
Resha dan Bagas berpandangan sesaat lalu memasuki gedung itu.
"Angka apa yang loe masukin?" Tanya Bagas pelan sembari berjalan.
"Anniversary gue sama Reno... dulu" jawab Resha datar, tapi dapat dilihat jika gadis itu memikirkan sesuatu.
Bagas mengangguk hebat juga feeling sahabatnya kali ini berbakat jadi detektif conan.
Setelah beberapa saat langkah Resha berhenti dan sedikit menepi ke tembok agar tak terlihat oleh beberapa orang yang ada disisi kiri tembok itu.
Bagas mengikuti arah pandang Resha.
Tidak salah lagi Davin ada disini. Nafas Resha tidak teratur bisa-bisanya pria itu benar-benar ada disini. Dia ingin menghampirinya tapi di tahan Bagas.
Ada orang-orang Reno disana, itu malah hanya akan membahayakan dirinya sendiri.
Sampai sebuah tangan kekar menarik mereka cepat menjauh dari tempat itu, salah satu tangan itu membekap mulutnya. Sama halnya dengan Bagas dua orang sudah menahannya agar tak membuat keributan.
Resha meronta mencoba melepaskan cekalan orang itu.
"Jangan takut." bisik orang itu ditelinga Resha.
Orang-orang itu membawa mereka ke dalam ruangan yang berada tak jauh dari tempat Davin.
Begitu dilepaskan Bagas segera menarik Resha agar berdiri dibelakangnya.
Bagas mencoba menjaga jarak dengan mereka "Kalian siapa?" tanyanya tegas.
Salah satu dari orang itu membuka masker hitamnya tanpa melepas kacamata hitamnya "Kalian tidak perlu takut dengan kami, kami ada dipihak kalian, kami orang-orangnya Davin" kata pria itu.
"Lalu kenapa kalian membawa kami kemari, kenapa kalian tidak menghentikan Davin, sebenarnya kalian siapa?" Kali Resha yang buka suara.
"Gue Edgard, bodyguard pribadi Davin. Dia yang nyuruh gue buat jagain loe dari orang-orang Reno " kata Edgard pada Resha
Gadis itu mengerutkan keningnya heran "Aku?"
Edgard mengangguk, "Harusnya gue gak buka identitas gue, tapi dalam kondisi seperti ini gue gak punya pilihan lain agar kalian percaya" terangnya sambil menunjukkan kalung dengan inisial RD'Group dan ada nametagnya disana.
Resha menatap kalung itu simbol "RD Group" yang begitu khas Davin pernah menunjukkan padanya dulu ketika ia diajak berkunjung ke kantornya.
"Kalau kalian orang-orang Davin kenapa kalian gak menghentikan dia, kenapa kalian malah ada disini? kenapa kalian tidak melindungi Davin yang jelas-jelas dia sedang berada bersama orang-orang berbahaya itu?" tanya Resha berturut.
"Davin yang nyuruh gue buat jagain loe, harusnya loe gak disini Resha" jawab Edgard.
"Terserah, tapi gue gak bisa diem aja disini sekarang gue harus keluar" Pungkas Resha hendak membuka pintu namun di hadang oleh Edgard.
Resha mendongak menatap Edgard tajam, " Buka pintunya !"
"Gak, kita harus menyusun rencana kalau emang loe mau menghentikan mereka" ujar Edgard.
Resha menghembuskan nafas kesal,
"loe punya rencananya?"
Edgard terdiam, jujur saja dia belum merencanakan apa-apa untuk ini karna ini memang diluar dari yang ia fikirkan, bagaimana mungkin Resha bisa tau soal pertarungan Davin dan Reno.
"3 2 1, gue gak ada waktu buat nunggu ini" Resha segera meraih gagang pintu dan membukanya diikuti Bagas.
Edgard yang sedikit terdorong dari tempatnya mendengus sebal, namun akhirnya menyusul mereka diikuti anak buahnya.
"Apa rencana loe?" Bisik Bagas.
