THE LAST

THE LAST
Goresan masalalu II



Davin membuka matanya dilihatnya ruangan serba putih yang begitu besar dilengkapi dengan fasilitas yang tersedia dapat dipastikan itu adalah ruangan vvip rumah sakit ia baru ingat jika dokter telah menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya yang membuatnya kehilangan kesadaran selama kurang lebih 3 jam.


Ia melihat sekeliling terlihat olehnya Resha duduk disamping ranjangnya ekspresinya datar.


"Maaf" kata Davin ia tak berani menatap gadis itu.


"Semua ini salahku harusnya aku gak ngikutin tantangannya Reno, aku gak punya pilihan lain Sha aku gak mau orang-orang Reno macem-macem sama kamu" lanjut pria itu


Resha masih diam tak menjawab, masih menatapnya datar. Gadis itu begitu tenang tanpa ekspresi apapun.


"Aku hanya luka sedikit, ini akan segera sembuh jangan khawatir" Gumam Davin menunggu gadis itu mengucapkan sesuatu.


Beberapa saat masih tak ada satupun kata terucap dari Resha,


Davin tersenyum hambar "Aku baik-baik sajapun kamu masih gak mau ngomong sama aku " ucap Davin karena tak ada satupun kata yang terucap dari gadis itu.


Resha menghembuskan nafas,


"Aku gak pernah main-main untuk menyuruhmu tak berurusan dengan Reno 'kan?" Tanya Resha


"Dia gak mungkin nyakitin aku, tapi dia berkemungkinan besar buat nyakitin kamu"


Davin tak berani menatap Resha


Maaf.


"Aku akan menemuimu dua jam lagi, sebelum aku sampai kau harus menyelesaikan ini" kata Resha sambil menunjuk nampan obat-obatan dan infusnya.


Davin mendongak menatap Resha yang sudah berdiri.


"Kamu mau pergi?" Tanyanya sambil menahan tangan gadis itu


"Hem," jawab gadis itu singkat


"Kemana?" tanya Davin lagi


Gadis itu terlihat menghembuskan nafas lalu menghadap Davin sempurna.


"Ketemu dokter kamu apa kamu juga akan nyuruh anak buah kamu buat ngawasin aku?" tanyanya kemudian.


Davin menggaruk tengkuknya yang tak gatal melihat gadis itu begitu tenang. Tak bisakah Resha tau jika dia begitu mengkhawatirkannya.


"Mau sampai kapan kau melakukan ini?" Tanya Resha sambil melirik tangan Davin yang masih menggenggamnya.


Pria itupun tersadar dan melepaskan genggamannya.


"Selesaikan itu, lalu istirahat !" suruh Resha


Davin menunduk, "Aku cuma takut Sha" lirihnya yang masih terdengar Resha terlihat ia begitu gelisah dilihat dari gerak geriknya.


"Dave" panggil Resha membuat Davin mendongak menatapnya.


Gadis itu menatapnya teduh, "Gak ada yang perlu kamu takutin" katanya lembut


Davin meraih kedua tangan Resha, mereka bertatapan sebentar lalu perlahan gadis itu melepaskan tangannya dan berlalu dari Davin.


...***...


Resha baru saja menutup pintu ruang dokter pribadi Davin. Didapati Bagas, Edgard masih ada di sana.


"Gimana keadaan Davin?" Tanya Bagas to the point


"Gak buruk tapi dokter masih akan memantau perkembangannya satu dua hari ini, semoga benturan itu tidak berakibat buruk buat Davin"


Keduanya menghembuskan nafasnya agak lega.


Resha melirik Edgard lalu beralih ke Bagas "Loe pulang aja, gue masih ada urusan disini mungkin besok gue ambil cuti, loe bisa handle dulu kan meeting kita besok"


Bagas mengangguk, "Loe tenang aja, biar gue yang urus, kabarin gue kalau ada apa-apa, gue balik. Jangan lupa makan!"


