THE LAST

THE LAST
Part I : James, namanya.



“Ada Kak James”



“OMG, Kak James!”



“Jangan Berisik, nanti dia tidak mau lagi lewat disini”



Aku enggak heran, kenapa mereka se\-heboh itu. Yah.. karena James Spearmint Lee—Mahasiswa semester 6 jurusan Teknologi Informasi yang super tampan namun dingin. Tidak ada yang bisa menolak pesonanya, dan aku salah satunya.



Saat ini aku bersama sahabatku sedang duduk di kantin, niatnya sih mau menikmati semangkok bakso Mang Dono juga segelas es Limun yang amat terkenal seantero Kampus. Buat pesannya aja harus ngantri 30 menit, itu juga kalau enggak kehabisan dan beruntungnya kami hari ini bisa menikmatinya, seharusnya begitu. Kalau saja Kakak Kelas pujaan hati tidak ada di kantin, mungkin aku bisa menikmati makanan yang ada di depanku.



Kalian pasti bingung mengapa di sini ada bakso, Mang Dono sudah lama berjualan di sini, katanya sih dari umurnya 20 tahun dia sudah jualan bakso disini, awalnya dia kesini karena ingin jadi TKI tapi ternyata dia tertipu, dengan usahanya sendiri dan kemahirannya membuat bakso dia mulai berjualan bakso di pinggiran jalan dan sampai akhirnya banyak yang suka dengan baksonya khas Indonesia, disini banyak Orang Indonesia yang mendapat beasiswa di sini.



“Gimana aku bisa nikmatin bakso\-nya, kalo yang di depan sana lebih nikmat buat di pandang” Bukan, bukan aku yang berbicara tapi sahabatku—Cillia . Cillia Gladiolus Byun.



“Heh.. Mulutmu itu. Kamu bilang gak bakalan terpanah sama kegantengan Kak James. Lagian kamu kan udah punya pacar, ganjen ya” Sahutku



“Lah.. Nikmat mana yang harus ku dustakan, Daisy? Tuhan lagi baik menyuruh malaikatnya buat datang ke kantin kita” Aku hanya menggelengkan kepalaku



“Tapi kamu yang bilang kalo pacar kamu yang paling tampan se\-dunia, sejagat raya, se\-indonesia, dan se\-Dkk –nya. Memuji Adam lain itu dosa wahai Hawa yang sudah terikat” Masih tertanam dengan jelas, bagaimana Cillia memuji\-muji kekasihnya yang se\- entahlah , tidak bisa ku ungkapkan dengan kata\-kata. Hampir setiap hari aku harus mendengar jeritan tertahannya—Dia tidak sedang BAB kok tapi dia selalu seperti itu, Gemas katanya. Aku juga Gemas, Gemas ingin memukul wajahnya.



“Ssstt.. lagian Adam\-ku tidak tahu, wahai Hawa yang masih sendiri, jadi itu tidak apa\-apa” Jangan tahan aku untuk tidak memukulnya saat ini, oh.. Tangan ku sudah sangat gatal.



“Hei.. Bangsa Cincillia, aku tahu kamu dan bangsamu tidak bisa hanya memiliki 1 pejantan, tapi biarkan aku—si Bangsa Bunga ini memiliki Lebahnya, jangan mengganggu”



“Ku pijak saja sekalian Bangsa mu itu, ku gigit, ku kunyah sampai hancur” Aku memberikan tatapan mematikanku, aku tahu itu tidak akan berpengaruh apa\-apa padanya, hanya ingin saja.



“Sudahlah, lebih kita makan dulu, sebentar lagi masuk pelajaran Buk Natasya. Kamu tahu kan dia gak bisa menolerir keterlambatan, bahkan 1 menit saja” Tak ku hiraukan lagi Cillia yang masih saja memandang ke arah Kak James.



Yah.. aku cukup sadar diri. Cillia itu cantik, tubuhnya tinggi, langsing, semampai beda banget sama aku yang buluk, jerawatan, pendek, kecil mirip banget sama anak SMP. Tapi, aku gak nyerah gitu aja.


Dari awal OSPEK sampai sekarang aku selalu ngirimin Kak James surat cinta plus setangkai bunga Daisy yang masih segar , baru di petik dari kebunku. Kenapa bunga Daisy? Karena Daisy itu aku. Daisy Daffodil Park. Iya , emang se-tanaman itu namaku, di dukung dengan aku yang jurusan Pertanian (Agroteknologi) di Oxford University ini.


Berharap dengan setangkai Daisy itu bisa menjadi sebuah kesan yang tak terlupakan, walaupun Kak James tidak mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkannya surat itu. Itu pun jika dia membacanya, tapi selama ini aku tidak menemukan 1 surat pun yang di buangnya. Sstt.. aku tidak memeriksa setiap Tong sampah, hanya ku lihat saja.