"Gue akan masuk ke ruangan itu, gue gak punya pilihan lain gue harus ngomong menghentikan mereka langsung" Jawab Resha ia masih menatap ke arah ruangan yang dijaga dua orang itu.
Bagas menatap gadis itu tak yakin.
"Gue hanya perlu dua orang itu sedikit menjauh dari pintu masuk" pinta Resha
"Kita yang akan alihin perhatian mereka" seru Edgard yang baru datang.
Bagas dan Reshapun menoleh melihat Edgard yang membawa sebuah kotak.
Ia mengeluarkan sebuah mobil-mobilan dari kotak itu. "Selagi dua penjaga itu teralih perhatiannya loe bisa masuk"
"Loe yakin?" Tanya Bagas.
"Gue gak yakin tapi karna temen loe gak sabaran kita coba aja cara ini seenggaknya mungkin perhatian mereka akan sedikit teralih dengan benda ini." jawab Edgard.
Resha mendengus "manabisa sabar kalau situasi udah kayak gini, kau tau ini menyangkat keselamatan seseorang dan orang itu Davin BOSMU sendiri" kata Resha sambil menekankan kata Bos pada Edgard.
"Kita mulai?" Edgard meminta persetujuan, tak ada gunanya berdebat sekarang dengan gadis itu karena pada dasarnya pasti wanitalah yang selalu benar dan pria selalu salah bukan begitu.
Reshapun mengangguk.
Edgardpun segera menjalankan aksinya. Ia mulai mengatur kemana arah mobil-mobilan itu. Mendekati salah satu penjaga.
Ia mulai sedikit terganggu dengan keberadaan mobil itu sepertinya.
"Aishh, milik siapa ini mengganggu sekali" umpatnya sambil berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati mobil itu namun belum sempat diraihnya mobil-mobilan itu sudah berjalan menghindarinya.
"Bisakah kau diamkan saja" ketus penjaga yang satunya sambil berkacak pinggang.
"Liat itu, sepertinya ada kertasnya" seru penjaga yang lain, penjaga yang satupun mendekati penjaga itu.
Edgardpun menoleh kearah Resha dan Bagas. Keduanyapun mengangguk dan langsung berjalan cepat kearah pintu masuk ruangan yang di tuju.
Mata keduanya terbelalak begitu memasuki ruangan.
Resha terdiam. Pandangannya kabur, seketika hatinya mencelos melihat pemandangan yang ada di sana. Bagaimanapun dia tak akan pernah bisa melihat mereka berdua seperti itu.
Reno tengah duduk dan berbincang dengan Ray sementara,
Davin,
Pria itu terduduk di pinggir lapangan dengan darah segar mengalir di pelipis kirinya, seorang tenaga medis tenga memberikan pertolongan untuknya.
Resha menutup mulut dengan tangannya, dadanya begitu sesak sekarang. Ia hanya menatap pria itu dari jauh rasanya kakinya begitu kaku sekarang untuk mendekatinya. Sampai pandangan mereka bertemu dapat dilihat raut kekagetan di mata Davin. Satu air mata menetes, kedua dan seterusnya. Terlihat Davin hendak berdiri namun ditahan oleh tenaga medis itu.
Resha berbalik tak bisa ia berlama-lama melihat pemandangan itu
"Aku akan tunggu di luar" lirihnya tanpa menunggu persetujuan Bagas yang ada disampingnya ia berjalan keluar ruangan itu.
...●●●...
-Davin side-
Aku menatap sekeliling sebelum benturan terjadi antara aku dan Reno. Kesadaranku hilang beberapa saat namun aku tak sampai pingsan. Sakitnya hilang begitu saja saat aku menatap mata itu, dapat kulihat raut kekhawatiran disana, aku yakin sekarang pasti ia sedang menangis. Aku ingin segera menghampirinya, mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tapi belum sempat aku berdiri Dio assisten medis yang tengah mengobatiku menahanku.
"Selesaikan ini dulu" ucapnya akupun hanya bisa menurut manabisa aku melawannya sekarang.