Resha tersenyum lalu mengangguk.


Setelah Bagas pergi ia beralih menatap Edgard "Jagain Davin, gue akan balik sejam lagi" kata Resha kemudian berlalu.


Terlihat Edgard memberikan isyarat kepada kedua anak buahnya untuk mengikuti Resha namun tiba-tiba gadis itu berbalik lagi.


"Jangan coba-coba buat ngikutin gue ataupun nyuruh anak buah loe buat ngawasin gue sekarang, gue perlu ketenangan.!" Kata Resha tegas yang sukses membuat Edgard mati kutu entah kenapa ia tak bisa melawan gadis itu.


Pantas saja Davin tergila-gila dengan Resha. Gadis itu memang punya naluri untuk melumpuhkan seseorang. Pembawaannya yang begitu menyenangkan dan santai namun dapat berubah jadi tegas dan datar saat ia tak ingin dibantah. Sepertinya gadis itu memang spesial. Terutama untuk Bosnya itu.


Setelah Resha pergi Edgard membisikkan sesuatu pada anak buahnya terlihat dua orang itu mengangguk dan pergi bukan mengikuti Resha tapi berlawanan arah dengannya.


Edgardpun masuk ke ruangan Davin.


Terlihat olehnya Davin yang tengah sibuk dengan ponselnya terdapat perban dipelipis kirinya. Ia menghembuskan nafas lalu mendekati Davin.


"Loe gak minum obat loe?"tanyanya begitu ia berdiri disisi ranjang Davin.


"Akan, Resha kemana,? Loe gak awasi dia?"tanya Davin balik tanpa melihat Edgard


"Dia aman loe tenang aja.!"


"Tenang?"


"Hm"


"Gue gak pernah bisa tenang kalau dia gak ada didekat gue"


Edgard memutar bola matanya.


Dasar !


Davinpun meletakkan ponselnya di nakas lalu mendongak menatap Edgard.


"Kemana dia?" Tanyanya


"Dia masih di sekitaran rumah sakit, bukannya dia akan kembali setelah loe selesaikan itu" terang Edgard sambil menunjuk obat dengan dagunya.


"Awasi dia gue gak mau Reno sampai macam-macam sama Resha"


"Dia gak akan macam-macam dia gak ngikutin sampai sini kok"


"Loe yakin?" Davin menaikkan sebelah alisnya


Edgard mengangguk, "Kok gue ngerasa kalau sekarang gue bukan lagi bodyguard loe"


"Kok gitu?"


"Ya buktinya loe ada bodyguard aja bisa bonyok gitu" sindir Edgard sambil melipat kedua tangannya didada.


Davin tersenyum, "Gue gakpapa, loe tenang aja"


Edgard menghembuskan nafas sebal dengan lelaki keras kepala itu.


"Ohiya, mami gak tau kan soal ini?" tanya Davin


"Gue sih belum ngasih tau, gak tau kalau Resha"


Davin sedikit menerawang sesuatu,


"Kenapa? Mikirin apa lagi loe" tanya Edgard yang melihat perubahan ekspresi Davin


"Enggak, cari Resha pastiin dia ada di sini !"


Terlihat Edgard menghembuskan nafas, lalu mengeluarkan tab yang tadi dibawanya ia berkutat sebentar lalu menunjukkan pada Davin.


Ternyata itu kumpulan rekaman kamera cctv yang ada di rumah sakit. Terlihat di salah satu rekaman itu seorang gadis yang di carinya. Gadis itu duduk di taman yang tepat berada di depan rumah sakit.


Davin sedikit lega melihat itu, setidaknya ia dapat memastikan jika gadis itu masih ada di sekitarnya.


Tanpa sadar senyum terukir di wajahnya. Sampai terdengar Edgard berdehem membuatnya mendongak.


