
"Tak bisa kah kita berteman?"tanya Resha di dalam pelukan Reno.
Reno menggeleng, bagaimana ia bisa berteman dengan orang yang begitu dicintainya dan sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Ia takkan pernah sanggup.
Tanpa ia sadari air mata menetes dari pelupuk matanya.
Ia memejamkan matanya rapat agar tak ada lagi air mata yang keluar. Ia sadar seberapa kuat ia menahan gadis itu tak akan pernah bisa membuatnya kembali menjadi miliknya.
Sementara di sisi lain Resha masih terdiam ia ingin membalas pelukan Reno tapi diurungkannya ada yang mengganjal di sudut hatinya. Ia menghela nafas dan mengurai pelukan Reno.
Resha memegang kedua bahu lebar pria itu, "Jangan seperti ini.. Aku mohon!"
Reno menghembuskan nafas lelah, namun akhirnya mengangguk. Reshapun tersenyum, lalu menarik sudut bibir Reno dengan tangannya agar pria itu juga tersenyum.
Sampai sebuah derap langkah kaki mengalihkan perhatian mereka. Datanglah Dea sambil meletakkan sebuah kotak makanan di meja yang berada tak jauh dari mereka.
"Maaf ganggu, aku bawain pizza keju kesukaan kamu Ren. Kebetulan ada Resha kita makan bareng sekalian yuk" ajaknya
"Wahh enak tuh" sahut Resha lalu berjalan kearahnya
Deapun membuka kotak pizza itu.
"Kalian makan aja dulu, aku ada telfon bentar" kata Reno lalu berlalu
Dea dan Resha menatap kepergian Reno lalu bertatapan.
"Reno udah makan ?" Tanya Dea
Resha mengangguk,
"Aku gak pernah liat dia begitu kacau seperti ini sebelumnya" ucap Resha sambil menatap Reno yang sedang berbincang di telfon.
Dea menghembus nafas, "Dia begitu menyesali perpisahan kalian. Dia baru sadar kalau dia begitu mencintai kamu Sha"
Resha beralih menatap Dea yang juga tengah menatap Reno dapat ia lihat ketulusan wanita itu pada Reno.
Apa dia mencintainya?
"Gue seneng Reno punya sahabat kayak loe"
Deapun beralih menatapnya heran,
"Dan gue bakal lebih senang kalau Reno bisa sama loe" lanjut Resha
Dea sedikit kaget, "Sha gue gak ada apa-apa sama Reno"
Resha tersenyum,
"Menurutmu aku tak bisa melihatnya?" Jawab Resha santai
"Memang apa yang kau lihat"
"Perhatian kamu, cara kamu natap dia, dan semua ketulusan kamu ke dia. Aku bisa melihat De, kamu mencintainya 'kan?"
Kali ini Dea terdiam.
Apa sebegitu terlihat?
"Maaf"lirihnya
"Buat apa kamu minta maaf,? Kita udah punya kehidupan masing-masing dan aku akan jadi orang yang ikut bahagia kalau kamu bisa sama Reno" kata Resha
Resha tersenyum, diikuti Dea.
Sampai pintu masuk terbuka keduanya menoleh, didapati Reyna yang baru datang dilihat dari raut wajahnya ia sedang tidak ada dalam mood yang baik.
"Mana Reno?" Tanyanya to the point
Resha menunjuk ruang kerja Reno dengan dagunya. Gadis itupun langsung membuka ruang kerja Reno tanpa mengetuknya.
"Ada apa?" Tanya Resha ke Dea.
Sementara Dea hanya menggedikkan bahu dan mengambil satu potong pizza.
Keduanyapun tak mau ambil pusing dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tak berapa lama Reyna keluar dan duduk disamping Resha.
"Makasih udah mau dateng, orang-orang gue bakal nganter loe pulang" kata Reyna
Kali ini Reyna sedikit memberikan senyumannya berbeda dengan saat ia datang beberapa saat lalu.
"Gak usah gue bisa naik taksi kok"
Reyna menggeleng, "Hanya untuk memastikan kau aman"
"Gak perlu! Gue yang akan anter dia pulang" seloroh Reno yang sudah datang dengan jaket kulit berwarna hitam yang begitu pas ditubuh atletisnya.
Ketiganya sontak menengok kearah Reno.
"Kau mau buat masalah lagi?" Tanya Reyna
Resha menatap Reyna yang kembali menegang.
Ada apa sebenarnya?
"Gue bisa menghindari wartawan, loe tenang aja" tegas Reno
"Gue pegang ucapan loe"
"Di depan ada wartawan?"tanya Resha
Reyna mengangguk "Gue gak tau apa mereka nyari loe apa bukan yang jelas jangan sampai ada wartawan yang tau loe datang ke apartemen Reno"
Resha terdiam.
Bagaimana ia harus mengelabui paparazzi itu.? Apa orang-orang Davin juga tahu. Sialan.
"Ada satu channel yang bisa kita lewati, kita lewat lift bawah tanah" seru Reno
"Gue rasa itu lebih baik, karena kalian gak mungkin keluar lewat pintu utama ada ribuan cctv disini" kata Dea.
Reno mengangguk, meminta persetujuan. Reshapun beralih mengambil tasnya.
"Kita akan coba ke depan memastikan mereka tak melihat kalian"
Reno mengangguk dan menarik tangan Resha berlalu dari mereka.
Mereka memasuki lift yang ada di dalam ruangan itu. Setelah Reno dan Resha pergi Dea dan Reynapun keluar dari apartemen.
