
Sfx : krrriinggg
Bunyi alarm membangunkanku, aku turun dari ranjang membuka gorden , kelihatannya cuaca sedang bagus hari ini.
Aku merentangkan kedua tanganku ke atas, aku harus mandi dan membereskan kamarku juga menyiram tanaman-tanamanku.
30 menit sudah dan semuanya sudah ku bereskan, memasukkan Handphone dan dompetku ke dalam tas dan berjalan turun ke arah parkiran khusus sepeda. Aku suka naik sepeda, ya hitung-hitung olahraga di pagi hari.
Fabulous Flower, toko bunga yang ku dirikan sendiri, tak terasa sudah 2 tahun toko ini masih berdiri kokoh seperti ini, dan para pelanggan puas dengan bunga-bunga di sini. aku tidak berharap banyak sebenarnya, karena memang aku mendirikan toko ini sebagai praktek yang sudah ku pelajari selama ini di kuliah.
“Selamat pagi, Ms. Park. Apa kabar?”
“Oh.. selamat pagi, Karen. Aku baik, bagaimana denganmu?” Karen berhenti mengerjakan pekerjaannya yang sedang mengelap berbagai hiasan yang menempel di dinding-dinding juga meja.
“Seperti yang Ms. Park lihat. Just fine as always”
“That’s good, Karen. Mana yang lain?” di toko ini, aku memperkerjakan 3 orang Karen, Lia dan Rose. Karen pegawai senior disini, kuliah di semester 6—Seniorku di jurusan pertanian. Umurku sama dengannya jika kalian heran memngapa aku tidak memanggilnya Kakak.
“Mereka sedang mengantar pesanan dari pelanggan”
“Wah.. masih pagi sudah ada yang pesan ya” Aku mengambil—mirip seperti Apron tapi ini memang untuk mencegah bajuku tetap bersih lalu memakainya. Mulai merapikan bebrapa tangkai bunga yang sedikit tertarik keluar dan memotongnya agar sama rata.
“Ya, seperti yang kamu tahu sebentar lagi akan natal”
“Hei masih ada waktu 2 bulan lagi, ini masih Oktober kalau kamu lupa”
“Akhir Oktober lebih tepatnya” ku lihat Karen sudah selesai dengan pekerjaannya , ikut membantuku memotong tangkai bunga.
“Yah.. aku sedikit aneh dengan selera anak muda zaman sekarang. Hari halloween malah memesan bunga, memangnya apa yang seram dari bunga-bunga ini?”
“Memang tidak seram, jika kamu memberi bunga Arbutus kepada seseorang dan seseorang itu malah membalasnya dengan sebuket bunga layu, bagaimana tidak seram?”
“Membayangkannya saja sudah membuatku merinding. Apa Anak-anak zaman sekarang masih mengerti tentang arti bunga-bunga? Aku pikir hanya generasi tua seperti kita saja yang mengerti” Aku merasa sudah tidak banyak orang\-orang yang tahu arti dari bunga\-bunga ini, mereka hanya melihat apakah bunga itu indah apa tidak.
“Kita tidak setua itu, tahu” kami pun tertawa dan kembali melanjutkan pekerjaan kami.
Berkerja disini sedikit menghilangkan rasa lelah dan stress ku oleh tugas-tugas kuliah yang menumpuk. Hari ini, toko lumayan ramai, aku sangat senang. Jam 12 siang, sudah waktunya kami makan siang.
“Makan dimana, Ren?” Tanyaku sambil membalas pesan singkat dari Cillia yang mengajakku untuk menonton film Frankenweenie.
“Restauran di seberang saja” Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan keluar, mengunci pintu toko.
“Astaga.. aku sampai lupa dengan Lia dan Rose, apa mereka belum sampai?” aku terlalu bersemangat kerja di toko sampai melupakan mereka berdua.
“Aku sudah menghubungi mereka tadi, dan mereka sedang jalan kembali”
“Apa tempatnya begitu jauh?”
“JS Hotel, kamu tidak akan pernah menyangka hotel sebesar da seterkenal itu yang memesan bunga Daffodil kita setiap harinya”
“WHAT?” Siapa yang tidak tahu JS Hotel, Hotel bintang 5 yang menjadi Hotel favorite para Artis dunia. Tidak hanya itu Hotel itu juga tempat Presiden-Presiden mancanegara beristirahat dan mereka\-lah yang memesan bunga Daffodil di toko ku hampir setiap harinya?
“Jangan bertanya padaku, aku juga baru tahu jika Hotel itu salah satu pelangan setia kita” Ya, fakta bahwa JS Hotel adalah pelanggan di toko bungaku membuatku tercengang dan aneh. Lagian Hotel itu terletak di Ibukota , mengapa mereka malah membeli bunga di tempatku daripada di toko bunga yang lebih dekat dan dipastikan bunganya juga lebih segar?
“Hei sudahlah, tidak perlu di pikirkan, lebih baik sekarang kita makan” Aku berjalan mengikutinya, masih tidak menyangka dengan hal tadi. Sepetinya aku tahu siapa pemilik Hotel itu, tapi siapa ya?
Tanpa kusadari kami telah masuk dan duduk di dalam restauran ini. “Ren, kamu tahu siapa pemilik JS Hotel, gak?”
“Busyet deh, emangnya aku ini Google yang bisa tahu apa aja?”
“Yah.. biasanya kan kamu yang paling update sama hal-hal yang beginian”
“Beneran kamu gak tahu, Ren? Jangan bohong, dosa lho”
“Di kasih tahu juga ngeyel”
“Ya deh..” tiba\-tiba beberapa piring berisi maknan hadir di hadapan kami.
