THE LAST

THE LAST
Konflik II



Sore ini Resha, Bagas, dan Raya tengah berada di cafe yang berada tak jauh dari kantor mereka. Sepulang dari kantor mereka memang sering berkumpul di tempat itu hanya untuk ngobrol atau minum coffee.


"Suruh Alvin kesinilah mumpung kita pulang sore ini" kata Bagas setelah mereka duduk di salah satu meja cafe.


Resha dan Rayapun berpandangan.


Sepertinya Bagas sudah menerima Alvin kembali. Meski awalnya dialah orang menolak keras kedatangan Alvin tapi kali ini dia sendiri orang yang meminta untuk mengajak Alvin berkumpul bersama.


"Why? Kenapa pada diem ?" Tanya Bagas yang melihat kedua sahabatnya itu masih cengo.


"Ahh gak. Gue akan telfon dia gue yakin dia jadi mumi seharian karna lumutan dirumah nungguin jomblonya" kata Raya membuyarkan keheranannya dengan Resha.


Rayapun langsung berkutat dengan ponselnya sementara Resha membuka-buka buku menu.


"Hallo Al, dimana?" tanya Raya begitu panggilannya tersambung dengan Alvin.


"..."


"Kesini gih kita di cafe Bluemoon"


"..."


Raya sedikit melirik Resha yang sedang berdebat dengan Bagas entah apa yang diperdebatkan.


"Iya bidadari loe ada disini" jawabnya yang membuat Bagas dan Resha refleks menatapnya.


"..."


"Kesini cepetan !"


"..."


"Cepetan gak pake lama jangan kayak siput okay "


"..."


"Iyee. Bye"


Raya terkekeh sebelum memasukkan ponselnya ke tasnya.


"Siapa yang loe maksud bidadari ?" Tanya Bagas dingin.


"Yang jelas bukan elo" jawab Raya cuek.


"Jangan coba-coba buat comblangin mereka, heoh ? " Bagas memperingati sambil melirik Resha yang terkekeh melihatnya.


Raya memutar bola matanya tanpa berniat menjawab ucapan Bagas yang selalu parno jika ia membahas Alvin yang menanyakan Resha.


"Raya Alleiga" panggil Bagas karna diabaikan.


"Hellooo, Bagas Narendra... loe tuh bukan Davinnya Resha ya. Lagian suka-suka gue dong. Selama janur kuning belum melengkung dua tiga pulau terlampaui " jawa Raya asal.


"Aisshhh tutup mulutmu bodoh !" Gumam Bagas yang masih didengar Raya.


"Apa kau bilang? Siapa yang kau sebut bodoh hem ? Belum tahu kau siapa itu Raya alleiga putri" timpal Raya.


"Cukup-cukup kalian berdua ini membuatku malu saja" tahan Resha sebelum Bagas menimpali balik dua anak ini sudah jadi kebiasaan jika saling mengejek pasti tak akan ada putusnya. Tak mau tahu waktu dan tempat.


Dasar.


Resha tersenyum melihat mereka saling perang dingin itu. Rasanya ia sudah jarang sekali berkumpul dan bercanda seperti ini dengan mereka.


Ia mengedarkan pandangannya ke pintu masuk cafe dilihatnya pria yang tak asing baginya juga tengah menatapnya kini.


Ia tersenyum Reshapun membalas senyuman itu. Terlihat ia berjalan ke meja Resha.


"Aldo, kau sudah pulang.? Bergabunglah bersama kami" Tawar Resha setelah pria itu berada tak jauh dari mejanya.


Aldo mengangguk dan duduk disalah satu kursi yang beberapa menit lalu dipersilahkan oleh Bagas.


"Gue baru pulang kemarin sore, kebetulan kerjaan kelar cepet jadi Davin ngasih gue one freeday "


"Ooh, bukannya Davin pulang hari ini?"


"Iya dia masih ada meeting pagi ini tapi siang ini dia langsung balik kok. Kenapa? Kayaknya udah kangen banget?" Goda Aldo yang sukses membuat Resha salah tingkah.