Bel udah bunyi, ah.. Bakso ku masih setengah termakan. Ku lihat Cillia yang masih saja memandang ke arah Kak James secara terang\-terangan, Dia sudah tidak waras ternyata , Batinku. Ya, masalahnya sekarang sudah Bel, dan Makanannya tidak di sentuh sama sekali. Sia\-sia sekali aku mentraktirnya makan.



“Woi, udah Bel. Back to Earth, Cillia!” Aku mengguncang\-guncangkan badannya dengan cukup kuat. Ku lihat ke arah depan, dan Oh.. shit, Kak James sedang melihat ke arah sini. tenangkan dirimu, Daisy. Jangan sampai melakukan hal bodoh .



Aku masih terus mengguncang badan Cillia, sesekali ku lihat ke arah Kak James yang masih saja melihat ke arah kami. Aku bisa pingsan kalau begini, lebih baik aku meninggalkan Cillia. Aku langsung mengambil tas ku dan lari. Ia aku lari, karena malu juga takut kalau Ibu Natasha sudah ada di dalam kelas.



Ku lihat kelas masih rusuh, tanda kalau Ibu Natasha belum masuk. Ku hela nafasku lega, bagaimana nasib Cillia? Ahh.. aku tidak tahu. Kenapa juga dia harus sampai mupeng begitu.



“Sampai kapan kamu berdiri di depan kelas, Daisy?” Aku berbalik dan Ibu Natasha sedang menatapku sambil menaikkan satu alisnya. Buset dah, begitu aja udah serem.



“Eng\-Enggak kok, Bu. Ini baru mau masuk. Silahkan masuk, Bu. Hehehe” Aku menyampingkan badanku agar Ibu Natasha dapat berjalan masuk. Terkutuk lah kau, Cillia. Apa yang harus ku jawab jika Bu Natasha menanyakan Cillia .



“Daisy!” Aku tersentak karena tiba\-tiba Bu Natasha memanggilku, “Eh, Iya Bu?” Oh... alasan apa yang harus ku bilang tentang Cilla.



“Dimana Cillia?” Sudah ku duga, dia pasti menanyakannya. Cillia itu murid kesayangannya , yah.. karena Cillia sudah terlalu sering tidak hadir dalam kelasnya.


“Eee.. itu-itu” Aku adalah orang yang tidak bisa memikirkan sebuah alasan—apalagi alasan itu untuk berbohong, tidak mungkin kan kalau aku bilang bahwa dia sedang menatap Kakak Kelas Pujaan hati? Bisa-bisa Cillia dan bangsanya di musnahkan dari dunia.


“Jawab yang benar!”




“I\-iya Bu, dia Diare gara\-gara makan cabe\-nya Mang Dono. Jadi tadi dia izin pulang, Bu” Ini semakin ngawur , aku sangat gugup sekarang.



“Baiklah, kalau saja Saya tahu kalau kamu berbohong, maka kamu yang akan menerima hukuman dari Saya”



“Iya, Bu” Sialan, kenapa aku yang kena? Ku doakan Cillia benar\-benar Diare saat ini.


“Hari ini kita akan membahas tentang Toksologi Lingkungan”


-The Last-


“Baiklah, Perkuliahan kita akhiri sampai disini. Jangan lupa untuk mengerjakan tugas kalian masing\-masing, pengumpulan tugas di minggu depan. Sebelum saya masuk ke dalam kelas, tugas sudah wajib ada di atas meja . Selamat sore”



Wah.. mata kuliah yang cukup menguras otakku. Bagaimana dengan Cillia ya? Aku mengambil Handphone\-ku yang berada di dalam tas,untuk menghubungi Cillia. “Cil, dimana ? baru kelar nih kelas”



“Aku di rumah. Sorry, enggak ngabarin. Perut ku tiba\-tiba mules, mungkin karena kebanyakan makan cabe\-nya Mang Dono,”


Aku ingin tertawa sekarang, doa ku terkabul hahaha..


“Duh duh.. udah ya. Aku mau ke kamar mandi lagi, bye”



“HAHAHAHAHAHA.. Doa ku manjur” dosa gak sih doain temen kayak gitu? Malah beneran kejadian lagi. Lagian siapa suruh juga dia nyebelin, udah di ajakkin ke kelas bareng malah sibuk mandangin wajah Pangeran.



Aku pergi keluar dari kelas yang tidak ku sadari ternyata sudah kosong, padahal masih jam 4. Sebenarnya ada 1 mata kuliah lagi, tapi karena Dosennya tidak hadir, jadinya kami cepat pulang.