Reno masih menarik tangan Resha mereka berjalan cepat menyusuri lorong bawah tanah itu.
Merinding juga ia melihat cahaya yang hanya remang-remang. Lorong itu memang hanya digunakan untuk jalur evakuasi dan tidak digunakan secara umum.
Resha terengah-engah mengikuti langkah Reno yang panjang ditambah ia menggunakan high heels yang membuat kakinya sedikit sakit karena berjalan terlalu cepat.
Diujung persimpangan ia berhenti kakinya begitu sakit sekarang. "Apa masih jauh,?" tanya Resha gontai
Renopun menatap gadis itu lalu berjongkok melihat kaki Resha yang memerah karena goresan dengan sepatunya. Ia menarik sepatu itu agar dapat melihatnya. Namun Resha memegang bahunya membuatnya mendongak.
"Ayo kita lanjutkan" ajaknya
"Kaki kamu luka, lepas aja sepatunya.!" Suruh Reno
"Gapapa cuma kegores, ayo kita lanjutkan.!" Tolak gadis itu lalu berjalan mendahului Reno.
"Apa kalau itu Davin, kamu akan sesegan ini?" Tanya Reno yang membuat Resha menghentikan langkahnya kembali namun tak berbalik.
Reno berkacak pinggang berusaha keras menahan airmatanya sendiri. Ia menghembuskan nafas kesal.
"Apa kalau itu Davin, kamu juga gak akan bilang kalau kaki kamu sakit?" Tanya Reno lagi.
Resha tak menjawab karena mungkin jawabannya adalah tidak, karena setiap ada Davin ia tak pernah bisa menyimpan sebuah rahasia apapun darinya. Bahkan sebelum ia berucappun pria itu pasti sudah tahu.
Reno menghembuskan nafas, lalu mendekati Resha dan membopongnya.
"Ren, apa yang kamu lakuin?" Gadis itu mencoba berontak namun tak dihiraukan oleh Reno
"Reno turunin aku"
"Diam !" ucap Reno tanpa menatapnya dapat dilihat ia sedang tak ingin dibantah.
Reshapun terdiam, melihat ekspresi pria itu yang begitu tegas.
"Biarin ini jadi yang pertama dan terakhir, aku jaga kamu" lirih Reno dan kembali matanya terasa begitu buram lalu melanjutkan perjalanan tanpa menatap Resha.
Sialan.
Resha tak bisa berbuat apa-apa sekuat apapun ia berontak lelaki itu pasti lebih kuat.
Canggung juga ia sekarang dengan posisi seperti ini.
Sampai mereka tiba di ujung lorong terlihat sebuah mobil di luar yang sudah pasti menunggu mereka.
Reno melihat Dea yang sudah duduk dikursi kemudi, Renopun mempercepat langkahnya.
Dea sedikit melambaikan tangannya agar Reno sedikit menunduk melihat ke jendela mobil setelah sebelumnya menurunkan Resha.
"Cepat masuk, aku yakin disini juga ada cctv" ujar Dea Renopun mengangguk dan segera masuk ke mobil bersama Resha.
"Gimana kaki kamu?apa kita perlu ke dokter?" tanya Reno setelah Dea melajukan mobilnya.
"Gak usah aku langsung ke apartemen aja" tolak Resha ada sedikit rasa tidak enak saat Reno menanyakan itu di depan Dea.
Ia tau bagaimana perasaan Dea jika Reno terus menerus memberikan perhatian kepadanya. Bagaimanapun ia juga harus menjaga perasaan orang yang menyukai Reno
"Kamu yakin?" Tanya Reno memastikan
Resha hanya mengangguk, dan beralih menatap jalanan.
Sementara ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kaca mobil itu.
Sesak. Dan selalu seperti itu.
...♡♡♡...
Di tempat lain seorang wanita tengah mengamati rekaman cctv di ruang pengawas apartemen yang baru saja Reno dan yang lain tinggalkan. Sudah satu jam lebih 2 anak buahnya mencoba mencari keberadaan seseorang yang di cari bossnya itu.
Tapi Nihil.
Salah satu anak buahnya menghampirinya.
"Boss kami sama sekali tidak menemukan kepergian wanita itu, kita sudah mengecek seluruh pintu keluar apartmen ini tapi seseorang yang anda maksud tidak ditemukan" lapornya
Wanita itu berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Kau yakin? Bukankah laporanmu menunjukkan kalau dia memasuki areal apartemen ini?"
"Benar, tapi saya rasa itu mungkin orang yang salah maafkan saya"
"Sayangnya aku tak mau mendengar kesalahan"
Wanita itu beralih mendekat salah satu anak buahnya yang lain.
"Adakah pintu keluar untuk jalur evakuasi diapartemen ini, apa apartemen ini tak memiliki itu?" tanyanya.
Anak buahnya itu sedikit memgingat, lalu sedetik kemudian mengangguk dan beralih ke layar lcd itu.
Kenapa ia bisa melupakan itu.
Dan yes! Itu yang mereka cari.
"Boss, apa ini orangnya?" Tanya pria itu.
Wanita itupun menatap ke arah layar lcd, "Bisa kau besarkan?"
Pria itupun men zoom gambar itu terlihat seorang pria membopong wanita berjalan menuju mobil sedan berwarna hitam. Meski membelakangi kamera tapi dapat ia ketahui jika itulah orang yang mereka cari.
"Catat plat mobilnya dan kerahkan seluruh anak buah kita... kita punya tugas baru" kata wanita itu sambil tersenyum licik.
Kau akan menyesal Resha Adriana.