THE LAST

THE LAST
Diujung jalan (Alex Part Of View)



"Diujung jalan ini aku menunggumu, aku menantimu ditengah terik matahari aku menyanyikan kisah tentang kita"


Ditengah terik sang surya yang seakan membakar permukaan bumi aku tetap bertahan di tempat ini. Tempat yang dua setengah tahun lalu menjadi saksi betapa bahagianya aku.


"Sheila, apa kabar?"


Nasheila Aulia Regardi mahasiswa semester akhir fakultas hukum yang secara resmi sah menjadi kekasihku dan tempat inilah yang menjadi saksinya.


"Aku mencintaimu" ucapku saat ia mengambil pilihan untuk menerima perasaanku.


Saat itu dia memang belum tahu kalau kita ini berbeda. Aku hanya ingin ia tahu kalau aku mencintainya.


Kalian bisa mengatakan aku egois tapi tak pernah sekalipun aku berusaha ingin merebutnya dari Tuhannya.


Entah sampai kapan aku akan selalu menunggunya di tempat ini. Sembari berharap hal konyol agar waktu kembali berputar saat aku begitu bahagia karena hadirnya.


...S & A...


Aku meraba ukiran yang ada di pohon disampingku. Tanpa sadar aku tersenyum mengingat ia yang mengukirnya waktu itu, saat hari jadi satu tahun kita.


"Aku tak ingin berharap banyak, aku hanya ingin kita bisa melalui semuanya" katanya.


"Kenapa kau selalu tak banyak berharap, sedangkan manusia diciptakan untuk berharap"


Kulihat ia tersenyum sambil menatap ukiran yang ia buat, "Aku tahu aku banyak melakukan kesalahan, dan aku tak ingin menambah kesalahan karena aku berharap Tuhan bisa membenarkan aku karena kesalahan itu"


Saat itu aku mulai sadar kalau ia tahu kita memang berbeda.


"Sheila" panggilku iapun beralih menatapku dengan senyumannya aku tahu itu senyuman penuh luka.


"Maaf" ucapku lagi.


Ia meraih tanganku, "Jangan khawatir, kita hanya perlu menjalaninya"


"Tapi aku tak ingin membuatmu melakukan kesalahan, tapi..." aku menahan kalimatku.


Aku menghembuskan nafas frustasi "Maafkan aku" aku menunduk tak bisa melihatnya.


Dapat kurasakan kedua tangannya menggapai wajahku.


"Sayang bolehkah sekali saja aku egois, bolehkah aku mencintaimu?" tanyaku padanya.


Dia tak menjawab dan memelukku dalam diam.


"Aku mencintaimu" lirihnya.


Dan selalu saja kenangan itu memenuhi fikiranku, bagaimana tidak ? Saat lawanmu bukanlah perbedaan kasta, atau pendidikan, saat lawanmu bukan jarak dan waktu, saat lawanmu adalah Dzat yang menciptakanmu, sejauh rosario dan arah kiblat, saat perbedaan tanganmu yang mengepal saat berdoa dan ia yang menengadahkan tangan saat meminta pada Tuhannya. Bagaimana aku bisa melawan semuanya.


"Alunan denting suara hati mengulas kembali jejak yang telah lalu, Untaian makna yang tercipta aku abadikan di tempat terindah"


Aku melangkahkan kakiku menuju tepi danau, ada kursi berwarna pelangi yanga ada disetiap pinggiran danau. Aku duduk diantara kursi-kursi itu. Aku menatap beberapa orang tengah duduk bercengkrama tak jauh dariku dan kembali hatiku mencelos saat aku menatap ke arah Danau. Seolah fikiranku memutar jejak-jejak kenangan yang pernah terjadi di tempat ini.


Sore itu sepulang kuliah aku menjemput Sheila di kampusnya saat itu aku memang sudah lulus kuliah dan menghandle perusahaan ayahku di Indonesia Delta Corps perusahaan yang mempertemukanku dengannya karena saat itu perusahaanku tengah melakukan kegiatan sosial di kampusnya. Dan sepertinya Tuhan memang telah menuliskan takdirku untuk bertemu dengannya. Ia menjadi panitia kegiatan tersebut membuat kami sering bertemu saat kunjungan.


Dan...


Bagaimana aku bisa menolak pesonanya, dia terlalu berharga hanya untuk sekedar terkena panas matahari. Dan ditempat inilah pertama kali aku mengajaknya berkencan di sela-sela kegiatan yang saat itu kita lakukan tak jauh dari tempat ini.


"Emm Sheila" panggilku padanya saat kami berjalan-jalan disekitar taman.


Dia menoleh, "Ada apa pak Alex, maksudku Alex" tanyanya, aku memang memintanya agar memanggil namaku saja saat di luar kegiatan formal karena usiaku dengannya hanya terpaut tiga tahun.


"Aku ingin menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiranku"


"Tentang?"