“Kamu mesan sebanyak ini, Ren? Buat apa?” lagipula sejak kapan Karen memesan makanan ini? Kenapa aku tidak menyadarinya?
“Iya, biar kamunya berisi, jangan kayak orang susah gitu” aku mendengus mendengar kalimat ejekkannya. Memang tidak masalah dia memesan makanan ini, tapi siapa yang sanggup untuk menghabiskannya?
“Iya , tapi ini banyak banget. Emangnya kamu sanggup buat ngehabisin makanan sebanyak ini?” Aku memerhatikan setiap makanan yang tersaji di meja, semua makanan ini, makanan yang aku suka. Ada Tafelspitz, Martinigansl, Tiroler Grostl, Karntner Kasnudeln semua ini makanan khas Austria. Aku baru tahu bahwa restoran ini menyediakan makanan Austria.
“Kamu pasti sanggup menghabiskannya”
“Hei.. darimana kamu tahu bahwa ini makanan kesukaan ku? Dan aku baru tahu jika restauran ini menyediakan makanan khas Austria”
“Emm? Entahlah hanya menerka saja. Kamu sering mengatakan bahwa kamu rindu Kakekmu disana, yasudah aku pesan saja makanan ini. Ini memang restauran Austria” Hah? Apa benar ini restauran Austria? Sejak kapan restauran ini berdiri? Sudah berapa lama aku tidak melihat dunia?
“Jangan memikirkan hal-hal yang aneh. Makan saja makanan itu, kita harus kembali membuka toko” Aku mendengus, masih penasaran dengan restauran, mengapa ada restauran Austria yang tidak ku ketahui.aku selalu tahu restauran-restauran Austria, tapi untuk di daerah ini, aku tidak tahu. Ahh.. sudahlah, lebih baik aku makan saja.
-The Last-
“Hari ini begitu melelahkan” Aku mengangguk, menyetujui pertanyaan yang dilontarkan oleh Lia sambil memijit pelan pundakku yang sedikit kaku.
“Tapi, keuntungan kita hari ini lebih banyak dari minggu lalu” Ucap Karen.
“Kita akan makan dimana malam ini?” Aku ingin ikut , tetapi tugas kuliah terus menghantuiku, lebih baik aku pulang saja.
“Maaf, kalian saja yang pergi. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku yang sangat menumpuk itu” Ku lihat Rose menekuk wajahnya, “Hei.. lain kali kita bisa makan malam bersama, aku yang traktir”
“Baiklah kalau begitu” Kata Rose dengan senang, “Kalian pergilah, biar aku yang menutup toko. Aku masih ingin memindahkan beberapa pot lagi”
“Biar kami bantu” Aku menahan tangan Karen yang ingin mengambil pot di bawah lantai. “Sudah tidak apa-apa. Nanti kalian kemalaman, tidak bagus jika terlalu sering kena angin malam”
“Hhhmm.. baiklah, kamu benar-benar tidak ingin ikut dengan kami?” Tidak biasanya Karen seperti ini.
“Kamu ini kenapa sih, Ren? Tugasku numpuk banget. Beneran gak bisa di tunda lagi”
“Oke oke, minggu depan kamu harus ikut kami makan malam” Aku mengangguk dan melambaika tanganku pada mereka. Mereka membalas dan pergi, ada-ada saja kelakuan mereka.
Aku menarik nafas dalam dan mengeluarkannya. Ku lihat sekeliling toko, aku sangat suka jika berlama-lama di dalam toko ini. Rasanya sangat menenangkan, merapikan beberapa mainan pajangan yang ku letakkan di nakas juga di beberapa meja. Menyapu lantai dan mengelap meja dan nakas.
Aku mulai memindahkan pot-pot bunga ke dalam ruang kaca. Setelah itu, aku menghitung persediaan bunga, mencatat bibit bunga apa yang harus ku beli, melihat persediaan pupuk dan lainnya, untuk dibeli jika kurang.
Aku masuk ke dalam dapur, membuat secangkir kopi untuk melepas penat. Duduk menghadap ke luar jendela, menikmati udara yang segar. Bulan sedang cerah malam ini.
Hanya di saat sepertilah aku mengistirahatkan pikiranku. Besok aku harus pergi membeli beberapa bibit bunga, pupuk dan yang lainnya.
Aku bersyukur untuk hari ini, bersyukur bahwa aku masih bisa menikmati udara yang segar ini, melihat bulan, masih bisa merasakan rasanya kopi panas, masih bisa melihat tanaman-tanaman ini tumbuh, dan aku bersyukur masih bernafas sampai saat ini.
Rasanya hidupku begitu beruntung bisa mendapatkan apa yang ku impikan selama ini. Berkuliah di Universitas favorit ku, memiliki toko bunga, mendapat beasiswa penuh, memiliki teman-teman yang begitu baik padaku, Orang tua yang selalu mendukungku. Aku bersyukur dan berterimakasih kepada Tuhan yang telah begitu baik padaku.
Aku meletakkan kembali cangkir ku ke dalam dapur, mencucinya dan mematikan lampu. Memakai mantel dan mengambil tasku, tak lupa juga mengambil kunci toko yang tergantung di dinding.
Sfx: tring ting..
“Ahh.. maaf toko ini su-“ Aku terdiam, terpaku kepada seseorang yang baru saja masuk ke tokoku dan sekarang berdiri di hadapanku, “-dah tutup” sudah di pastikan wajahku begitu konyol saat ini. Aku tidak tahu apakah ini efek karena Kafein yang barusan ku konsumsi atau ini nyata. Demi Tuhan, James Spearmint di hadapanku saat ini!
TBC