Hidupku sedikit membosankan sebenarnya pulang dari kuliah, kembali ke asrama, pergi lagi ke kuliah. Kalau di hari sabtu aku pergi ke toko bunga milikku. Toko bunga itu berada dekat dengan Universitas, jadi aku tidak akan kehabisan ongkos.


Keluargaku tidak kaya seperti Cillia, kami keluarga yang berkecukupan. Aku kuliah disini dengan Beasiswa yang ku dapat, masuk ke universitas ini dengan jurusan yang kuinginkan itu benar\-benar hal luar biasa yang pernah terjadi di dalam hidupku, aku sangat bersyukur.



Aku masuk ke jurusan Pertanian ini, karena ingin meneruskan ladang gandum Kakekku di Switzerland tepatnya berada di kota Interlaken.


Aku hanya ingin membantu Kakek agar Gandumnya dapat terkenal karena kualitasnya yang bagus. Ayah dan Ibu selalu mengajak ku ke sana ketika liburan semester sekolah dulu. Disana sangat mengasyikkan.


Ayah ku seorang Arsitektur, Ibu ku seorang Chef, tapi mereka berdua memiliki hobi menanam berbagai macam bunga, sayur\-sayuran dan buah\-buahan juga berbagai tanaman lainnya. Sejak kecil juga aku suka sekali dengan tumbuh\-tumbuhan.



Aku anak Tunggal di keluargaku, Ibu sempat hamil tapi mengalami keguguran dan dinyatakan dokter bahwa Ibu sudah tidak bisa untuk hamil lagi, karena rahimnya yang lemah. Walaupun aku anak tunggal, aku tidak pernah bermanja diri.



Ah.. aku campuran Korea\-Switzerland, tapi darah Asia lebih kental melekat padaku. Pertama kali aku memasuki sekolah dasar, banyak dari mereka yang mengejek mataku aneh, karena bola mataku berwarna biru—khas Eropa. Tapi lama\-kelamaan aku terbiasa dengan ejekan itu. Menjadi berbeda itu bukanlah hal yang aneh, malah itu yang menjadi daya tarik tersendiri.



Sampai di tahun 1998, Korea Selatan mengalami krisis ekonomi yang mengakibatkan perusahaan Ayah bangkrut dan juga di saat itu juga kami meninggalkan tanah kelahiranku ke Interlaken—tempat Kakek. Ayah, Ibu dan aku bersama\-sama berkerja membantu Kakek untuk menanam dan memanen gandumnya.



Aku tidak melanjutkan sekolahku selama 2 tahun, tetapi Ibu selalu mengajariku dari buku\-buku pengetahuan yang ia punya.


Betapa beruntungnya lagi, ada satu keluarga kaya raya yang datang ke rumah Kakek, mereka ingin membalas budi padaku karena aku telah menyelamatkan Anak laki-laki mereka yang hampir tenggelam di pinggir danau dekat ladang gandum milik Kakek, alhasil aku dapat bersekolah kembali.


Disaat SMA, aku memutuskan untuk tidak membiayai sekolahku, saat itu aku sudah berkerja juga aku menabung uang jajan yang keluarga itu beri padaku.


Aku jadi rindu Ayah dan Ibu, mereka sedang apa ya?



“Hai kaktus\-kaktusku bagaimana hari ini? Apa kalian bertumbuh dengan baik? Oh.. kau juga Daisy , hari ini kau sangat bermekaran, sedang senang ya, Daisy?” Sudah menjadi kebiasaan ku setiap pulang dari kampus untuk berbicara dengan tanaman\-tanaman ini. Mungkin aku terlalu kesepian . bagaimana tidak? Orang yang kusukai bahkan tidak tahu perasaanku.



Beresiko memang jika menyukai orang yang populer di kampus, sudah pasti banyak yang akan mengantri dan aku pasti berada di antrian paling belakang. Entahlah, aku tidak tahu apakah ini hanya rasa suka biasa atau lebih.



Awal aku bertemu dengannya, Ia mengingatkanku kepada seorang anak laki\-laki yang pernah ku selamati dulu. Wajah datarnya, sikap acuhnya, semuanya terlihat sama tapi sikap anak laki\-laki itu tidak separah Kak James. Anak laki\-laki itu masih bisa tersenyum dengan ramah ke semua orang.



Aku jadi merindukan anak laki\-laki itu, semoga dia baik\-baik saja. aku hutang janji dengannya, dan waktu itu aku mengikarinya. Apa aku masih bisa untuk bertemu dengannya ? agar aku tidak selalu merasa bersalah seperti ini.


TBC.