
Resha mengerjabkan matanya beberapa kali mencoba mengembalikan kesadarannya. Ia melirik kesebelah kirinya terlihat seorang lelaki tertidur sambil menggenggam tangannya. Wajahnya begitu damai dan selalu tampan.
Bibir Resha sedikit tersenyum melihatnya, sementara di sofa ada kedua orang tuanya juga tengah tertidur. Saat ini memang masih cukup pagi. Ia teringat kejadian beberapa jam lalu saat pisau itu diarahkan ketubuhnya yang langsung membuat tubuhnya seperti mati rasa dan seketika semua menjadi gelap.
Kembali ia menatap Davin yang masih terjaga. Ia menarik tangannya yang sedari tadi digenggam Davin lalu membelai wajah tampan itu sepertinya pria itu kelelahan sampai gerakan dari tangannya tak menganggu tidurnya sedikitpun.
...Maaf membuatmu khawatir....
Sampai Davinpun sedikit terusik dengan sentuhannya lalu membuka matanya.
"Kamu udah sadar, apa ada yang sakit?" Tanyanya.
Resha hanya menggeleng, wajahnya terlihat pucat namun masih terlihat cantik. Davinpun berdiri dan membelai pipi kanan Resha dengan tangannya sambil menatap ke dalam bola mata coklat itu.
"Terimakasih " kata Resha.
Davin mengerutkan keningnya "Buat ?"
"Semuanya" jawab Resha sambil menyunggingkan senyumnya.
Pria itu tersenyum menatap gadisnya itu ia benar bahagia bisa melihat senyuman itu. Senyuman yang seolah menjadi candu tersendiri untuknya.
"Sayang, please, Stay with me !" Ucap Davin sungguh-sungguh sambil menggenggam tangan Resha yang bebas dari infus.
Gadis mengangguk, dan sedikit bangun untuk meraih Davin lalu memeluknya.
"Aku kangen" lirihnya.
Davin tersenyum dalam pelukan itu "Aku lebih kangen" lalu mengeratkan pelukannya menandakan ia begitu bahagia melihat Resha suamdah siuman.
Benar-benar memabukkan.
Davin sedikit merenggangkan pelukannya.
"Aku panggil dokter dulu, biar periksa kondisi kamu" katanya lalu mencium kening Resha sebelum benar-benar berlalu setelah mendapar anggukan dari Resha.
...Resha sedikit kaget dengan perlakuan Davin, sejak kapan laki-laki itu begitu berani padanya. Sedetik kemudian wajahnya merona....
...♡♡♡...
Suara dentuman musik menggema didalam ruangan club malam itu. Disalah satu ruang vvip di bar itu seorang wanita tengah duduk ditemani seorang pria bertubuh jangkung dengan tubuh atlestisnya.
"Aku dengar kau berurusan lagi dengan dia?" Tanya pria itu setelah sebelumnya menyesap wine miliknya.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya wanita itu balik.
"Apa aku harus menyebutkan nama Davin Regardi?"
Wanita itu berdecis, "kau menyuruhku kemari hanya untuk menanyakan itu?"
"Aku tau kamu, dan aku sangat mengenalmu. Tapi, untuk yang satu ini kau sudah kelewatan"
"Apa pedulimu ! Bukankah seharusnya kau tak perlu memperdulikan ini, kita sudah sah bercerai dan kamu sudah tidak berhak mencampuri urusanku"
Pria itu tersenyum masam, lalu sedikit mendekatkan dirinya pada wanita itu.
"Kau jangan lupa kalau aku memberikanmu 25% sahamku"bisiknya lalu menjauh.
Terlihat wanita itu memerah, "Itu sudah menjadi hakku. Hak ketika menjadi istrimu DULU" katanya sambil menekankan kata-kata Dulu.
Pria itu tersenyum remeh, "Kau bahkan bukan apa-apa tanpa itu dan kau mengharapkan pria selevel Billionaire itu kembali padamu. Cih, sadarlah bahkan jalang disini lebih berharga daripada dirimu"
"Why? Apa aku salah?" Tanya pria itu sambil menatap sang wanita.
"Berhentilah mengucapkan omong kosong itu brengsek" sergahnya
"Omong kosong? Whoaahh, kau sedang bergurau sepertinya, aku rasa dari tadi aku mengatakan hal yang nyata adanya"
"Katakan apa maumu aku tak punya waktu untuk berlama-lama disin?"
"Kau terlalu terburu-buru MANTAN istriku" kata pria itu sambil tangannya mulai nakal membelai paha wanita itu namun segera dihempaskan oleh Aryani.
"Aku akan membunuhmu jika kau tak segera mengatakan apa maumu !" Wanita itu mulai kehabisan kesabaran.