"Loe pikir gue semudah itu ngelepasin kontrol dari Resha"


Davin tersenyum, "loe paling the best kalau soal ini"


"Selesaiin itu, kalau loe gak mau bikin masalah lagi sama Resha! Gue pergi dulu " kata Edgard sambil mengambil tab itu dari tangan Davin yang hanya memutar bola matanya.


"Loe mau pergi?" Tanya Davin


"Hemm, kayaknya loe lebih seneng gue di luar daripada disini nungguin loe" sindir Edgard yang membuat Davin menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ed,!" Panggil Davin sedikit ragu-ragu untuk mengucapkan sesuatu pada Edgard


"Apa? Ada yang mengganggu fikiran loe?"


"Enggak kok, gak jadi"


Edgard menghembuskan nafas dan berpaling lalu menghadap Davin.


"Jangan bikin gue penasaran deh gue gak suka kalo loe ngomong setengah-setangah gini, bilang aja!"


"Sebenernya, gue pengen tau keadaan brengsek itu"


"Reno?"


"Hm"


"Buat apa sih, malah bagus kan kalau dia kenapa-kenapa toh itu karena ulahnya sendiri" Edgard menyilangkan kedua tangannya di dada.


Edgard mengangguk, "Gue bakal cari tau, gue denger Arsen kan juga ada disana waktu kejadian tadi"


Davin mengangguk mencoba mengingat, "Arsen bilang kalau dia pernah satu club taekwondo Reno , makanya dia nyuruh gue buat mundur waktu itu"


"Arsen kenal Reno?"


"Hm, Reno juniornya waktu kuliah, udahlah istirahat gih, dari pagi pasti loe belum sempet istirahat gara-gara ngikutin Resha"


"Hm, gue keluar dululah nyamperin cewek cantik mumpung yang punya lagi sakit"


Yang membuat Davin menatapnya tajam, "Jangan bilang itu Resha, kalau loe gak mau gue bunuh sekarang juga" ancamnya yang membuat Edgard terkekeh.


"Gue baru sadar kalau Resha emang cantik, pantes aja loe sampai rela kayak gini" kata Edgard berusaha menggoda Davin.


"Ada pistol di laci gue,mau gue keluarin sekarang?"


Edgard tertawa, "Iya iya, nyerah gue nyerah, gue gak bakal pernah menang kalau sama loe. Loe tenang aja"


Davin mengembuskan nafas kesal, ia memang sedang sensitif sekarang jika itu berbau Resha.


"Yaudah, gue keluar jangan lupa noh" tunjuk Edgard ke arah kotak obatnya.


Davin hanya mengangguk setelah itu


Edgardpun keluar dari ruangannya.


...***...


Seminggu berlalu.


Davin sudah pulih dan pulang dari rumah sakit. Rasanya ia begitu sehat dari sebelumnya. Selama dirawat Resha tak pernah seharipun tak mengunjunginya. Dan itulah salah satu obatnya. Benturan itu memang mengenai daerah temporalisnya seperti yang dikatakan dokter namun tak berakibat fatal untuk dirinya. Disamping itu ia begitu bahagia karena setiap hari ia bisa melihat Resha setiap hari meski tak menunggunya seharian setidaknya ia bisa memastikan jika gadis itu baik-baik saja.


Hari ini ia akan berangkat ke kantor sudah seminggu ia tak masuk kerja. Sebenarnya dokter hanya memintanya 3 hari untuk di rawat namun malah Davin meminta 5 hari. Tentu saja ia hanya ingin melihat Resha selalu mengunjunginya.


Modus sekali dia ini. Bisa bangkrut usaha kalau pemiliknya macam ini. Tapi manamungkin, dia itu pemegang Saham terbesar "RD groups" hampir 80% saham perusahaan itu adalah miliknya dan sudah di sah kan kepemilikannya. Jika di hitung kekayaannya sendiri tak akan habis hingga tujuh turunan sekalipun tiap hari ia harus membeli mobil bahkan mansion mewah.


