi.



“Ini” ku gerakkan kepalaku ke arah samping, James memberikanku sebuah tisu. Aku memandangnya dengan tanya.



“Aku tidak ingin melihat air matamu” air mata? Aku langsung meraba kedua pipiku, ah.. ternyata benar, ada air mata. Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih. Perasaan ini tidak mudah untuk di lupakan ternyata, apa Denny juga merasakan hal yang sama sepertiku? Lalu mengapa dia harus berpacaran dengan Cillia? Matanya tidak dapat berbohong. Semakin ku pikirkan semakin aku pusing. Aku menyandarkan kepalaku, menatap keluar jendela. Menutup kedua mataku, kembali menanyakan hatiku yang terbagi dua.


-The Last-


Aku turun dari mobilnya, untung saja tadi aku terbangun dan memberitahukan alamat apartemen ku pada James. Aku berjalan menuju pintu apatemen ku diikuti oleh James yang sedari tadi betah menutup mulutnya, ku buka putar anak kuncinya dan terbukalah pintuku. Aku berbalik, merentangkan kedua tanganku padanya agar dia bisa memberikan bukunya padaku. Tapi dia hanya menatapku dalam diam dan berjalan melewatiku, masuk ke dalam apartemenku.



Aku membolakan kedua mataku, terkejut karena aksinya itu. Aku jadi sedikit jengkel dengan tingkahnya, sembarangan masuk ke apartemen orang padahal aku tidak mempersilahkannya. Aku mengikutinya masuk.



“Letakkan saja di meja, Kak. Terima kasih banyak sudah membawakannya dan mengantarkanku pulang” Aku berjalan melewatinya sambil membawa buku tebal itu masuk ke dalam kamar, meletakkannya di atas meja belajarku dan kembali keluar berniat untuk menutup pintu depan. Aku kaget, melihat James yang duduk di sofa.



“Kakak tidak pulang? Ini sudah hampir malam” Aku melihat jam yang tergantung di atas televisi menunjukkan sudah pukul 6 sore. Kalian sudah tahu kan jika rumahnya itu jauh banget, bahkan jika dia pulang sekarang dia baru akan sampai di jam 8.



“Apa kamu baik\-baik saja?” James berjalan ke arahku yang berdiri di depan kamarku. Aku reflek memundurkan langkahku. Aku sudah tidak bisa lagi mundur, pintu kamarku menjadi penghalangku.



“Em.. A\-Aku baik\-baik saja, Kak” Aku tersenyum kecil padanya, dia masih menatapku dengan raut yang tak yakin dan khawatir. Apa dia khawatir padaku? Ia menghelakan nafasnya



“Kamu orang asing pertama membuatku khawatir seperti ini” Aku membeku di tempat, apa yang ku dengar tadi adalah kebenaran? Atau ini hanyalah khayalanku semata karena frustasi?



“Hari ini, aku menerima suratmu. Terima kasih karena tidak menyerah, dan sekarang kamu hanya perlu duduk dengan manis, biarkan aku yang datang padamu” tubuhku kembali menegang karena jemarinya yang menyentuh pipiku. Jantungku sudah melompat\-lompat ingin keluar dari tempatnya.



“Aku akan pulang. Aku akan menghubungimu nanti, jangan menangis karena lelaki lain. Aku mudah cemburu” Setelah James mengucapkan kata itu, dia pun keluar. Aku jatuh ke lantai, kaki ku sudah tidak kuat untuk menompangnya, sangat lemas. Apa yang barusan terjadi? Apa ini mimpi? Jika iya, ku mohon jangan bangunkan aku.



Aku menampar pipiku dengan kuat, “Akh.. sakit. Jadi ini bukan mimpi? Ini nyata? Benarkah? Astaga jantungku, tenanglah hei” senyumku mengembang dengan sendirinya dan dapat kurasakan panas yang menjalar ke pipiku, aku sangat yakin pipi ini akan semerah tomat.



Satu hal yang pasti, aku tidak akan bisa tidur malam ini. Tapi, entah kenapa aku malah merasa senang karena tidak dapat tidur.



“Usaha itu tidak mengkhianati hasil, bukan? Aahh!!!!! Aku sangat senang!!!!”



TBC.