" Maklum calon pengantin baru. Ehh baru tunangan ding" Bagas menambahi.


Mereka kompak menggoda Resha.


"Eh yaudah kalau gitu kebetulan gue mau ketemu sama temen juga disini, gue duluan ya" pamit Aldo setelah beberapa saat.


"Pacar?" goda Resha balik.


Aldo melambaikan tangannya " Jangan buat gosip" ucapnya sebelum benar-benar pergi.


Tak berapa lama pesanan mereka datang.


" Alvin mana sih kok gak dateng-dateng?" Tanya Resha setelah beberapa saat sambil menyesap Cappuccino hangatnya.


"Iya nih, kemana sih ni anak kebiasaan selalu lamaaaa" Raya membenarkan sambil memeriksa ponselnya barangkali Alvin bingung mencari meja mereka.


From : Alvin


"Meja berapa?"


" Tuh kan beneran bingung jelas-jelas meja kita gak jauh dari pintu masuk " dumel Raya saat membuka pesan itu.


To : Alvin


"22, dekat pintu masuk loe dimana sih,? udah nyampe kan?"


From : Alvin


"Masih otw :D"


"Aishhh, ini anak pengen gue makan" Raya menahan dirinya agar tak mengumpat.


"Dia udah nyampe? "Tanya Resha.


Raya hanya menunjukkan chat di handphonenya kesal.


"Udah berubah jadi sumanto loe?" Cibir Bagas.


"Tutup mulutmu bodoh !" Raya mengikuti ucapan Bagas beberapa saat yang lalu.


Bagas hendak menjitak Raya namun ditahan oleh Resha.


"Mau sampai kapan kalian berantem hem?" Tanya Resha yang berhasil membuat Bagas mendengus.


"Sorry gue lama ya" kata seorang yang baru datang yang tak lain adalah Alvin ia langsung duduk di kursi yang tadi ditempati Aldo.


Raya menoleh kepadanya "Lama bangetttttt liat noh coffee gue udah mau abis" sambil menunjuk gelas kopinya yang tinggal seperempat.


Alvin hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"It' s no problem Al, kita baru setengah jam kok" kata Resha


"Resha kok loe gak dukung gue sih, bilang ke dia kalau kita udah dua jam disini" cetus Raya.


"Sayangnya Resha itu anaknya jujur gak kayak loe" timpal Bagas yang dihadiahi pelototan dari Raya.


Alvin dan Resha tertawa melihat ekspresi Raya yang kesal.


...♡♡♡...


Davin baru saja sampai di bandara Soekarno hatta. Ia dijemput Edgard dan seorang sopir yang menunggu di mobilnya.


"Ed, kayaknya gue gak langsung pulang ke apartemen deh ada beberapa laporan yang harus gue tanda tangani hari ini juga kita bisa ke kantor bentar 'kan?" Tanya Davin sambil berjalan beriringan dengan Edgard.


"Gak istirahat dulu, loe gak jet lag emang?"


"Gapapa sih cuma tanda tangan ini, kasian kalau nanti mereka harus dateng keapartemen gue cuma buat minta tanda tangan"


Edgardpun mengangguk "Yaya.. terserah loe aja Mr. Hardworker"


Davin hanya tersenyum simpul mendengar Edgard yang menjulukinya seperti itu.


Sesampainya di kantor Davin segera meminta disiapkan mobil dinas pribadinya lalu berlalu menuju ruangannya. Ada yang harus ia selesaikan sekarang juga.


...Ia berjalan tergesa begitu ia sampai di koridor ruangannya dan memasuki ruangan yang terlihat begitu classy itu. Sudah ada beberapa map di mejanya....


...Ia melepas jasnya dan duduk di kursinya lalu memeriksa satu persatu isi laporan itu kemudian membubuhkan tanda tangan jika menurutnya ia setuju....


Setengah jam berlalu ia selesai dengan berkas-berkas itu. Ia segera meraih jas dan ponselnya lalu beranjak keluar dari ruangannya.