"Baiklah, baiklah... aku ingin... kau pergi dari negeri ini" katanya yang langsung mendapat pelototan dari wanita itu.
"Tidak akan"
"Kalau begitu aku akan menarik semua sahamku dan memastikan Davin tahu soal rencana busukmu itu"
"Berhenti mencampuri urusanku Virgo!"
"Kau yang berhenti Aryani.! Tak bisakah kau sadar kalau kau takkan pernah bisa mendapatkan Davin kembali kau hanya akan menggali lubang kematianmu sendiri ?"
"Wanita itu yang akan mati, dan aku akan kembali bersama Davin"
"Davin bukan orang bodoh, dia punya banyak koneksi untuk mengetahui siapa dalang penculikan itu, kau tahu hampir seluruh perusahaan informasi dinegara ini memiliki kerjasama dengannya"
"Termasuk kau?"
Kali ini lelaki terdiam menunggu apa yang akan dikatakan mantan iatrinya itu.
"Aku tak akan diam saja jika kau juga ikut bekerjasama dengannya"
"Aryani sadarlah ! Sekuat apapun kamu menghindar kamu gak akan pernah bisa bersembunyi dari kekuatan Davin dan timnya"
"Bisa selama kau tutup mulut bodohmu itu"
Pria itu mendesah kesal, "Pergilah ke luar negeri untuk sementara ini aku yang akan mengurus semua sisanya disini, tapi tolong menjauhlah sementara" kata pria itu.
Aryani wanita itu berpaling muka mendengar ucapan Virgo mantan suaminya itu.
"Kau harus sadar, kalau kelakuanmu itu akan membuat Davin semakin membencimu."
Aryani hanya memutar bola matanya.
"Kau tahu, kalau aku aku gak akan pernah bisa melihatmu terluka, kau tahu kalau aku gak bisa lihat kamu disakiti bahkan demi ambisi bodohmu itu aku merelakan pernikahan kit..."
"Berhenti membicarakan pernikahan, kamu tahu kalau aku belum pernah siap buat nikah sama kamu waktu itu, tapi kamu dengan sesuka hati kamu maksain kehendak kamu. Apa kamu pikir pernikahan seperti itu akan berjalan lancar, heh ?" Potong Aryani.
Kali ini Virgo terdiam.
"Gak ada satupun yang bisa menghalangi aku untuk mendapatkan cinta aku kembali. Termasuk kamu !" Pungkas Aryani lalu berlalu begitu saja dari hadapan Virgo.
Virgo menatap kepergian wanita itu, wanita yang sudah 3 bulan yang lalu menjadi mantan istrinya. Ia memang masih mencintainya, bahkan sangat. Tapi apalah dayanya jika wanita itu masih mengharapkan mantan kekasihnya. Kehidupan rumah tangga yang harmonis dan penuh canda tawa nyatanya tak pernah bertahan lama untuknya. Semua berawal ketika ia melamar Aryani secara mendadak. Saat itu ia memang sudah berpacaran dengan gadis itu selama 6 bulan dan ia sudah begitu yakin dengan pilihannya hingga akhirnya menikahinya. Saat berjalan satu bulan kehidupan rumah tangga mereka memang bisa dikatakan bahagia seperti pasangan pada umumnya namun menginjak bulan-bulan berikutnya jarak-jarak mulai diciptakan oleh wanita itu. Mereka lebih sering bertengkar hanya untuk hal sepele dan wanita itu selalu berkata kenapa ia harus menikah cepat dengannya.
Jujur itu memang menyakiti hatinya hingga di tahun pertama pernikahan mereka Aryani menggugatnya dengan alasan tidak cocok. Labil memang, karena saat itu Davin mantan kekasihnya telah menjadi pengusahan terkenal dan sering nongol di tv yang sering Aryani lihat dalam konferensi pers atau acara bisnis lainnya. Dan sejak itulah, ia semakin sering mangatakan tentang keterpaksaannya untuk menikah dengan Virgo. Bahkan pengakuannya jika ia masih mencintai Davin. Setelah negosiasi yang terbilang singkat akhirnya ia dan Aryani bercerai dengan hak 25% saham perusahaan Nelon company menjadi milik Aryani. Itupun ia juga berikan sebagai bentuk kepemilikan yang sah meski masih ada dua nama diatas kertas. Aryani sebagai pemilik saham dan Virgo sebagai Investor utamanya. Seperti yang ia katakan tadi jika ia tak hisa melihat Aryani kesusahan dalam hidupnya.
Tapi, seperti itu hidup kadang tak sesuai yang diharapkan. Pernikahan yang bahagia penuh suka cita kini harus berakhir dengan pengorbanan yang tak dihargai.