"Rizal, dia kekasihmu?" Rizal yang aku maksud adalah seseorang yang juga jadi panitia diacara itu dan yang aku lihat mereka begitu dekat.


Kulihat ia terkekeh, "Kenapa Rizal mengganggu pikiranmu, apa dia tak bersikap baik padamu?" dia balik bertanya.


"Kalau dia kekasihku apa terlihat cocok?" tanyanya tanpa menghilangkan senyuman itu.


Tapi kenapa aku jadi kesal.


"Jadi benar ?"


Dia berlagak berfikir, apa yang perlu difikirkan jika memang iya tinggal dijawab saja itulah yang ada dipikiranku saat itu.


"Kau orang ke sembilan puluh sembilan yang menanyakan itu"


Aku mengerutkan kening tak mengerti, jadi apa jawabannya.


"Dia bukan kekasihku kebetulan dia anaknya teman Mommy dan kami dekat karena kami berteman sejak kecil dia juga sudah memiliki kekasih, kebetulan kampus kami berbeda jadi dia akan lebih sering jalan denganku daripada kekasihnya"


"Apa itu baik ? lelaki dan perempuan itu tak bisa berteman kalaupun ada pasti salah satu atau mungkin keduanya memiliki perasaan lebih"


"Tapi kami tidak"


"Kau yakin?" tanyaku tak percaya.


"Dari dulu aku ingin memiliki seorang kakak laki-laki, tapi aku terlahir sebagai anak tunggal perempuan jadi itu tak mungkin, jadi aku menganggap Rizal sebagai kakak laki-lakiku begitu juga sebaliknya dia juga menganggapku sebagai adik perempuannya"


Akupun manggut-manggut menanggapinya sekarang aku bisa bernafas lega.


"Tuhan kembalikan segalanya tentang dia seperti sedia kala ijinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kali, agar aku dapat merasakan cinta ini selamanya"


Kembali dan kembali kenangan seolah terputar begitu saja layaknya episode film yang terus berputar. Yang aku sadari sekarang aku telah kehilangannya, kehilangan peran besar yang berada dalam episode baru yang akan kujalani. Bahkan aku tak tahu akan sampai kapan aku memikirkannya, dan selalu merindukannya.


"Al" tiba-tiba aku mendengar suara wanita yang aku kenal. aku menoleh kearah sumber suara dan kudapati seorang wanita yang selalu aku fikirkan tengah menatapku dan tersenyum dengan manisnya. Aku mengerjapkan mataku sebentar memastikan apa yang aku lihat. Dan ternyata benar itu dia.


"Sheila" lirihku saat aku berada di depannya iapun mengangguk dan merentangkan kedua tangannya akupun menyambutnya memeluknya erat berharap aku tak akan kehilangannya lagi.


"Aku kangen" ucapku dapat kucium harum aroma rambutnya.


Begitu memabukkan.


"Aku mencintaimu, sangat" lirihku lagi tanpa melepaskan pelukanku.


Dan kalaupun ini nafas terakhirku aku ingin berada dipelukannya untuk yang terakhir kalinya. Agar aku dapat merasakan berada disisi wanita yang aku cintai, merasakan cintaku yang abadi didalam hatiku untuknya.


"Ketika malam telah tiba, aku menyadari kau takkan kembali"


Namun tiba-tiba ia melepaskan pelukanku.


"Jika nanti kita bertemu di kehidupan yang lain, mari kita mencintai seperlunya saja, jangan sepenuhnya. Mari jangan membuat banyak janji, mari membuat kenangan yang sederhana, agar saat kita tak bisa berjalan bersama kita bisa sebisa mungkin untuk melupakannya


Karena cinta yang terlalu dalam, itu lebih menyakitkan. Kumohon setelah ini, berbahagialah. Aku akan berdoa semoga cintamu yang selanjutnya tidak seperti kita dan tidak banyak luka"


Aku menggeleng mendengar ucapannya bagaimana bisa aku menemukan cinta selain darinya.


Bersamaan dengan itu kurasakan titik-titik air mengenai wajahku, membuatku terbangun dari tidurku. Jadi itu tadi hanya mimpi kenapa terasa begitu jelas.


"Tuhan, meski dia bukan umatmu jaga dia dimanapun ia berada jaga dia untukku"


Selalu dan setiap saat aku berharap agar bertemu kembali dengannya entah disuatu tempat, atau mungkin di kehidupan yang lain.


"Tuhan kembalikan segalanya tentang dia seperti sedia kala ijinkan aku tuk memeluknya mungkin tuk terakhir kali agar aku dapat merasakan cinta ini selamanya..."


...----------------...


Terinspirasi dari lagu lama Samsons - Diujung jalan


happy reading :)


Mampir yuk ke cerita aku yang kedua lagi on going nih latarnya dikorea gitu dan visualnya aku ambil dari aktor dan aktris korea. Thank you :)