"Dave loe langsung balik?" tanya Edgard setelah menyerahkan kunci mobil pada Davin.


"Gue ada urusan bentar di luar"


"Perlu diantar?"


Davin menggeleng, "Loe urus yang disini ya sementara gue sama Aldo off"


"Ok, loe tenang aja"


"Gue berangkat" pamit Davin lalu membuka pintu mobil pajero berwarna hitam itu.


"Hati-hati " pesan Edgard yang mendapat anggukan dari Davin setelah itu mobil itupun keluar dari areal kantor megah itu.


Davin melajukan pajero itu menerobos kemacetan kota Jakarta sore itu. Pikirannya penuh oleh banyak hal disamping pekerjaan yang harus ia rampungkan sebelum pertunangannya tapi juga berita yang ada di media sosial hari ini, ditambah lagi kiriman foto tunangannya yang sedang bersama mantan kekasihnya.


Ya, Davin tau soal pertemuan Resha dengan Reno. Ada pesan whatapps masuk padanya yang mengirimkan foto Resha dan Reno meski penampilan Resha berbeda tapi ia jelas mengenalinya. Iapun sudah cek alamat apartement yang juga dikirimkan si pengirim pesan misterius itu dan benar itu apartement milik Reno.


Berita diluarpun juga memberitakan tentang Reno Meraldy yang hiatus selama seminggu terakhir ini dari kantor utamanya padahal ia sedang tidak dalam masa cuti bahkan tak ada satupun karyawannya yang mengetahui kemana Bossnya itu. Dan dua hari ini barulah pimpinan Emerald Corps itu memasuki kantornya kembali.


Davin mencengkeram stir kemudinya keras.


Apa sebenarnya yang Resha berikan pada pria itu hingga pria itu kembali semangat bekerja?


Apa sebenarnya yang terjadi pada mereka berdua?


Kenapa Resha sama sekali tak memberi tahunya tentang pertemuannya dengan Reno?


Sampai terdengar ponselnya berdering ia meliriknya lalu meraih headset bluetooth didasbornya.


"Ya sayang?"


"..."


"Aku udah nyampe ini lagi di jalan"


"..."


"Mau mampir ke kantor dulu, kamu dimana?" dustanya.


"..."


"Satu setengah jam lagi aku ke Apartement kamu ya"


"..."


"Hem.. bye"


Panggilanpun terputus. Ia sengaja tak memberi kabar Resha bahwa ia sudah sampai sejam yang lalu ia hanya ingin menyelesaikan beberapa urusan sekarang.


Davin membelokkan mobilnya memasuki areal kantor Emerald Corp.


Ia tak ingin ribut terlebih dahulu dengan Resha tapi ia ingin mencari tahu lebih dulu dari mantan kekasih calon tunangannya itu.


Setelah memarkirkan mobilnya ia berjalan menuju resepsionis.


"Permisi mbak saya bisa bertemu dengan pak Reno?" Tanya Davin


"Maaf apa sebelumnya bapak sudah membuat janji?" Tanya resepsionis itu.


"Belum, tapi bisakah anda mengatakan padanya jika Davin Regardi ingin bertemu dengannya"


Resepsionis itu sedikit berfikir, "Baiklah saya akan mencoba menghubungi beliau"


Davinpun mengangguk dan resepsionis itu segera memegang handle telepon.


"Mari pak saya antar" ujar wanita itu setelah menutup teleponnya.


Davin pun berjalan beriringan bersama resepsionis itu menuju ke tempat Reno berada.


...♡♡♡...


Resha mengerutkan dahinya sudah pukul 16:30 tapi Davin belum juga mengabarinya.


Apa ia belum sampai?


"Sha, kenapa?" Tanya Alvin yang melihat perubahan diraut wajah Resha.


"Gakpapa. Ini cuma Davin, kok belum kabarin kalau udah nyampe padahal seharusnya sudah setengah jam yang lalu" jawab Resha.