Aku melihat Reno sudah lebih dulu berlari mengejar gadis Resha.
Tapi kenapa ia malah pergi, apa ia marah sekarang ? Ah, sudah pasti kenapa harus ditanyakan , dia pasti kecewa.
Ya Tuhan, aku tak ingin orang lain membuatnya menangis tapi kenapa malah aku sendiri yang membuatnya menangis.
Resha maafkan aku.
Setelah selesai aku segera mengenakan kaos yang diberikan Aldo dan keluar dari sana. Aku harus segera melihatnya sekarang.
"Jangan sampai gue juga hajar loe juga sekarang. Cepat kejar Resha!" desis Bagas ketika aku berjalan di dekatnya.
Aku tak menanggapinya, dan segera mencari Resha rasanya aku tak bisa tenang sebelum aku menemuinya.
...●●●...
Author POV
Resha berjalan cepat keluar dari gelanggang sampai sebuah tangan kekar menahan tangannya. Ia menghempaskan tangan itu dan berbalik. Nafasnya memburu menatap pria itu adalah Reno.
"Ini Ren, jadi ini kamu sekarang?" tanyanya setelah berbalik.
Reno hanya diam menatapnya sayu,
"Aku gak pernah nyangka kalau kamu akan sepicik ini, mana Reno yang dulu yang gak pernah main kekerasan, kamu sendiri yang bilang sama aku kalau kamu latihan taekwondo bukan untuk membahayakan orang lain, tapi nyatanya sekarang apa?" Air matanya semakin deras.
"Kamu juga pernah bilang sama aku kalau gak akan pernah mukul orang kalau dia gak memulainya, dan itu tadi apa? jawab aku Ren!"
Reno masih terdiam, dia belum pernah melihat gadis itu menangis di depannya. Dan ini pertama kalinya, pertama kalinya juga gadis itu menangis untuk pria lain di depannya.
Resha menelan ludahnya sukar, susah payah ia menahan emosi dan airmatanya yang sudah menumpuk dipelupuk matanya.
"Udah dua kali aku lihat kamu mukul orang, pertama Bagas dan sekarang Davin, aku gak tau yang lain, tapi kalau itu karna aku tolong hentikan"
Reno menggeleng, ia meraih tangan Resha namun ditepisnya. "Udah cukup,"
"Maafin aku" kali ini Reno mulai membuka suara.
"Aku tau ini salah, aku cuma..." Reno menahan kalimatnya
"Aku gak bisa liat kamu sama orang lain, aku udah berusaha tapi aku gak bisa Sha..."
"Tolong ngertiin aku kali ini, selama inj aku ingin kita tetep berhubungan baik sebagai teman, dan aku ingin kamu gak kayak gini lagi aku pengen kamu jadi Reno Meraldy yang dulu tapi kenyataannya kamu... aku kecewa Ren" potong Resha lalu berbalik pergi.
"Bukannya kamu masih ingat semuanya ?" tanya Reno membuat Resha berhenti namun tak berbalik.
"181212, kamu gak akan bisa masuk ke sana kalau kamu udah gak inget itu" lanjut Reno
"Aku yakin kamu gak akan bisa masuk dari pintu utama, semua orang-orang aku udah tau kamu, kecuali pintu belakang, kamu masih ingat itu jalan kita dulu kan? Sayangnya pintu masuk itu udah aku design dengan fingerprint aku dan lock password, dan itu cuma aku yang tau"
Resha masih tak bergeming, jujur saja ia juga tak tau kenapa ia langsung teringat angka itu.
"Kamu gak lupa semuanya 'kan? Apa artinya kamu masih mengingat tentang kita? Apa aku selalu punya tempat di hati kamu?" Tanya Reno berturut-turut.
Resha tak menjawab karna ia sendiripun kini bingung kenapa ia kini mengingat itu.
Apa ia benar-benar tak bisa melupakan setiap hal tentang Reno?
Apa Reno memang selalu punya tempat di hatinya?
Apa debaran itu akan hadir kembali?
Lalu bagaimana dengan Davin ?