Dan malam ini ada acara syukuran di perusahaannya seharusnya acara itu seminggu yang lalu tapi karna insiden itu akhirnya jadwalpun diubah.


Davin melirik arlojinya, setelah sebelumnya ia mengancingkan kancing kemeja di tangannya. Ia meraih tuxedo yang sudah disiapkan untuknya. Hari ini sudah ia tunggu-tunggu. Setelah kejadian beberapa hari belakangan yang begitu berat akhirnya hari ini datang juga.


Semoga lancar.


Ia meraih kunci mobilnya, sebelum pergi ia menatap dirinya di cermin senyum tipis terukir di wajahnya lalu menghembuskan nafas entah apa tujuannya. Iapun segera berlalu dari apartment pribadinya.


...***...


Lamborgini merah itu berhenti di areal rumah bernuansa modern klasik itu siapa lagi kalau bukan rumah Resha. Terlihat olehnya di depan pria dan wanita paruh baya sedang duduk di teras rumah itu. Ia tahu mereka siapa, orang tua Resha. Ia sedikit gugup sekarang ini bukan pertama kali ia bertemu orang tua Resha.


Kembali ia menghembuskan nafas, lalu melepas kacamata hitamnya dan keluar dari mobilnya.


Dapat dilihat dua orang itu tersenyum, iapun mengikutinya.


"Selamat sore om, tante apa kabar?" sapanya sambil bersalaman dengan keduanya bergantian


"Sore Dave, kabar baik, kamu sendiri? baik?"tanya mama Resha


Davin mengangguk, "Davin juga baik kok tan"


"Syukur deh, masuk yuk Resha ada didalam, mau pergi ya katanya?"


"Ada acara kecil-kecil di kantor, ya kalau boleh Davin mau ngajak Resha" jawab Davin saat perjalanan menuju ruang tamu


"Iya boleh, masuk yuk" jawab mama Resha sambil mengajaknya masuk ke rumah.


"Sha Davin datang nih" panggil mama Resha


"Iya bentar"sahut Resha dari arah kamarnya yang ada di lantai 2 tak jauh dari ruang tamu.


"Duduk dulu gih tante bikinin minum"


"Eh gak usah tante, kita ngobrol-ngobrol aja mumpung Davin kesini lagian ntar kita juga langsung berangkat kok"


"Bener nih"


Davin mengangguk,


"Okelah,"


"Ada acara apa di kantor kamu Dave kok tumben Resha diajak?" tanya papa Resha yang baru masuk


"Syukuran kecil-kecilan aja om, sekalian mau launching produk baru aja sih, sayangnya om sama tante gak bisa datang"


"Pengen sih Dave, tapi ya mau gimana besok pagi-pagi kita mau ke luar negri juga" jawab mama Resha


Tak berapa lama Resha turun dengan dress hitam selutut rambutnya dibiarkan tergerai menyamping kebahu kanannya.


Speechless.


Gadis itu begitu cantik, meski tanpa make up tebal bahkan terkesan natural.


"Gak lagi melototin anak om 'kan" sindir papa Resha karena melihat Davin diam saja


Davin hanya terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. Malu sekali dia ketahuan menatap Resha sampai bengong seperti itu. Pasti mukanya terlihat seperti orang tolol tadi.


Resha yang mendengarpun ikut terkekeh.


"Berangkat yuk, ntar telat lagi" ajaknya untuk menghilangkan kecanggungan Davin.


"Yuk, om tante saya pinjem anaknya bentar ya" ijin Davin


"Jangan lupa dibalikin ya " gurau papa Resha


"Niatnya sih pengen Davin bawa terus om ehh" kata Davin yang membuat Resha memukul lengan kanannya


Kedua orang tua Resha pun ikut tertawa.


"Yaudah ati-ati kalian" kata mama Resha sambil menyalami keduanya.