"Coba telfon aja Sha !" Usul Raya.


Resha mengangguk, "Emm kayaknya gue langsung pulang aja deh udah sore juga "


"Gue anter?" Tawar Alvin.


Resha tersenyum "Gausah loe 'kan baru setengah jam disini masak mau balik lagi puas-puasin dulu deh ngumpulnya"


"Ya gak papa, ntar gue bisa balik kesini lagi"


"Gak usah modus" sindir Bagas.


"Siapa yang modus?"


"Jangan bikin kesalahan dua kali"


"Sayangnya gue masih belum move on dari Resha" cetus Alvin dengan gurauannya.


"Aishhh, loe mau tangan gue ini mendarat di muka loe" ancam Bagas.


Resha hanya menggeleng melihat adu mulut dua pemuda itu "Aku pulang ya, Ray pisahin noh tu anak dua malu diliat tetangga"


"Iya Sha biar gue iket ntar mereka berantem muluk dari tadi" ceplos Raya yang berada diantar dua lelaki itu.


Reshapun berlalu dari tiga sahabatnya itu. Ia menghentikan langkahnya begitu keluar dari cafe. Ia meraih ponselnya dan memanggil nomor Davin


"Hallo Dave"


"..."


"Kamu belum nyampe?"


"..."


"Kirain belum, sekarang lagi dimana?"


"..."


"Aku di Cafe Bluemoon nih, tapi udah mau pulang kok"


"..."


"Yaudah kamu hati-hati"


"..."


...♡♡♡...


Davin duduk berhadapan di meja meeting dengan Reno, diruangan ini hanya ada mereka berdua suasana hening sesaat.


"Aku tak ingin berbasa-basi sekarang kau pasti sudah tahu aku akan segera bertunangan dengan Resha." Davin membuka pembicaraan.


Reno mengangguk menunggu apa yang akan diucapkan calon tunangan mantan kekasihnya itu.


"Aku hanya ingin kau mengklarifikasi soal ini" Davin mendorongkan amplop coklat berukuran sedang.


Reno menatap Davin sekilas lalu meraih amplop itu dan membukanya.


Ia menyeringai kecil setelah melihat isi amplop itu.


"Siapa yang memberi ini?" Tanyanya


"Jadi benar Resha menemuimu?"


Reno mengangguk pelan " Udah gue bilang 'kan kalau gue selalu punya tempat di hati Resha"


Davin mendengus, "Impossible" lirihnya


"Loe bilang loe cinta sama dia, loe akan lakuin apapun buat dia loe juga bilang gue cuma bagian dari masa lalu Resha. Tapi..." Reno sedikit menjeda ucapannya dan beranjak dari tempat duduknya ia memegang meja itu dengan kedua tangannya.


Ia sedikit menunduk "Gue rasa gue tahu satu kelemahan loe sekarang, loe belum sepenuhnya percaya sama dia"


Davin menatap Reno tajam begitu pula sebaliknya.


"Apa saya salah Mr. Billionaire?" Tanya Reno tanpa mengubah ekspresinya


Terjadi adu tatap antara dua pemuda itu bisa dirasakan ruangan yang full Ac itu seketika menjadi panas karena suasana yang tak bersahabat itu.


Sampai ponsel Davin berdering membuyarkan adu tatap itu. Davin sedikit menatap Reno yang sudah berdiri menyampinginya sambil memasukkan tangannya ke saku celananya.


"Hem?"


"..." Ekspresi Davin berubah menjadi tegang seketika.


"Loe dimana?"


"..."


"Dia baik-baik aja kan?"


"..."


"Gue kesana sekarang jaga Resha"


Kata Davin lalu berdiri dari kursinya


"Resha diculik" ungkapnya pada Reno yang sebelumnya juga menatapnya sekilas ketika Davin menyebutkan nama Resha.


"APA?"


...●●●...


Resha diculik?


Siapa yang menculiknya?


Dan apa motifnya?


Apa Davin bisa menemukannya?