"Pasti ma, kita pamit" pamit Resha gantian. Setelah itu merekapun memasuki mobil lamborgini merah itu setelah sebelumnya Davin membukakan pintu untuk tuan putrinya.


...***...


"GEDUNG UTAMA RD GROUP"


Puluhan mobil mewah terlihat memasuki areal parkir gedung utama RD GROUP. Semua tamu undangan dari berbagai kalangan rekan bisnis, investor, pemilik saham, hingga sahabat dan kerabat dekat Davin. Hari inipun kedua orang tuanya juga datang termasuk Dania adik Davin yang kuliah di luar negeripun turut datang untuk acara ini.


Bukan apa-apa sebagai perusahaan besar acara ini mungkin masih dikategorikan kecil mengingat kesuksesan Davin dalam menangani perusahaannya selama 3 tahun terakhir. Tapi ya, begitulah meski hari ini ia juga dinobatkan sebagai billionaire muda, ia tak ingin terlalu membuang-buang waktu hanya untuk pesta-pesta yang besar ataupun semacamnya.


Yang ia butuhkan hanyalah orang-orang yang selalu ada dan setia di sampingnya hingga ia sampai di titik ini.


Acara berlangsung meriah dengan hiburan bintang tamu yang turut diundang untuk mengisi acara Resha dan Davin duduk di satu meja besar bersama kedua orang tua Davin, Dania, Aldo, dan Edgard di samping juga ada Raya dan Bagas yang turut diundang. Orang tua Resha sebenarnya juga turut diundang tetapi mereka besok pagi harus landing ke New york untuk urusan bisnis jadi mereka berhalangan untuk hadir.


"Sebelum memasuki acara selanjutnya mari kita beri tepuk tangan untuk orang dibalik kesuksesan RD GROUP, CEO utama sekaligus Presiden RD GROUP sekaligus putra pertama saya.... Davin Regardi" kata Papa Davin, Irsyad Regardi yang tengah berpidato diatas panggung.


Seluruh tamu undangan memberikan tepuk tangan yang meriah dan menatap kearah sang billionaire. Yang menjadi pusat perhatianpun tersenyum lalu berdiri dan membungkuk memberi penghormatan.


Resha menatap pria di sampingnya itu yang kini sudah kembali duduk dapat dilihat aura kewibawaannya dengan tuxedo abu dan kemeja putih lengkap dengan dasi senada bergaris putih. Sampai tangan besar itu menggenggam tangannya membuatnya kembali ke alam sadarnya.


Pria itu mendekatkan wajahnya membuat wajahnya panas. Kenapa ia jadi seperti ini bukan kali pertama ia bertatapan dengan pria itu.


Resha sadar.


Resha mengalihkan pandangannya ke panggung yang entah sejak kapan sudah ada pengisi acara yang tengah menyanyikan lagu.


Kapan papa Davin turun dari panggung. Aishh kenapa ia jadi hilang konsentrasi begini sih. Apa selama itu ia menatap Davin.


"Melamunkanku?" Bisik Davin


Sial. Bisa-bisanya pria itu malah menanyainya.


Ia meliriknya sekilas, terlihat pria itu tersenyum padanya.


Jangan tersenyum seperti itu Dave !


Sampai datang seseorang mendekati meja mereka ia membisikkan sesuatu ke telinga Davin.


Terlihat keduanya berpandangan sekilas lalu Davin mengangguk dan pria itupun pergi.


Resha menatap Davin yang kini juga tengah menatapnya. "Kamu tunggu disini bentar" bisik Davin


"Mau kemana?" Tanya Resha khawatir.


"Bentar aja" kata pria itu lalu berdiri dari tempat duduknya dan berlalu.


Resha hanya melihat punggung Davin yang menghilang dibalik pintu masuk.


Ada apa sebenarnya?


Ia mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah panggung melihat pertunjukan para bintang tamu.


Mau kemana sebenarnya Davin?


Apa ada masalah lagi ?


Atau ini akan menjadi sebuah kejutan?